Tausyiah

Ikutilah Imam Shalat Tarawih 23 Rakaat Hingga Selesai

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, bulan dimana setiap ibadah yang dilakukan bernilai pahala berlipatganda. Salah satu ibadah yang sangat ditekankan dikerjakan pada bulan Ramadhan, adalah Qiyam Ramadhan atau shalat malam atau shalat tarawih. Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

"Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita tahu keutamaan mengikuti imam shalat malam (shalat tarawih) hingga imam selesai. Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai no. 1605, Tirmidzi no. 806, Ibnu Majah no. 1327, Ahmad dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkan hadits ini. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ no. 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Pada dasarnya tidak ada permasalahan dalam jumlah rakaat shalat tarawih, baik berjumlah 23 rakaat atau 11 rakaat. Dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahman, dia mengabarkan bahwa dia pernah bertanya pada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Bagaimana shalat malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di bulan Ramadhan?”. ‘Aisyah mengatakan,
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah jumlah raka’at dalam shalat malam di bulan Ramadhan dan tidak pula dalam shalat lainnya lebih dari 11 raka’at.” (HR. Bukhari no. 1147 dan Muslim no. 738)

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, beliau menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak 8 raka’at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kami pun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau di situ hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya aku khawatir kalau akhirnya shalat tersebut menjadi wajib bagimu.” (HR. Ath Thabrani, Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa derajat hadits ini hasan. Lihat Shalat At Tarawih, hal. 21).

Permasalahan timbul  ketika kita melaksanakan shalat tarawih dimana imam melaksanakan hingga 23 raka’aat sedangkan kita lebih cenderung pada 11 raka’at. Bagaimana kita menyikapinya, agar ibadah kita tetap bernilai dimata Allah?

Read more: Ikutilah Imam...

Azab Bagi Orang-Orang Yang Lalai Sholat

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya: “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59) Makna Idha’atus Shalat (menyia-nyiakan shalat) menurut sebgian ulama tafsir adalah shalat di luar waktunya dan suka meninggalkan shalat.

Umar bin Abdul Aziz berkata tentang maksud ayat di atas, “(makna,-ter) mereka menyia-nyiakan shalat itu bukan meninggalkannya, tetapi menunda-nunda waktunya.”

Firman Allah Swt yang artinya, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek), yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui “ghayyu“. Kecuali orang-orang bertaubat, beriman dan beramal shaleh, maka mereka akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.”(QS.Maryam:59-60)

Adapun “ghayyu“ adalah lembah yang berada di neraka jahanam, yang amat jauh kedalamannya, sangat busuk rasanya, bagi orang-orang yang melalaikan shalatnya.

Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka wail-lah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS.Al-Maun:4-5)

Firman Allah SWT yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat ALLAH. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Read more: Azab Bagi...

Merasakan Nikmatnya Shalat

Sebuah hadits qudsi yang menyatakan,“Shalat itu dibagi antara Aku dan hamba-Ku. Jika hamba-Ku mengucapkan,‘Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang),’ maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyebut-Ku.’ Jika ia mengucapkan. ‘Alhamdulillahirabbil ‘alamin (Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam),’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’

Jika hamba tersebut mengucapkan, ‘Arrahmanirrahim (Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang),’ maka Allah berfirman, Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku.’

Jika ia mengucapkan, ‘Malikiyaumiddin (Yang Merajai Hari Pembalasan),’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.

‘Jika ia berkata, ‘Iyyaka na’budu (hanya kepada-Mu kami beribadah),’ maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah beribadah kepada-Ku.’

Apabila ia mengucapkan, ‘Wa iyyaka nasta’in (Dan hanya kepada-Mu Kami memohon pertolongan),’ maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Hamba-Kubertawakal kepada-Ku.’Dan dalam riwayat lain, ‘Jika ia berkata, ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in(Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohonpertolongan)’ maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Ini adalah bagian untuk-Ku dan untuk hamba-Ku.’

Dan jika ia mengucapkan, ‘Ihdinash shirathal mustaqim (Tunjukkanlah kami ke jalanyang lurus),’ maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Ini adalah untuk hamba-Ku dan hamba-Ku akan mendapatkan apa yang dimintanya.”‘

Bayangkanlah hakikat yang mulia ini, wahai Akhi, ketika Anda membaca Al-Fatihah. Bayangkanlah di hadapan Anda ada megaphone yang mengeluarkan gema dan suara berkali-kali di lingkungan “Al- Malaul A’la”. Setelah itu Anda mulai bermunajat kepada “Majikan” Anda dengan membaca ayat-ayat kitab Allah subhanahu wa ta’alayang dapat Anda baca dengan mudah. Berusahalah memahami makna sesuai dengan kadar kemampuan Anda, tanpa memaksa-maksakan diri.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Jika manusia melaksanakan shalat dengan benar, maka seluruh kesalahannya dibersihkan. Adapun dosa-dosa kecil, maka akan dibersihkan langsung, karena ia merupakan hak Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun dosa yang tidak bisa dihapuskan kecuali dengan taubat, maka shalat yang benar ini akan memunculkan rasa penyesalan pada diri pelakunya, sehingga ia segera bertaubat. Adapun yang berkaitan dengan hak manusia, yaitu hak yang tidak bisa digugurkan kecuali dengan meminta maaf atau mengembalikan hak, maka jika shalat yang dilakukan benar, niscaya pelakunya bersegera meminta maaf. Allah subhanahu wa ta’ala akan memperlakukan manusia berdasarkan ketulusan hatinya.

Banyak yang mengadu bahwa hati mereka terpecah dan tidak bisa berkonsentrasi mengingat Allah subhanahu wa ta’ala dalam shalat. Satu kaidah penting yang perlu diperhatikan sebagai terapi yang bisa menyembuhkan atau minimal meringankan hal ini, yaitu hendaklah Anda, wahai Akhi, memahami hikmah setiap amal yang dilaksanakan di dalam shalat.

Ketika menghadap kiblat, berusahalah agar sebelum bertakbir bisa mengarahkan cahaya yang keluar dari hati Anda sampai ke Ka’bah. Bayangkanlah bahwa Allahsubhanahu wa ta’ala memandang dan mengawasi Anda. Jika Anda bisa mengkonsentrasikan pikiran ketika itu, Anda akan mampu memegang kendalinya sehingga tidak akan berbelok setelahnya.

Jika Anda telah ruku’, bayangkan seakan-akan Anda tunduk memberikan penghormatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Berbicaralah kepada-Nya dengan ucapan, “Subhana rabbiyal ‘azhim (Mahasuci Tuhanku Yang Mahaagung)” dan dengan ucapan, “Allahumma laka raka’tu wa laka aslamtu wa bika amantu, khasya’a laka sam’i wa bashari wa mukhi wa ‘ayhmi wa ‘ashabi (Ya Allah, kepada-Mu aku patuh, kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, serta kepada-Mu pendengaran, penglihatan, pikiran, tulang, dan urat sarafku tertunduk khusyu’).”

Kemudian Anda mengangkat kepala sampai seluruh anggota badan kembali ke ruas-ruas semula. Kemudian Anda mengucapkan, “Sami ‘allahu liman hamidah, rabbana wa lakal hamdu mil’as samawati wa mil’al ardhi wa mil’a ma syi’ta min syaiin ba’du, ahlats tsana’i wal majdi. Ahaqqu ma qalal ‘abdu wa kulluna laka ‘abd. Allahumma la mani’a lima a’thaita wa la mu’thiya lima mana’ta wa la radda limaqadhaita walayanfa’u dzaljaddi minkaljaddu (Allah mendengar siapa yang memuji-Nya, ya Tuhanku, untuk-Mu-lah segala puji, seisi langit, seisi bumi, dan seisi apa-apa yang Engkau kehendaki setelah itu, Engkau yang berhak dipuji dan diagungkan. Sebenar-benar perkataan yang diucapkan oleh seorang hamba yaitu masing-masing dari kami adalah hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang telah Engkau berikan, tidak ada yang bisa memberikan apa yang telah Engkau halangi, tidak ada yang bisa menolak apa yang telah Engkau tetapkan, dan orang yang mulia, tidak bermanfaat kemuliaannya itu untuk menghalangi (ketetapan)-Mu.)”

Setelah itu Anda bersujud, tersungkur menghormat kepada Allah. Itulah saat Anda paling dekat kepada Allah, Nabi bersabda, “Seorang hamba dalam keadaan paling dekat kepada Tuhannya adalah ketika ia bersujud.”

Di sini Anda bermunajat kepada Tuhan Yang Mahatinggi, “Allahumma laka sajadtu wa bika amantu wa laka aslamtu, sajada wajhiya lillah khalaqahu wa shawwarahu wa syaqqa sam’ahu wa basharahu wa tabarakallahu ahsanul khaliqin (Ya Allah, kepada-Mu aku bersujud, beriman, dan tunduk patuh. Wajahku bersujud kepada Allah Yang telah menciptakan dan membentuknya, serta Yang telah membukakan pendengaran dan penglihatannya, dan Mahasuci Allah sebaik-baik Pencipta).”

Read more: Merasakan...

Menunda Nunda Taubat

Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli berkata: Diantara Tipu Daya Iblis yang paling jitu dalam memperdaya manusia adalah “Menunda-nunda Taubat" Iblis membisikkan pelaku maksiat untuk menunda taubat, masih banyak waktu & jika engkau bertaubat sekarang lalu kembali mengulang dosa maka pasti taubatmu tidak diterima lagi setelah itu. [Lihat: Ar-Riyad An-Naadirah fii Shahiih Ad-Daaril Akhirah, Ta-Liif: Dr. Ahmad Musthafa Mutawalli]

Menunda-nunda taubat adalah perangkap iblis yang paling berkesan agar manusia terhalang dari taubat dan meninggalkan ketaatan. Perangkap syaitan halus, dia tidak menyuruh manusia supaya jangan langsung berbuat baik, tetapi dia membisikkan kepada manusia agar menunggu untuk melakukan kebaikan pada esok, lusa, minggu depan, tahun depan, sehingga akhirnya tiba ajal dan tidak sempat lagi untuk berbuat apa-apa. Firman Allah SWT,

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) lalu berkata: “Bukankah kami dulu bersama-sama dengan kalian?” Orang-orang mukmin menjawab: “Benar, tetapi kalian mencelakakan diri kalian sendiri dan kalian menunggu dan kalian ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kalian telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (Al Hadid: 14)

Berkata Ibnu Abbas ra., yang dimaksudkan dengan firman Allah “dan kalian menunggu” adalah menangguh-nangguh untuk bertaubat, “serta kalian ditipu oleh angan-angan kosong” iaitu dengan menunda-nunda untuk beramal soleh, “sehingga datanglah ketetapan Allah”, iaitu kematian. (Lihat Syu’ab Al-Iman)

Mengenangkan bahaya sikap menunda-nunda, Rasulullah SAW telah mengingatkan kita supaya bersegera mengerjakan kebaikan sepertimana sabda Baginda, “Gunakan lima perkara sebelum datang lima perkara; masa mudamu sebelum masa tua, sihatmu sebelum sakitmu, waktu kaya sebelum miskinmu, waktu lapang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati.” (Sahih. Hadis riwayat Al-Hakim)

Menunda taubat dan amal soleh adalah penyesalan di Hari Kiamat. Firman Allah SWT, “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingati itu baginya. Dia mengatakan: “alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal soleh) untuk hidupku ini.” (Surah Al-Fajr: 23-24)

MENGINGATI MATI AGAR SEGERA BERTAUBAT

Kebanyakan manusia seolah-oleh tahu bila dia akan mati, kerana itu mereka menangguh-nangguh untuk buat baik. “Tunggu lepas raya, aku akan mula buat baik, aku akan tinggalkan perbuatan maksiat apabila masuk Ramadan nanti”, seolah-olah dia telah menyusun jadual kematiannya, seperti dia tahu dia sempat bertaubat dalam masa beberapa tahun lagi.

Firman Allah SWT, “Tiap-tiap umat mempunyai ajal (batas waktu), maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurkannya sesaat pun dan tidak dapat mempercepatkannya.” (Al-A’raf: 34)

“Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya esok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Luqman: 34)

Hakikatnya kematian itu akan datang pada bila-bila masa tanpa kita sangka-sangka. Kematian tidak akan terlewat sedetik pun dan tidak akan cepat sedetik pun kerana ia datang dengan ketentuan Allah SWT dan ilmunya hanya pada Allah SWT.

Al-Daqqaq rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang banyak mengingati mati dimuliakan dengan tiga hal: “Segera bertaubat, hati merasa cukup, dan giat beribadah. Dan barangsiapa yang melupakan kematian diberi hukuman dengan tiga hal; menangguhkan taubat, tidak redha dengan keadaan, dan malas dalam beribadah.” (Al-Tadzkirah fi Ahwal Al-Mauta wa Umur Al-Akhirah, karangan Al-Qurthubi).

Read more: Menunda Nunda Taubat