Tausyiah

Benarkah Allah Tidak Pernah Menghukum Kita?

Pada suatu hari ada seorang santri yang bertanya kepada guru nya..

"Guru, Selama ini kita sering kali melakukan dosa dan durhaka kepada Allah سبحانه وتعالى . Tetapi apakah benar bahwa Allah tidak pernah menghukum kita atas semua apa yang sudah kita lakukan?

Maka sang guru pun menjawab

Sebenarnya, tanpa kamu sadari Allah سبحانه وتعالى telah berulangkali menghukummu..

Bukankah ketika dihilangkan nya dari dirimu akan rasa ni'mat bermunajat kepada-Nya adalah merupakan sebuah hukuman?
Tidak ada cobaan yang lebih besar menimpa seseorang dari kerasnya hati...

Sesungguhnya hukuman yang paling besar dan mungkin kamu temui adalah sedikitnya taufik kepada perbuatan baik...

Read more: Benarkah Allah...

Langkah-Langkah Meraih Syafaat Al Qur'an

Allah Sang Maha Pengasih lagi maha Penyayang akan selalu memberikan pertolongan kepada hambaNya. Melalui Al Quran, dengan seizin-Nya, Allah akan memberikan pertolonganNya dalam bentuk syafaat. Melalui AlQUran, bisa menjadi perantara untuk menolong kita dalam mempertanggungjawabkan semua amal kita di hadapan Allah SWT. Lalu, langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan agar kita dapat meraih syafaat AlQuran?

Untuk mendapatkan syafaat Alquran ada beberapa  langkah yang harus kita lakukan. Langkah-langkah ini menjadi bukti interaksi yang baik dengan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari sebagai seorang muslim yang baik. Rasulullah SAW telah bersabda: Bacalah Al-Quran, kelak ia akan datang di Hari Kiamat memberi syafaat kepada para pembacanya.” (HR. Muslim).

Langkah pertama, Senantiasa Membaca Al-Quran. Mau atau tidak, harus dilalui oleh setiap muslim. Seorang muslim wajib untuk bisa membaca Kalam Allah sesuai kaidah Ilmu Tajwid dengan langgam yang benar, tidak menyimpang dan tidak pula mengada-ada.

Kedua, adalah Senantiasa Mendengar Bacaan Al-Quran. Selain bisa membaca, mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran juga menjadi jembatan meraih syafaatnya. Kita bisa mendengarkan secara langsung lewat radio, televisi, atau Mp3 murottal yang biasa diputar di masjid-masjid menjelang waktu shalat.

Read more: Langkah-Langkah...

Letakkan Dunia Di Tangan Bukan Di Hati

Kehidupan zuhud para sahabat Nabi : Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman bin Affan ra, dan Abdurrahman bin Auf ra. Mereka adalah beberapa sahabat yang kaya raya, tetapi tidak mengambil semua harta kekayaannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sebagian besar harta mereka habis untuk dakwah, jihad, dan menolong orang-orang beriman. Mereka adalah tokoh pemimpin dunia yang dunia ada dalam genggamannya, namun tidak tertipu oleh dunia. Bahkan, mereka lebih mementingkan kehidupan akhirat dengan segala kenikmatannya. Abu Bakar berkata, ”Ya Allah, jadikanlah dunia di tangan kami, bukan di hati kami.”

Suatu saat Ibnu Umar mendengar seseorang bertanya, ”Dimana orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan mencintai akhirat?” Lalu Ibnu Umar menunjukkan kuburan Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar, seraya balik bertanya, ”Bukankah kalian bertanya tentang mereka?”

Abu Sulaiman berkata, ”Utsman bin ‘Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah dua gudang harta dari sekian banyak gudang harta Allah yang ada di bumi. Keduanya menginfakkan harta tersebut dalam rangka mentaati Allah, dan bersiap menuju Allah dengan hati dan ilmunya.”

Dengan demikian hanya orang yang berimanlah yang dapat memakmurkan bumi dan memimpin dunia dengan baik, karena mereka tidak menghalalkan segala cara untuk meraihnya.

Demikianlah cara umat Islam memimpin dunia, mulai dari Rasulullah saw., khulafaur rasyidin sampai pemimpin berikutnya.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya“. HR. Bukhari, no. 2652, Muslim, no. 6635.

Read more: Letakkan Dunia Di...

Jangan Hanya Memikirkan Isi Perut!!

Alkisah ada seorang fakir miskin melewati jalan Madinah. Di sepanjang jalan, dia sering melihat orang-orang makan daging.

Diapun merasa sedih karena jarang sekali bisa makan daging. Dia pulang ke rumahnya dengan hati mendongkol.

Sesampai di rumah, istrinya menyuguhkan kedelai rebus.

Dengan hati terpaksa, dia memakan kedelai itu seraya membuang kupasan kulitnya ke luar jendela.

Dia sangat bosan dengan kedelai.

Dia bilang kepada istrinya :

“Bagaimana hidup kita ini...?

Orang-orang makan daging, kita masih makan kedelai.”

Tak lama kemudian, dia keluar ke jalan di pinggir rumahnya.

Alangkah terkejutnya, dia melihat seorang lelaki tua duduk di bawah jendela rumahnya sambil memungut kulit-kulit kedelai yang tadi ia buang dan memakannya seraya bergumam :

ﺍﻟﺤﻤﺪﻟﻠﻪ ﺍﻟﺬﻱ ﺭﺯﻗﻨﻲ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﺣﻮﻝ ﻣﻨﻲ ﻭﻻ ﻗﻮﺓ

“Segala Puji bagi Allah SWT yang telah memberiku rezeki tanpa harus mengeluarkan tenaga.”

Mendengar ucapan lelaki tua itu, dia menitikkan air mata, seraya bergumam:

ﺭﺿﻴﺖ ﻳﺎ ﺭﺏ

“Sejak detik ini, aku rela dengan apapun yang Engkau berikan Yaa Allah...”

*Catatan*

Rejeki itu yang penting mengalir, besar kecil yang penting ada alirannya. Jangan harap mengalir seperti banjir, kalau tak bisa berenang bisa tenggelam.

ﺇﻟﻰ ﻣﺘﻰ ﺃﻧﺖ ﺑﺎﻟﻠﺬﺍﺕ ﻣﺸﻐﻮﻝ #
ﻭﺃﻧﺖ ﻋﻦ ﻛﻞ ﻣﺎ ﻗﺪﻣﺖ ﻣﺴﺌﻮﻝ

“Sampai kapan engkau sibuk dengan kelezatan, sedangkan engkau akan ditanya tentang semua yang kau lakukan.”

» Kalam Sayyidina Ali bin Abi Thalib :

ﻣﻦ ﻛﺎﻧﺖ ﻫﻤّﺘﻪ ﻣﺎ ﻳﺪﺧﻞ ﻓﻲ ﺑﻄﻨﻪ ﻛﺎﻧﺖ ﻗﻴﻤﺘﻪ ﻣﺎ ﻳﺨﺮﺝ ﻣﻨﻪ

“Barang siapa perhatiannya hanya pada apa yang masuk ke perutnya, maka nilai seseorang itu tidak lebih dari apa yang keluar dari perutnya"