Imam Al-Hafizh Ibnu Katsir, dalam kitabnya "Al Bidayah Wa An-Nihayah" menuliskan tentang biografi imam Ad-Daarani, dia berkata bahwa "Segala sesuatu memiliki tanda, sedang tanda kehinaan adalah tidak menangis karena takut kepada Allah".

Apabila Allah SWT ingin menghinakan seorang hamba, Allah akan melepas sifat terpuji tersebut darinya dan pada akhirnya hati mereka menjadi keruh dan keras karena banyaknya

penyimpangan dan sikap berpaling yang mereka lakukan. Setelah itu, bagaimana mungkin mereka mampu menangis, mengucurkan air mata taubat, berlaku khusyu' serta takut pada Allah?

Imam Ka'ab Al-Ahbaar berkata : "Jika aku dapat menangis karena takut kepada Allah dan air mataku bercucuran karenanya, hal itu lebih aku suka dari bersedekah emas seberat badanku".

 

Ungkapan bijak seperti itu juga pernah diucapkan oleh Abdullah bin Umar : "Demi Allah sekiranya aku dapat menangis karena Allah SWT dan air mataku mengalir di pipi, hal itu lebih aku suka dari pada bersedekah seribu dinar".

 

Imam An-Nawawy juga pernah berkata: "Menangis ketika membaca Al-Qur'an adalah sifat orang-orang 'arifin (berilmu) dan syi'ar orang - orang shalih".