Marah merupakan hal yang sangat lumrah terdapat pada semua manusia. Bahkan pada hewan pun memiliki rasa marah. Hanya saja lebih baik jika kemarahan itu bisa kita kendalikan atau dengan kata lain kita mampu menahan kemarahan kita. Karena dengan menahan marah maka kita akan terhindar dari hormon noradrenalin. Hormon noradrenalin adalah senyawa beracun yang bersama-sama hormon adrenalin (hormon yang timbul akibat kecemasan dan ketakutan yang teramat sangat) dapat memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah dan bahkan dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Biasanya orang yang takut dan marah dadanya akan terasa sesak dan nafasnya tersengal-sengat. Itu semua merupakan akibat munculnya dua hormon tersebut.

Maka apabila kita berhasil menahan marah, berarti kita telah menjauhkan diri dari salah satu faktor penyebab penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah. Dan berarti juga kita telah mengeliminir salah satu sebab gagal jantung dan penyakit stroke.

Perlu diketahui juga bahwa bila gagal dalam menahan marah akan berakibat dan beresiko pada :

1. Perbuatan atau tindakan yang tak terkontrol karena kehilangan kesadaran normal
2. Dikucilkan atau dijauhi orang lain
3. Menghilangkan keharmonisan hubungan sosial
4. Mempengaruhi syaraf di otak
5. Rusak dan hancurnya harta benda
6. Membuka pintu bagi syetan untuk mempengaruhi tindakannya.

 

Itulah sebabnya, mengapa Rasulullah melarang kita marah. Seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah SAW, “Berilah saya nasihat.” Rasulullah pun bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus kembali mengulang-ulang permintaannya dan Rasulullah pun tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Begitu pula dengan Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Bukan maksud Rasulullah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Kondisi marah, bisa digambarkan seperti dalam kisah berikut ini,  ada seekor ular memasuki gudang tempat kerja tukang kayu di sore hari, Kebiasaan tukang kayu membiarkan sebagian peralatan kerjanya berserakan tanpa dirapikanya..
ketika ular itu masuk ke dalam gudang tanpa sengaja dia merayap diatas gergaji..

Tajamnya mata gergaji menyebabkan perut si ular terluka, tapi ular beranggapan gergaji itu menyerangnya. Ia pun membalas dengan mematuk gergaji itu berkali-kali. Serangan itu menyebabkan luka parah dibagian mulutnya.

Marah dan putus asa ular berusaha mengerahkan kemampuan, terakhir untuk mengalahkan musuhnya. Ia pun membelit kuat gergaji itu maka tubuhnya pun terluka amat parah dan akhirnya ia pun mati

Dari kisah tersebut dapat diambil pelajaran, bahwanya kadang kala disaat marah, kita begitu ingin melukai orang lain. tapi sesungguhnya tanpa kita sadari yang dilukai adalah diri kita sendiri! Mengapa? Karena perkataan dan perbuatan disaat marah adalah perkataan dan perbuatan yang biasanya akan kita sesali di kemudian hari. 

Menahan marah juga dapat menjadi indikator taqwa seseorang dan bahkan dijamin masuk surga. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Allah berfirman dalam Q.S. Ali Imron ayat 133-134 :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imron : 133-134)

Menahan marah memang tidak mudah, tetapi lebih baik mulailah belajar untuk menahan marah. 

Diolah dari berbagai sumber