Tausyiah

Wudhu Ketika Sedang Berpuasa

Selama ini mungkin ada pertanyaan yang selalu ada di pikiran kita yang berkaitan dengan wudhu ketika sedang dalam kondisi berpuasa. Kita semua tahu bahwa kesempurnaan wudhu tentunya akan berpengaruh pada sah dan tidaknya shalat kita. Lalu apakah wudhu yang dilakukan pada saat puasa harus sama seperti ketika tidak sedang berpuasa? Apakah harus melakukan kumur dan menghirup air ke dalam hidung juga? Apakah hal tersebut tidak akan membatalkan puasa yang sedang dijalankan? Berikut jawabannya untuk Anda.

Tata cara wudhu orang yang puasa sama dengan tata cara wudhu pada umumnya. Artinya tetap melakukan kumur-kumur, dan menghirup air ke dalam hidung. Hanya saja, tidak boleh terlalu keras, karena dikhawatirkan bisa masuk ke lambung.

Berikut beberapa dalilnya,

Dari Laqith bin Shabrah radhiyallahu 'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

أَسْبِغِ الْوُضُوءَ، وَبَالِغْ فِي الِاسْتِنْشَاقِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ صَائِمًا

Sempurnakanlah wudhu, bersungguh-sungguhlah ketika istisyaq (menghirup air ke dalam hidung), kecuali ketika kamu sedang puasa. (HR. Nasa’i 87, Abu Daud 142, Turmudzi 788 – hadis shahih)

Read more: Wudhu Ketika...

Bulan Ramadhan Merupakan Tanda Kasih Sayang Allah Kepada Kita

Jika Allah Ta’ala memberikan kita kesempatan untuk memasuki bulan suci Ramadhan, maka tentu Allah Ta’ala menghendaki ada kebaikan, berkah dan karunia yang bisa kita petik dari bulan suci ini. Allah Ta’ala menghendaki ada perbaikan pada diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dan bangsa kita. Apakah yang telah kita perbuat selama sebelas bulan yang lalu?. Hari-hari yang kita warnai dengan shalat lima waktu yang kwalitasnya tidak bagus. Hilangnya kekhusyukan, sibuk dengan urusan dunia saat adzan di masjid sudah berkumandang, ketinggalan raka’at shalat berjama’ah di masjid, atau bahkan shalat di rumah dan tidak ikut shalat berjama’ah di masjid.

Hari-hari yang kita warnai dengan kesulitan mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sekali dalam sebulan.

Hari-hari yang kita warnai dengan besarnya belanja untuk kepentingan pribadi dan keluarga, bahkan seringkali untuk perkara yang tidak penting. Di saat yang sama kita kesulitan atau merasa sangat berat, untuk menginfakkan sebagian penghasilan kita untuk kepentingan jalan Allah.

Hari-hari yang kita warnai dengan ketekunan mengikuti acara kantor, acara organisasi, pertemuan bisnis dan seterusnya. Pada saat yang sama kita jarang hadir dalam majilis-majlis ilmu di rumah-rumah Allah.

Hari-hari yang kita lewati dengan tidur lelap sepanjang malam, sehingga setan leluasa mengencingi telinga kita. Hari-hari yang kita tidak bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam yang terakhir dan tidak beristighfar di waktu sahur.

Hari-hari yang kita penuhi dengan kelalaian, kemaksiatan dan kemungkaran. Hari-hari saat kita berkawan akrab dengan setan dan hawa nafsu. Hari-hari di saat mata, telinga, lisan, tangan dan kaki kita terperangkap dalam bujuk rayu setan dan hawa nafsu.

Hari-hari di saat kita menjauhi Allah dan ampunan-Nya. Itulah sebelas bulan yang telah lewat. Allah Ta’ala berkehendak untuk membimbing kita kembali ke jalan-Nya. Allah Ta’ala menghendaki kita bertaubat dan memperbaiki diri. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk kembali bersimpuh di hadapan-Nya dalam taubat yang nashuha. Allah Ta’ala menghendaki kita untuk kembali menaati perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Read more: Bulan Ramadhan...

Ketika Mendapati Flek Saat Puasa

Haid atau menstruasi merupakan proses alami yang dialami wanita setiap bulan, dan ini merupakan kodrat bagi seorang wanita. Walau proses haid itu terjadi setiap bulan, tetapi ada yang mengalami menstruasi tidak lancar setiap bulannya. Yang menjadi pertanyaan kali ini adalah kita semua sudah tahu, ketika wanita mendapati dirinya sedang haid maka wanita tersebut tidak diperbolehkan untuk melakukan ibadah sholat dan puasa. Sehingga ketika dia sedang berpuasa kemudian mendapatkan haid maka puasanya menjadi batal. Tetapi, bagaimana kalau yang keluar bukanlah darah haidh melainkan hanya berupa flek saja apakah membatalkan puasa? Lalu, manakah flek yang termasuk dari haid dan mana flek yang bukan termasuk haid? Berikut penjelasannya untuk Anda terutama untuk para wanita.

Read more: Ketika Mendapati...

6 Hal Sunnah Puasa Ramadhan

Setiap amalan ibadah di bulan Ramadhan bernilai pahala yang berlipat ganda. Nah, Berikut ini adalah beberapa sunnah puasa seperti yang dcontohkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang tentunya bernilai pahala. Simak selengkapnya disini.

1. Mengakhirkan Sahur

Untuk orang yang akan melakukan puasa disunnahkan untuk makan sahur. Al Khottobi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.”

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah." An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Karena dengan makan sahur akan semakin kuat melaksanakan puasa.”

Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab). Dari Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada makan sahur.” At Turbasyti mengatakan, “Perbedaan makan sahur kaum muslimin dengan ahlul kitab adalah Allah Ta’ala membolehkan pada umat Islam untuk makan sahur hingga shubuh, yang sebelumnya hal ini dilarang pula di awal-awal Islam. Bagi ahli kitab dan di masa awal Islam, jika telah tertidur, (ketika bangun) tidak diperkenankan lagi untuk makan sahur. Perbedaan puasa umat Islam (saat ini) yang menyelisihi ahli kitab patut disyukuri karena sungguh ini adalah suatu nikmat."

Sahur ini hendaknya tidak ditinggalkan walaupun hanya dengan seteguk air sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.”

Disunnahkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal ini dapat dilihat dalam hadits berikut. Dari Anas, dari Zaid bin Tsabit, ia berkata, “Kami pernah makan sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian kami pun berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas bertanya pada Zaid, ”Berapa lama jarak antara adzan Shubuh dan sahur kalian?” Zaid menjawab, ”Sekitar membaca 50 ayat”. Dalam riwayat Bukhari dikatakan, “Sekitar membaca 50 atau 60 ayat.”

Ibnu Hajar mengatakan, “Maksud sekitar membaca 50 ayat artinya waktu makan sahur tersebut tidak terlalu lama dan tidak pula terlalu cepat.” Al Qurthubi mengatakan, “Hadits ini adalah dalil bahwa batas makan sahur adalah sebelum terbit fajar.”

Di antara faedah mengakhirkan waktu sahur sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar yaitu akan semakin menguatkan orang yang berpuasa. Ibnu Abi Jamroh berkata, “Seandainya makan sahur diperintahkan di tengah malam, tentu akan berat karena ketika itu masih ada yang tertidur lelap, atau barangkali nantinya akan meninggalkan shalat shubuh atau malah akan begadang di malam hari.”

Bolehkah Makan Sahur Setelah Waktu Imsak (10 Menit Sebelum Adzan Shubuh)?

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdillah bin Baz –pernah menjabat sebagai ketua Al Lajnah Ad Da-imah (Komisi fatwa Saudi Arabia)- pernah ditanya, “Beberapa organisasi dan yayasan membagi-bagikan Jadwal Imsakiyah di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jadwal ini khusus berisi waktu-waktu shalat. Namun dalam jadwal tersebut ditetapkan bahwa waktu imsak (menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah 15 menit sebelum adzan shubuh. Apakah seperti ini memiliki dasar dalam ajaran Islam? “

Syaikh rahimahullah menjawab:

Saya tidak mengetahui adanya dalil tentang penetapan waktu imsak 15 menit sebelum adzan shubuh. Bahkan yang sesuai dengan dalil Al Qur’an dan As Sunnah, imsak (yaitu menahan diri dari makan dan minum, -pen) adalah mulai terbitnya fajar (masuknya waktu shubuh). Dasarnya firman Allah Ta’ala,

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.” (QS. Al Baqarah: 187)

Juga dasarnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Fajar ada dua macam: [Pertama] fajar diharamkan untuk makan dan dihalalkan untuk shalat (yaitu fajar shodiq, fajar masuknya waktu shubuh, -pen) dan [Kedua] fajar yang diharamkan untuk shalat shubuh dan dihalalkan untuk makan (yaitu fajar kadzib, fajar yang muncul sebelum fajar shodiq, -pen).” (Diriwayatakan oleh Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 8024 dalam “Puasa”, Bab “Waktu yang diharamkan untuk makan bagi orang yang berpuasa” dan Ad Daruquthni dalam “Puasa”, Bab “Waktu makan sahur” no. 2154. Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim mengeluarkan hadits ini dan keduanya menshahihkannya sebagaimana terdapat dalam Bulughul Marom)

Dasarnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Bilal biasa mengumandangkan adzan di malam hari. Makan dan minumlah sampai kalian mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum.” (HR. Bukhari no. 623 dalam Adzan, Bab “Adzan sebelum shubuh” dan Muslim no. 1092, dalam Puasa, Bab “Penjelasan bahwa mulainya berpuasa adalah mulai dari terbitnya fajar”). Seorang periwayat hadits ini mengatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang yang buta dan beliau tidaklah mengumandangkan adzan sampai ada yang memberitahukan padanya “Waktu shubuh telah tiba, waktu shubuh telah tiba.”

2. Menyegerakan berbuka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”

Dalam hadits yang lain disebutkan, “Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” Dan inilah yang ditiru oleh Rafidhah (Syi’ah), mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka puasa. Mereka baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita dari kesesatan mereka.

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”

3. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air.

Dalilnya adalah hadits yang disebutkan di atas dari Anas. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

4. Berdo’a ketika berbuka

Perlu diketahui bersama bahwa ketika berbuka puasa adalah salah satu waktu terkabulnya do’a. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terdzolimi.” Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berbuka beliau membaca do’a berikut ini, “Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)”

Adapun do’a berbuka,  “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah).

Read more: 6 Hal Sunnah...