Tausyiah

Hukum Model Rambut Qaza

Qaza’ atau menggunduli sebagian rambut kepala (sebagian rambut kepala habis) dan membiarkan rambut yang lain. Pada jaman sekarang,  model rambut seperti ini sangat digemari oleh kaum muda. Bahkan bisa dikatakan tren rambut yang lagi in. Mulai dari kalangan artis hingga orang biasa menganggapnya sebagai model rambut yang keren, sehingga mereka beramai-ramai memakai model seperti ini. Tetapi seperti apa  hukum rambut qaza’ dan rambut Mohawk sebenarnya?

Kita perlu dipahami terlebih dahulu apa itu qaza’.

Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah, qaza’ adalah menggundul (mencukur habis) sebagian rambut kepala dan membiar sebagian rambut yang lain. Di sini ada beberapa model:

  • Mencukur habis secara berurutan, yaitu mencukur bagian samping kanan, lalu bagian samping kiri, bagian depan kepala dan tengkuknya.
  • Mencukur habis bagian tengah dan membiarkan bagian sampingnya.
  • Mencukur bagian sampingnya lalu membiarkan bagian tengahnya. Ibnul Qayyim menyatakan bahwa model ini seperti yang dilakukan oleh orang rendahan.
  • Mencukur bagian depan dan membiarkan yang lain.

Hukum qaza’ adalah makruh. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihat seseorang dalam keadaan rambutnya sebagian gundul, sebagian lainnya dibiarkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarangnya. Beliau bersabda pada orang yang model rambutnya seperti itu, “Cukurlah seluruhnya. Atau biarkanlah seluruhnya.”

Namun jika untuk mengikuti model orang kafir, berarti dihukumi haram. Karena tasyabbuh (mengikuti gaya) orang kafir adalah haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”

Read more: Hukum Model Rambut...

Menjaga Kehormatan Saudara Yang Buang Angin

Dikisahkan, bahwa suatu hari para sahabat sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut diantara mereka, sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut, salah seorang dari mereka berdiri dan berkata, “Barangsiapa yang kentut, silakan bangun”.
Hening, tak seorang pun berdiri.

Ketika datang waktu ‘Isya mereka berkata, “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Orang itulah yang kentut”.
Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya, mungkin malu. Lalu Bilal bangun untuk mengumandangkan adzan. Tapi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu lagi. Lalu para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.
Subhanallah. Sungguh, dalam diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi kita semua.

Kisah tentang menjaga perasaan saudara seiman pun juga terjadi pada seorang ulama, yaitu Syaikh Abdurrahman Hatim bin Alwan. Beliau merupakan salah satu ulama besar di Khurasan pada zamannya. Dikenal dengan Hatim Al A’sham, yang artinya Hatim si tuli.
Suatu ketika ada seorang wanita yang datang menemui beliau. Namun, tanpa sengaja ia kentut dengan suara yang cukup keras. Wanita itu salah tingkah, menahan malu. Lalu syaikh ini pura-pura tuli, dan meminta si wanita mengulangi pertanyaannya. Dengan sikap sang syaikh, wanita itu pun merasa sedikit lega. Ia mengira sang syaikh benar-benar tuli. Lalu mereka berbicara dengan saling meninggikan suara.
Wanita itu hidup selama lima belas tahun setelah kejadian tersebut. Selama itu pula Syaikh Hatim pura-pura tuli. Hingga wanita itu meninggal, ia tak pernah tahu kepura-puraan beliau.

Read more: Menjaga Kehormatan...

Kisah Perjuangan Seorang Ibu Yang Buta

Kisah ini diceritakan oleh saudara kita (seorang mantan TKW) yang pernah bekerja di Makkah. Kisah ini menceritakan sang mantan majikan yang memiliki kekurangan secara fisik, tetapi dapat mengantarkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Dan bagaimana sang anak dapat menghormati dan menyayangi sang bunda. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Setelah hijrah, aku lebih sering mengingat ummi yang di mekkah (mantan majikan) yang kedua matanya diambil pengelihatannya dan semoga digantikan dengan jannah.. Aamin
Beliau ini, wanita yg sangat taat, puasa sunnah semua dijalankan,sholat malam rutin tiap malam,
sholat ba'dia dan qabliya tdk ada yg bolong apalagi wajib, kalau sholat pasti laaaaaama sekali, bisa sampai 1 jam, karena beliau kalau berdoa selalu lama...

Pertama kali saya melihat beliau, tak terfikirkan sedikitpun kalau beliau buta, karena masya Allah hampir semua pekerjaan rumah beliau kerjakan sendiri, dari mulai masak, bersih-bersih, bahkan mencuci kamar mandi. Karena anak-anaknya sudah berumahtangga dan tinggal di rumah mereka masing-masing.

Aku tinggal hanya berdua dengan beliau, karena aku baru datang belum tau ngomong dan belum bisa apa-apa, beliau dengan sabar mengajari aku masak walaupun dengan merabah-rabah..

Read more: Kisah Perjuangan...

Hikmah Meninggalkan Berkata Bohong

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Lukman Hakim, menceritakan pada suatu hari ada seorang lelaki yang telah datang berjumpa dengan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam karena hendak memeluk agama Islam. Sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat, lelaki itu lalu berkata:

"Ya Rasulullah, sebenarnya hamba ini selalu saja berbuat dosa dan selalu kesulitan ketika hendak meninggalkannya."

Maka Rasulullah menjawab,"Maukah engkau berjanji bahwa engkau sanggup meninggalkan berkata bohong?"

"Ya, saya berjanji," jawab lelaki itu singkat. Setelah itu, dia kembali pulang ke rumahnya.

Menurut riwayat, sebelum lelaki itu memeluk agama Islam, dia sangat terkenal sebagai seorang yang jahat. Kegemarannya hanyalah mencuri, berjudi, dan meminum minuman keras. Maka setelah dia memeluk agama Islam, dia berupaya untuk meninggalkan segala keburukan itu. Itulah sebabnya dia meminta nasihat dari Rasulullah Shallallahu 'Alahi Wasallam.

Dalam perjalanan pulangnya menemui Rasulullah, laki-laki itu berkata dalam hati,"Sungguh berat juga aku hendak meninggalkan apa yang dikehendaki oleh Rasulullah."

Read more: Hikmah...