Tausyiah

Amalan Di Bulan Sya'ban Sesuai Sunnah

Ada Apa di Bulan Sya'ban?

Tak terasa saat ini kita telah memasuki bulan sya'ban, bulan antara bulan rajab dan ramadhan.  Bulan Sya’ban merupakan bulan yang penuh kebaikan. Sering kali orang lebih menantikan bulan Ramadhan sehingga lalai untuk beramal sholeh di bulan Sya'ban ini. padahal di bulan sya'ban inilah segala amal ibadah dinaikkan kepada Allah.

Selain merupakan bulan yang penuh kebaikan, tahukah Anda, sebenarnya di bulan Sya'ban ada peristiwa apa saja?

Pada bulan Sya'ban Allah menurunkan ayat 56 dari Surah Al Ahzaab :

"Sesungguhnya Alloh dan para malaikatNya bershalawat untuk Nabi, wahai orang² beriman bershalawatlah untuknya dan bersalamlah dengan sebenar benar salam".

Dalam kitab "Maa Dzaa Fii Sya'ban" "apa yg ada dlm bulan Sya'ban" karya Prof.Dr. Abuya AlHabib Sayyid Muhammad bin Alawi AlMaaliky AlHasany, disebutkan bahwa sebagian Ulama berkata, bulan Sya'ban bulan berShalawat ke atas Baginda Sallallahu Alaihi Wasallam.

Dengan arti kata yang lain, bulan Shalawat dilipat gandakan bagi pencinta²nya.

Di bulan Sya'ban juga terjadi perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka'bah Baitulloh.

Dalam Surah al Baqarah ayat 144 :
“Sering Kami melihat kamu (wahai Muhammad) berulang kali menengadah ke langit, maka Kami benarkan kamu berpaling mengadap kiblat yang kamu sukai, oleh itu hadapkan mukamu ke arah Masjidil Haram (tempat letaknya Ka'bah); Dan di mana saja kamu berada, maka hadaplah mukamu ke arahnya. Sesungghunya orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberikan Al-Kitab (Taurat dan Injil), mereka mengetahui bahwa perkara (berkiblat ke Ka'bah) itu adalah perintah yang benar dari Tuhan mereka dan Alloh tidak sekali-kali lalai akan apa yang mereka lakukan.”

Read more: Amalan Di Bulan...

Hukum Keramas Dan Potong Kuku Di Kala Haid

 Bismillahirahmanirahim,


اللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَعَلى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اللَّهُمَّ بَارِكْ (فِي رِوَايَـةٍ: وَ بَارِكْ) عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى (إِبْرَاهِيْمَ وَ عَلَى) آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Sesungguhnya Islam mengajarkan akan kemuliaan  umat manusia. Sementara memanjangkan kuku, identik dengan binatang. Karena itu, islam melarang umatnya memanjangkan kuku untuk menunjukkan jati diri  sebagai manusia yang tentunya sangat berbeda dengan binatang.

Untuk itulah, bagian dari ajaran para nabi, mereka tidak membiarkan kuku mereka terlalu panjang. Mereka memotong kuku mereka, karena ini yang sesuai fitrah manusia.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْفِطْرَةُ خَمْسٌ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَقَصُّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَنَتْفُ الْآبَاطِ
“Ada lima macam fitrah , yaitu : khitan, mencukur bulu k3maluan, memotong kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari 5891 dan Muslim 258).

Sebagai bentuk penekanan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batas waktu kepada para sahabat, agar kuku mereka tidak dibiarkan panjang.
Sahabat Anas bin Malik mengatakan,
وُقِّتَ لَنَا فِى قَصِّ الشَّارِبِ وَتَقْلِيمِ الأَظْفَارِ وَنَتْفِ الإِبْطِ وَحَلْقِ الْعَانَةِ أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Kami diberi batasan dalam memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu k3maluan, agar tidak tidak dibiarkan lebih dari 40 hari.” (HR. Muslim 258).

Batas yang diberikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sifatnya umum, berlaku untuk semua bagian badan yang dianjurkan untuk dipotong. Hanya saja, jika kuku dibiarkan sampai 40 hari, tentu akan sangat mengerikan. Sehingga untuk kuku, yang menjadi acuan adalah panjangnya. Akan tetapi, semalas-malasnya orang, maksimal kukunya harus dipotong dalam 40 hari.

Imam Nawawi menjelaskan,
وأما التوقيت في تقليم الاظفار فهو معتبر بطولها: فمتى طالت قلمها ويختلف ذلك باختلاف الاشخاص والاحوال: وكذا الضابط في قص الشارب ونتف الابط وحلق العانة:
Batasan waktu memotong kuku, dengan memperhatikan panjangnya kuku tersebut. Ketika telah panjang, segera dipotong. Ini berbeda satu orang dan lainnya, juga dengan melihat kondisi. Aturan ini juga yang menjadi standar dalam menipiskan kumis, mencabut bulu ketiak dan mencabut bulu kemaluan.” (Al-Majmu’, 1/158).

Apakah memelihara kuku hukumnya haram?
Imam Ibnu Utsaimin menegaskan,
تطويل الأظافر مكروه إن لم يكن محرماً ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم وقت في تقليم الأظافر ألا تترك فوق أربعين يوماً
Memanjangkan kuku hukumnya makruh, jika tidak dihukumi haram. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi batas waktu agar tidak membiarkan kuku kita lebih dari 40 hari. (Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 11/131).
Allahu a’lam.

Lantas bagaimana dengan wanita, benarkah wanita yang sedang haid, rambut dan kukunya tidak boleh dipotong? Beredar rumor yang bersumber dari “katanya katanya”, nanti di akhirat rambut berubah menjadi pecut?!

Subhanallah..
Seandainya ada ancaman demikian pasti Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sudah menjelaskannya. Karena perbuatan itu termasuk dosa besar yang diancam dengan siksa berat tertentu di hari kiamat. Namun tidak ditemukan satu dalil pun yang melarangnya dan menerangkan ancamannya.

Read more: Hukum Keramas Dan...

Mendidik Anak Perempuan Menjadi Penghalang Siksa Neraka

Bagi yang mendidik anaknya dengan baik dan menyayangi mereka, terutama anak perempuan, maka akan mendapatkan keutamaan yang besar. Dengan didikan dan kasih sayang bisa mengantarkan orang tuanya masuk surga dan terselamatkan dari siksa neraka.

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَاءَتْنِى امْرَأَةٌ وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا فَسَأَلَتْنِى فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِى شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا فَدَخَلَ عَلَىَّ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فَحَدَّثْتُهُ

حَدِيثَهَا فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « مَنِ ابْتُلِىَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَىْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ »

“Ada seorang wanita masuk ke tempatku dan bersamanya ada dua anak gadisnya. Wanita itu meminta sesuatu. Tetapi aku tidak menemukan sesuatu apa pun di sisiku selain sebiji kurma saja. Lalu aku memberikan padanya.

Kemudian wanita tadi membaginya menjadi dua untuk kedua anaknya itu, sedangkan ia sendiri tidak makan sedikit pun dari kurma tersebut. Setelah itu ia berdiri lalu keluar.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempatku, lalu saya ceritakan hal tadi kepada beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Barangsiapa yang diberi cobaan sesuatu karena anak-anak perempuan seperti itu, lalu ia berbuat baik kepada mereka maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang untuknya dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 5995 dan Muslim no. 2629)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

جَاءَتْنِى مِسْكِينَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمَرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِى كَانَتْ تُرِيدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا فَأَعْجَبَنِى شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِى

صَنَعَتْ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ أَوْ أَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ »

“Saya didatangi oleh seorang wanita miskin yang membawa kedua anak gadisnya. Lalu saya memberikan makanan kepada mereka berupa tiga buah kurma. Wanita itu memberikan setiap sebiji kurma itu kepada kedua anaknya dan sebuah lagi diangkat lagi ke mulutnya. Namun, kedua anaknya itu meminta kurma yang hendak dimakannya tersebut. Kemudian wanita tadi memotong buah kurma yang hendak dimakan itu menjadi dua bagian dan diberikan pada kedua anaknya.

Keadaan wanita itu membuat saya takjub, maka saya beritahukan perihal wanita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan untuk wanita itu masuk surga karena perbuatannya atau akan dibebaskan juga dari siksa neraka.” (HR. Muslim no. 2630)

Read more: Mendidik Anak...

Hikmah Dari Penasyid Tanpa Penglihatan

Setahun lalu ketika bersilaturahim dengan kawan-kawan dari BNI Syariah, saya mendapatkan sebuah hikmah besar dengan bertemu 3 orang penasyid yang Allah berikan cobaan tanpa penglihatan. Kata-kata mereka terpatri jelas dalam ingatan saya, “Kami tak bisa lihat wajah orang tua kami di dunia, tapi kami ingin lihat wajahnya di surga” Ketiga orang bernasyid ini tidak bisa melihat, tapi mungkin syukur mereka jauh melebihi orang-orang yang hidup dengan penglihatan. Ijinkan kali ini saya berbagi soal syukur.

Setiap apapun terjadi dalam hidup saya, saya selalu awali dengan sebuah pertanyaan, apa yang Allah inginkan dibalik ini semua. Karena ketika kita mendapat karunia, kita sering berkata, "ini titipan Allah", namun kenapa kita jarang bertanya, "mengapa Allah titipkan ini pada kita?".
Jujur, saya sering takut karena sulit membedakan antara karunia atau cobaan, namun akhir-akhir ini saya syukuri ketakutan itu, karena ia menjaga karunia.

Ingatlah, Cobaan-cobaa terdahsyat terkadang datang melalui karunia yang kita nikmati, suatu kebodohanlah menggunakan karunia tanpa kehatian-hatian. Kecerdasan, keindahan, paras, dan kekayaan yang didapat tanpa dibungkus kerendahan hati dan rasa syukur adalah dinding penghalang dengan surga. Bukan hanya itu, karunia yang tidak dibungkus oleh rasa syukur akan memberikan kegelisahan, ketidaksenangan, ketidakcukupan, dan menjadi bencana pemiliknya.
Saya tekankan lagi, semua karunia yang tak mendekatkan kita dengan surga adalah bencana, adalah musibah. Jangan sampai Allah cabut karunia kita karena kitra lupa bersyukur, merasa hebat, merasa ujub, merasa pintar, dan lupa diri.

Read more: Hikmah Dari...