Zakat merupakan ibadah yang wajib dijalankan oleh setiap muslim dan muslimah yang telah memenuhi syarat diantaranya adalah muslim, berakal, baligh, dan memiliki harta sendiri dan sudah mencapai nisab. Zakat terbagi menjadi dua macam yaitu zakat nafs (jiwa), atau yang sering kita sebut zakat fitrah dan zakal mal (harta).
Sesuatu dapat disebut mal apabila memenuhi dua syarat yaitu dapat dimiliki, atau disimpan, dihimpun, dan dikuasai. Selain itu dapat diambil manfaatnya sebagaimana lazimnya. Misalnya: uang, rumah, perak, mobil, emas, ternak, hasil pertanian, dan lain sebagainya. Fungsi zakat sendiri adalah untuk mensucikan harta yang kita miliki. Selain itu juga mendidik masyarakat lebih tepatnya mengingatkan masyarakat bahwa apa yang ada di tangan kita bukanlah milik kia seutuhnya. Ada hak orang lain disana.

Setiap harta yang sudah mencapai nisab harus dikeluarkan zakatnya. Yang dimaksud dengan nisab adalah syarat jumlah minimum harta yang dapat dikategorikan sebagai harta wajib zakat. Dengan demikian, batasan nisab hanya diperlukan bagi orang yang sedikit hartanya, untuk mengetahui apakah dirinya telah wajib membayar zakat atau belum. Bila seseorang memiliki emas dan perak dalam jumlah besar, maka ia tidak lagi perlu untuk mengetahui batasan nisab, karena sudah pasti bahwa ia telah wajib membayar zakat.

 

Zakat Fitri

Pada zakat fitri atau lebih sering kita sebut sebagai zakat fitrah dikeluarkan pada akhir bulan Ramadhan dan sampai sebelum sholat Idul fitri. Zakat Fitri dikeluarkan atas orang yang memiliki kelebihan bahan pokok untuk diri sendiri dan untuk orang lain yang menjadi tanggungannya seperti istri, anak, orangtua, dan pembantu. Nilai yang harus dikeluarkan seberat 4 mud atau lebih kurang 3 kg beras atau gandum.

Zakat Emas dan Perak

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan dengan nisab:

Nisab emas, adalah seberat 85 gram atau 20 dinar emas/mitsqal.
Nisab perak, yaitu seberat 595 gram atau 200 dirham perak murni
Kadar zakat yang harus dikeluarkan dari emas dan perak bila telah mencapai nisab adalah atau 2,5 %.
Yang dijadikan batasan nisab emas dan perak di atas adalah emas dan perak murni (24 karat). Bila seseorang memiliki emas yang tidak murni, misalnya emas 18 karat, maka nisabnya harus disesuaikan dengan nisab emas yang murni (24 karat), yaitu dengan cara membandingkan harga jualnya, atau dengan bertanya kepada toko emas atau ahli emas, tentang kadar emas yang ia miliki. Bila kadar emas yang ia miliki telah mencapai nisab, maka ia wajib membayar zakatnya, dan bila belum, maka ia belum berkewajiban untuk membayar zakat.
Orang yang hendak membayar zakat emas atau perak yang ia miliki, maka ia dibolehkan untuk memilih satu dari dua cara berikut:

Membeli emas atau perak sebesar zakat yang harus ia bayarkan, lalu memberikannya langsung kepada yang berhak menerimanya.
Membayarnya dengan uang kertas yang berlaku di negerinya sejumlah harga zakat (emas atau perak) yang harus ia bayarkan pada saat itu.
Misalnya saja jika seseorang memiliki emas seberat 100 gram dan telah berlalu satu haul, maka ia boleh mengeluarkan zakatnya dalam bentuk perhiasan emas seberat 2,5 gram atau mengeluarkan uang seharga emas 2,5 gram tersebut. Bila harga emas di pasaran adalah Rp. 200.000, maka, ia berkewajiban untuk membayarkan uang sejumlah Rp. 500.000,- kepada yang berhak menerima zakat.
Catatan:

Perlu diingat, bahwa harga emas dan perak di pasaran setiap saat mengalami perubahan, sehingga bisa saja ketika membeli, kita membeli tiap 1gram seharga Rp 100.000, dan ketika berlalu satu tahun, harga emas telah berubah menjadi Rp 200.000, atau sebaliknya, pada saat beli 1 gram emas berharga Rp. 200.000,- sedangkan ketika jatuh tempo bayar zakat, harganya turun menjadi Rp 100.000. Maka yang dijadikan pedoman dalam pembayaran zakat adalah harga pada saat membayar zakat, bukan harga pada saat beli.

Zakat Uang Kertas

Pada zaman dahulu, umat manusia menggunakan berbagai macam cara untuk bertransaksi dan bertukar barang, agar dapat memenuhi kebutuhannya. Pada awalnya, kebanyakan dari mereka menggunakan cara barter, yaitu tukar menukar barang. Akan tetapi tatkala mereka menyadari bahwa cara ini kurang praktis, terlebih-lebih bila kebutuhannya dalam skala besar mereka berupaya mencari alternatif lain. Hingga pada akhirnya mereka mendapatkan bahwa emas dan perak, barang berharga yang dapat dijadikan sebagai alat transaksi antara mereka, dan sebagai alat untuk mengukur nilai suatu barang.

Dan beberapa waktu silam, umat manusia kembali merasakan adanya berbagai kendala dengan uang emas dan perak, merekapun kembali berpikir untuk mencari barang lain yang dapat menggantikan peranan uang emas dan perak. Pada akhirnya ditemukanlah uang kertas, dan mulailah umat manusia menggunakannya sebagai alat transaksi dan pengukur nilai barang, menggantikan uang dinar dan dirham.

Berdasarkan hal ini, maka para ulama’ menyatakan bahwa uang kertas yang diberlakukan oleh suatu negara memiliki peranan dan hukum seperti peranan dan hukum uang dinar dan dirham. Dengan demikian berlakulah padanya hukum-hukum riba dan zakat.

Bila demikian halnya, maka bila seseorang memiliki uang kertas yang mencapai harga nishab emas atau perak, ia wajib mengeluarkan zakatnya, yaitu 2,5 % dari total uang yang ia miliki.

Zakat Profesi

Pada zaman sekarang ini, sebagian orang mengadakan zakat baru yang disebut dengan zakat profesi, yaitu bila seorang pegawai negri atau perusahaan yang memiliki gaji besar, maka ia diwajibkan untuk mengeluarkan 2,5 % dari gaji atau penghasilannya. Orang-orang yang menyerukan zakat jenis beralasan: bila seorang petani yang dengan susah payah bercocok tanam harus mengeluarkan zakat, maka seorang pegawai yang kerjanya lebih ringan dan hasilnya lebih besar dari hasil panen petani, lebih layak untuk dikenai kewajiban zakat. Berdasarkan qiyas ini, mereka mewajibkan seorang pegawai untuk mengeluarkan 2,5 % dari gajinya dengan sebutan zakat profesi.

Bila kita mengkaji pendapat ini dengan seksama, maka kita akan dapatkan banyak kejanggalan dan penyelewengan. Berikut sekilas bukti akan kejanggalan dan penyelewengan tersebut:

Orang-orang yang mewajibkan zakat profesi mengqiyaskan (menyamakan) zakat profesi dengan zakat hasil pertanian, tanpa memperdulikan perbedaan antara keduanya. Zakat hasil pertanian adalah (seper sepuluh) dari hasil panen bila pengairannya tanpa memerlukan biaya, dan (seper dua puluh), bila pengairannya membutuhkan biaya. Adapun zakat profesi, maka zakatnya adalah 2,5 %, sehingga qiyas semacam ini adalah qiyas yang benar-benar aneh dan menyeleweng. Seharusnya qiyas yang benar ialah dengan mewajibkan zakat profesi sebesar (seper sepuluh) bagi profesi yang tidak membutuhkan modal, dan (seper dua puluh), tentu ini sangat memberatkan, dan orang-orang yang mengatakan ada zakat profesi tidak akan berani memfatwakan zakat profesi sebesar ini.

Gaji diwujudkan dalam bentuk uang, maka gaji lebih tepat bila diqiyaskan dengan zakat emas dan perak, karena sama-sama sebagai alat jual beli, dan standar nilai barang.

Orang-orang yang memfatwakan zakat profesi telah nyata-nyata melanggar ijma’ para ulama’ selama 14 abad, yaitu dengan memfatwakan wajibnya zakat pada gedung, tanah dan yang serupa.

Gaji bukanlah hal baru dalam kehidupan manusia secara umum dan umat Islam secara khusus, keduanya telah ada sejak zaman dahulu kala. Berikut beberapa buktinya:

Sahabat Umar bin Al Khatthab radliyallaahu ‘anhu pernah menjalankan suatu tugas dari Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam, lalu iapun diberi upah oleh Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam. Pada awalnya, sahabat Umar radliyallaahu ‘anhu menolak upah tersebut, akan tetapi Rasulullah shallallaahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya: “Bila engkau diberi sesuatu tanpa engkau minta, maka makan (ambil) dan sedekahkanlah.” (Riwayat Muslim)

Ini membuktikan bahwa gaji dalam kehidupan umat islam bukanlah suatu hal yang baru, akan tetapi, selama 14 abad lamanya tidak pernah ada satupun ulama’ yang memfatwakan adanya zakat profesi atau gaji. Ini membuktikan bahwa zakat profesi tidak ada, yang ada hanyalah zakat mal, yang harus memenuhi dua syarat, yaitu hartanya mencapai nishab dan telah berlalu satu haul (tahun).

Oleh karena itu ulama’ ahlul ijtihaad yang ada pada zaman kita mengingkari pendapat ini, diantara mereka adalah Syeikh Bin Baz, beliau berkata: “Zakat gaji yang berupa uang, perlu diperinci: Bila gaji telah ia terima, lalu berlalu satu tahun dan telah mencapai satu nishab, maka wajib dizakati. namun bila gajinya kurang dari satu nishab, atau belum berlalu satu tahun, bahkan ia belanjakan sebelumnya, maka tidak wajib di zakati.”

Fatwa serupa juga telah diedarkan oleh Anggota Tetap Komite Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, berikut fatwanya: “Sebagaimana yang telah diketahui bersama bahwa di antara harta yang wajib dizakati adalah emas dan perak (mata uang). Dan diantara syarat wajibnya zakat pada emas dan perak (uang) adalah berlalunya satu tahun sejak kepemilikan uang tersebut. Mengingat hal itu, maka zakat diwajibkan pada gaji pegawai yang berhasil ditabungkan dan telah mencapai satu nishab, baik gaji itu sendiri telah mencapai satu nishab atau dengan digabungkan dengan uangnya yang lain dan telah berlalu satu tahun. Tidak dibenarkan untuk menyamakan gaji dengan hasil bumi; karena persyaratan haul (berlalu satu tahun sejak kepemilikan uang) telah ditetapkan dalam dalil, maka tidak boleh ada qiyas. Berdasarkan itu semua, maka zakat tidak wajib pada tabungan gaji pegawai hingga berlalu satu tahun (haul).”

Zakat Pertanian

Nisabnya adalah 900 kg = 5 wasaq, 1 wasaq = 60 sha', 1 sha' = 3 kg
zakat yang wajib dikeluarkan adalah

10 % bila disiram dengan air hujan
5% bila disiram dengan emnggunakan biaya / beban
waktu mengeluarkan zakat yaitu setiap selesai panen

Zakat Hewan Ternak

Ada tiga jenis hewan ternak yang wajib dizakati, yaitu:

Unta dan berbagai macam jenisnya.
Sapi dan berbagai macam jenisnya, termasuk kerbau.
Kambing dan berbagai macam jenisnya, termasuk kambing kacang (ma’iz) dan domba.
Syarat wajib zakat hewan ternak:

Ternak tersebut ingin diambil susu, ingin dikembangbiakkan dan diambil minyaknya. Jadi, ternak tersebut tidak dipekerjakan untuk membajak sawah, mengairi sawah, memikul barang atau pekerjaan semacamnya. Jika ternak diperlakukan untuk bekerja, maka tidak ada zakat hewan ternak.
Ternak tersebut adalah sa-imah yaitu digembalakan di padang rumput yang mubah selama setahun atau mayoritas bulan dalam setahun[3]. Yang dimaksud padang rumput yang mubah adalah padang rumput yang tumbuh dengan sendirinya atas kehendak Allah dan bukan dari hasil usaha manusia.[4]
Telah mencapai nishob, yaitu kadar minimal dikenai zakat sebagaimana akan dijelaskan dalam tabel. Syarat ini sebagaimana berlaku umum dalam zakat.
Memenuhi syarat haul (bertahan di atas nishob selama setahun
Kambing

40 s/d 120 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor kambing betina
121 s/d 200 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor kambing betina
201 s/d 300 ekor yang wajib dikeluarkan 3 ekor kambing betina
lebih dari 300 ekor setiap 100 ekor, zakatnya 1 ekor kambing betina

Sapi/Kerbau

30-39 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor sapi jantan/betina umur 1 th
40-59 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor sapi betina umur 2 tahun
60-69 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor sapi jantan/betina umur 1 th
70-79 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor sapi jantan/betina umur 1 tahun dan 1 ekor sapi betina umur 2 th
80-89 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor sapi betina umur 2 th
90-99 ekor yang wajib dikeluarkan 3 ekor sapi jantan/betina umur 1 th
100 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor sapi jantan/betina umur 1 th dan 1 ekor sapi betina umur 2 th
lebih dari 100 ekor setiap 30 ekor zakatnya, 1 ekor sapi jantan/betina umur 1 tahun, dan setiap 40 ekor zakatnya 1 ekor sapi betina umur 2 tahun

Onta

5-9 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor kambing
10-14 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor kambing
15-19 ekor yang wajib dikeluarkan 3 ekor kambing
20-24 ekor yang wajib dikeluarkan 4 ekor kambing
25-35 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor bintu makhad (onta betina umur 1 th)
36-45 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor bintu labun (onta betina umur 2 tahun)
46-60 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor hiqqah (onta betina umur 3 th)
61-75 ekor yang wajib dikeluarkan 1 ekor jad'ah (onta betina umur 4 th)
76-90 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor bintu labun (onta betina umur 2 tahun)
91-120 ekor yang wajib dikeluarkan 2 ekor hiqqah (onta betina umur 3 th)
lebih dari 120 ekor setiap 40 ekor zakatnya 1 ekor bintu labun (onta betina umur 2 th). dan setiap 50 ekor, zakatnya 1 ekor hiqqah (onta betina umur 3 tahun)

 

Zakat harta karun/Temuan

Zakat harta karun tidak ada nisabnya, wajib dikeluarkan senilai 20% dan dikeluarkan ketika ditemukan

Diolah dari beberapa sumber