ANAKSALEH.com

Mutiara Hadist

Rasulullah melarang "mencela" Ayam

Seringkali kita melihat ayam dijadikan sebagai obyek perjudian yang dibungkus dalam sabung ayam.  Mungkin bagi sebagian orang yang melakukannya menganggap hal itu bukan masalah sama sekali. Kesenangan dan kepuasan hati melihat ayam jagoannya dapat mengalahkan ayam jagoan milik lawan adalah yang utama. Mereka lupa, bahwa hewan yang mereka adu itu adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tidak boleh diperlakukan semena-mena. Selain itu, ayam pun kini menjadi istilah yang berkonotasi negatif seperti istilah ‘ayam kampus’. Tahukah kita, bahwa Islam sebagai agama yang sempurna, melarang umatnya mencela ciptaan Allah. Jika mencela dan melaknat saja dilarang, apalagi menjadikannya sebagai obyek perjudian sabung ayam. Termasuk pula, menggunakannya sebagai istilah yang buruk atau negatif.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوا الدِّيكَ فَإنَّهُ يُوِقِظُ لِلصَّلاَةِ

“Janganlah kalian mencela ayam jantan. Sesungguhnya dia membangunkan untuk shalat.” (HR Abu Dawud dengan sanad shahih).

Dalam riwayat yang lain,

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما: أن ديكاً صرخ قريباً من رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال رجل: اللهم العنه. فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : مه! كلا، إنَّه يدعوا إلى الصلاة”.اخرجه البزار في مسنده وصححه الألباني وغيره صحيح الترغيب والترهيب 2799

“Dari Abdullah ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma berkata: “Sesungguhnya Ada Ayam Jantan berkokok di dekat Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, lalu ada seorang sahabat yang berucap: “Semoga Allah melaknat Ayam Jantan ini !!”,

Maka Rasulullah menegurnya seraya bersabda: “Mah !!, sekali-kali jangan, sesungguhnya ayam jantan membangunkan seseorang untuk mengerjakan shalat.” (Shahih, HR Al-Bazzar dalam Musnadnya, di shahihkan oleh Al-Albani (Shahih Targhib Wat-Targhib (2799)).
Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Al-Hulaimi,

قال الحليمي يؤخذ منه أن كل من استفيد منه الخير لا ينبغي أن يسب ولا أن يستهان به بل يكرم ويحسن إليه قال وليس معنى قوله فإنه يدعو إلى الصلاة أن يقول بصوته حقيقة صلوا أو حانت الصلاة بل معناه أن العادة جرت بأنه يصرخ عند طلوع الفجر وعند الزوال فطرة فطره الله عليها

Disimpulkan dari hadis ini bahwa semua yang bisa memberikan manfaat kebaikan, tidak selayaknya dicela dan dihina. Sebaliknya, dia dimuliakan dan disikapi dengan baik. Sabda beliau, ‘ayam mengingatkan (orang) untuk shalat’ bukan maksudnya dia bersuara, ‘shalat..shalat..’ atau ‘waktunya shalat…’ namun maknanya bahwa kebiasaan ayam berkokok ketika terbit fajar dan ketika tergelincir matahari. Fitrah yang Allah berikan kepadanya. (Fathul Bari, 6/353).

Berdoa Ketika Mendengar Ayam Berkokok

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan bunyi kokok ayam jantan di waktu malam, sebagai penanda kebaikan, dengan datangnya Malaikat dan kita dianjurkan berdoa. Inilah bagian dari keistimewaan ayam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ، فَإِنَّهَا رَأَتْ مَلَكًا، وَإِذَا سَمِعْتُمْ نَهِيقَ الحِمَارِ فَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِنَّهُ رَأَى شَيْطَانًا

“Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia Allah (berdoalah), karena dia melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar ringkikan keledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari setan, karena dia melihat setan.” (HR. Bukhari 3303 dan Muslim 2729).

Dalam riwayat Ahmad, terdapat keterangan tambahan, ’di malam hari’,

إِذَا سَمِعْتُمْ صِيَاحَ الدِّيَكَةِ مِنَ اللَّيْلِ، فَإِنَّمَا رَأَتْ مَلَكًا، فَسَلُوا اللهَ مِنْ فَضْلِهِ

Apabila kalian mendengar ayam berkokok di malam hari, sesungguhnya dia melihat Malaikat. Karena itu, mintalah kepada Allah karunia-Nya. (HR. Ahmad 8064 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,

وللديك خصيصة ليست لغيره من معرفة الوقت الليلي فإنه يقسط أصواته فيها تقسيطا لا يكاد يتفاوت ويوالي صياحه قبل الفجر وبعده لا يكاد يخطئ سواء أطال الليل أم قصر ومن ثم أفتى بعض الشافعية باعتماد الديك المجرب في الوقت

Ayam jantan memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki binatang lain, yaitu mengetahui perubahan waktu di malam hari. Dia berkokok di waktu yang tepat dan tidak pernah ketinggalan. Dia berkokok sebelum subuh dan sesudah subuh, hampir tidak pernah meleset. Baik malamnya panjang atau pendek. Karena itulah, sebagian syafiiyah memfatwakan untuk mengacu kepada ayam jantan yang sudah terbukti, dalam menentukan waktu. (Fathul Bari, 6/353).

Mengapa Dianjurkan Berdoa? Kita dianjurkan berdoa ketika mendengar ayam berkokok, karena dia melihat Malaikat.

Karena kehadiran makhluk baik ini, kita berharap doa kita dikabulkan. Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan Iyadh,

قال عياض كان السبب فيه رجاء تأمين الملائكة على دعائه واستغفارهم له وشهادتهم له بالإخلاص

Iyadh mengatakan, alasan kita dianjurkan berdoa ketika ayam berkokok adalah mengharapkan ucapan amin dari Malaikat untuk doa kita dan permohonan ampun mereka kepada kita, serta persaksian mereka akan keikhlasan kita. (Fathul Bari, 6/353).

Di sisi lain, ayam jantan juga memiliki perilaku baik yang bisa diambil sebagai pelajaran. Al-Hafidz Ibn Hajar menukil keterangan dari ad-Dawudi,

قال الداودي يتعلم من الديك خمس خصال حسن الصوت والقيام في السحر والغيرة والسخاء وكثرة الجماع

Ad-Dawudi mengatakan, kita bisa belajar dari ayam jantan 5 hal: suaranya yang bagus, bangun di waktu sahur, sifat cemburu, dermawan (suka berbagi), dan sering jimak. (Fathul Bari, 6/353).

Demikian penjelasan singkat ini, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber; Yusuf Mansyur Network