Kisah tragedi  mina, ketika itu hari masih pagi itu (10 Dzulhijjah),  kami berangkat dari kemah menuju jumroh sekitar jam 7.30 pagi. Jarak antara kemah dengan jumroh sekitar 3,5 kilo lebih. Kami berjalan bersama rombongan sebanyak  25 orang, namun karena padatnya jalan utama Malik Fahd oleh para jamaah haji akhirnya kami terpisah menjadi beberapa kelompok kecil dari 25 orang menjadi 6 orang.

Dari jalan Malik Fahd, petugas keamanan mengalihkan kami menuju kearah jalan 206 yang merupakan jalan alternatif menuju jumroh apabila jalan utama ditutup. Saat itu Kami sedikit kecewa karena perjalanan menjadi semakin lama. Namun bagi kami, demi kelancaran dan kenyamanan, petugas pasti sudah mengatur yg terbaik untuk itu kami ikuti arahan petugas.

Menurut kami, jalanan tidak begitu padat, boleh lah dikatakan ramai lancar. Namun begitu sampai di ujung jalan 206 terlihat kerumunan orang ramai sekali (tanda X di gambar). Dan kepadatan itu hanya terjadi di ujung saja, sepanjang jalan tadi tidak seperti itu. Tidak lama petugas yang mengatur disana mengarahkan untuk putar balik karena jalan ditutup. Otomatis para jamaah haji kecewa, namun dengan tertib para jamaah haji mengikuti arahan petugas untuk berbalik arah dan pergi mengambil jalan alternatif kedua yaitu jalan 204.

Di tengah perjalanan putar balik, kami berinisiatif untuk mengambil jalan tembus melewati perkemahan daripada harus memutar jauh. Kebetulan pintu gerbang salah satu kemah tidak ada penjaganya (biasanya ada satpam yg melarang masuk orang2 selain penghuni kemah). Naasnya, setelah melewati kemah dan sampai di jalan 204 kami langsung disambut dengan jamaah haji yang berjubel.

Awalnya kami menganggap itu hanya keramaian yang wajar, karena memang sudah jam nya ramai. Kami pun menyusup masuk ke tengah keramaian. Satu langkah maju, berhenti, satu langkah lagi, berhenti lagi, begitu terus. Terik matahari yang mulai menyengat, suhu 45° pun tak ketinggalan menyebabkan para jamaah bercucuran keringat. Saya lihat sebelah kanan kiri isinya hanya para jamaah haji berbadan besar-besar, sebagian berkulit hitam sebagian lagi berkulit putih, orang Afrika dan Mesir nampaknya. Kipas dari potongan kardus tak henti-henti kugerakkan untuk mengusir panas, namun tidak seberapa berguna karena hanya angin panas yang menyapa. Dorongan dari belakang yang memaksa maju sudah menjadi biasa. "Shobr.. Shobr.. Suwayya (Sabar.. Sabar.. Pelan-pelan)" teriak jamaah yang terdorong.

Tiba-tiba entah komando darimana, para jamaah yang berada di depan berbalik kebelakang dan berteriak "Balik! Balik! Putar balik kebelakang!". Dorongan belakang para jamaah yang tak sabar dan dorongan depan dari jamaah yang putar balik tak pelak menimbulkan kekacauan. Saya menjulurkan kepala berusaha untuk tetap bisa meraih nafas satu-dua.

Di tengah kekacauan desakan tersebut tiba-tiba terasa dorongan kuat dari depan, yang langsung menyebabkan para jamaah banyak tersungkur kebelakang. Tak ayal banyak jamaah yang terjatuh dan terinjak apalagi para orangtua dan pengguna kursi roda. Meskipun terhuyung-huyung hilang keseimbangan, saya berusaha untuk tidak terjatuh karena begitu terjatuh pasti akan semakin parah terinjak-injak. Teriakan para wanita dan orangtua tak mampu menghentikan kekacauan ini. Semua orang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri, nafsii nafsii. Tak peduli dimana injakan kaki entah di bumi atau anggota badan orang lain. Yang muda saling berlomba memanjat tenda, yang tua hanya pasrah menunggu akankah ajal tiba. Syukur alhamdulillah, saat itu posisi kami dekat dengan pos pemadam. Sehingga kami selamat terdorong masuk ke dalam ruang kosong garasi pos pemadam.

Tak begitu lama situasi mulai tenang dan kekacauan mereda. Namun di jalan terlihat berserakan kain ihrom, payung, tas, sandal, dan peralatan lainnya ibarat seperti sampah bekas sisa banjir. Sebagian jamaah menepi di pinggir jalan, ada pula yang terbaring di tengah jalan, ada yang terlepas seluruh kain ihromnya, ada pula yang terlepas jilbabnya, tak sedikit terlihat merenung di atas tenda, semua terlihat raut ketakutan dan kekalutan di wajah mereka.

Kain ihrom putih ternoda, kursi roda yang ringsek, potongan roti terinjak, hanya itulah yang tersisa. Orang-orang tua yang terbaring lemas dengan muka pucat kesusahan bernapas, tangisan para wanita dan anak kecil, para jamaah yang menjaga anggotanya untuk tetap menjaga asa. Entah kata kesedihan apalagi yang bisa menggambarkan situasi ini.

Tak lama kemudian raungan sirine ambulan dan derap kaki askari datang memecah hiruk pikuk kepanikan. Satu-persatu petugas membopong manusia yang terbujur lemas, entah pingsan ataukah berpulang, yang pasti jumlahnya tidak sedikit. Saat kutanya salah satu askari yang datang dari arah depan "Bagaimana (kondisi) di depan?" "Almaut.. Almaut!" ujarnya sambil berlalu. Bergidik mendengarnya, ternyata kami berada di ambang maut."

Turut berduka atas ‪#‎TragediMina‬, insiden dengan banyak korban yang kembali terulang setelah sekian lama insiden terowongan Mina Al Mu'aishim dahulu.

Banyak isu tidak jelas beredar, namun alangkah beradab kalau kita menunggu pernyataan resmi dari pemerintah Saudi.  Tidak perlu mengikuti informasi media yang tidak dapat dipertanggung jawabkan. Tidak perlu menyebarkan berita yang tidak jelas.

Semoga para korban jamaah haji menjadi syuhada di sisi Nya, meninggal disaat berjihad beribadah kepada Nya.

Keterangan gambar:
-Tanda panah arah menuju jumroh
-Tanda bulat perkiraan TKP

=======

-Ahmad Anshori - Dari grup FORSAMI (Forum Silaturahim Mahasiswa Madinah)