Masyarakat umum mengenal Copernicus sebagai penemu ilmu astronomi modern. Kendati demikian, para ahli sejarah sepakat bahwa sebagian besar teori Copernicus berdasar pada pemikiran Nasirudin Al-Tusi dan Ibnu Shatir.

Teori dan model-model planet Ibnu Shatir secara matematis sangat identik dengan teori dan model-model planet yang diperkenalkan Copernicus yang hidup lebih dari satu abad setelah Ibnu Shatir. Fakta ini jelas mengundang tanya: bagaimana Copernicus memperoleh seluruh elemen informasi yang dilahirkan dari pemikiran Ibnu Shatir tersebut?

Garis transmisi ilmu pengetahuan yang bisa menguak fakta ini dapat diuraikan melalui jalur perputaran informasi di Italia. Saat itu orang-orang Yunani dan latin menggunakan teori-teori Al-Tusi untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya. Pada waktu itulah Copernicus mengulangi penggunaan teori-teori yang sudah diterapkan Al-Tusi dan para pengikutnya.

Copernicus juga mengadopsi secara tegas teori-teori astronomi yang terdapat dalam buku De Revolutionibus karya Al-Zarqali dan Al-Battani. Al-Zarqali lahir pada tahun 1028 M, merumuskan Skema Toledan (Toledan tables) yang terkenal dan sangat mempengaruhi pengembangan teori-teorinya.

Copernicus juga diketahui mengulang sebagian besar Skema Toledan untuk memperkaya khasanah pengetahuan astronominya, termasuk karalog bintang dan skema planet yang disusun Al-Battani.

Al-Battani, Al-Sufi, Al-Biruni, dan Ibnu Yunus dikenal di kalangan Muslim sebagai astronom-astronom berpengaruh. Al-Battani (929 M) dikenal masyarakan Eropa sebagai albategni atau Albatenius yang merupakan pengarang Skema Sabian (Sabian Tables atau Al-Zij Al-Sabi) yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap perkembangan ilmu astronomi baik di kalangan astronomi Muslim maupun Kristen.

Skema ini menyuguhkan orbit matahari dan bulan yang mengarah pada penemuan orbit bulan terhadap matahari. Skema ini pula yang mematahkan kesimpulan Ptolemy bahwa matahari mengelilingi bulan.

Dalam ilmu astronomi modern , orbit bula dan matahari pada Skema Sabian juga mengandung arti bahwa bumi berkeliling dalam orbit berbentuk elips, Al-Battani juga meneliti hitungan pergantian bulan, jarak galaksi dan putaran tahun, prediksi gerhana, dan fenomena paralak yang membawa kita pada gerbang teori relativitas dan era ruang angkasa.

Al-Battani juga dikenal sebagai pionir bidang trionometri. Dia merupakan salah satu di antara orang-orang yang kita kenal sebagai pengguna trionometri pertama kali.

Pada periode yang sama, yahya Ibnu Abi mansour juga menyelesaikan revisi Skema Almagest setelah observasi  mendalam dan rangkaian tes terhadap Skema Mumtahan (skema validasi). Rincian penelitian Abi Mansour ini dipaparkan dalam Konferensi tahunan ke 23 Sejarah Ilmu Pengetahuan Arab yang digelar pada tanggal 23-25 Oktober 2001 di Aleppo, Suriah.

Sekedar menambah contoh, pada era yang sama, pemikir Muslim Abdul Rahman Al-Sufi (903-986 M) juga melakukan sejumlah observasi pada kemungkinan konsistensi gerhana dan pergerakan matahari.

Rangkaian jejak rekam para pemikir Muslim dalam bidang astronomi ini membuktikan pada kita, apapun sejarah ilmu pengetahuan yang ditulis dunia Barat (Yunani dan Latin), tetap tidak merontokkan fakta bahwa pemikir-pemikir Muslim telah lebih dulu menanamkan dasar-dasar ilmu perbintangan jauh sebelum para pemikir Barat mengkodifikasikannya dalam bentuk buku dan catatan-catatan yang rapi.

Sumber: Tabloid Republika