Cobaan dan permasalah dalam negeri yang tak kunjung henti, seakan-akan Rabb menyampaikan pesan:
Sampai dimana kesabaranmu?
Sudah benarkah keimananmu?

Bukan hal yang baru dalam panggung sandiwara dunia ini, kebenaran di cekal, kebenaran tidak disenangi, kebenaran tidak didukung.
Tapi begitulah kenyataannya, setiap kali kebenaran (al-Haqq) di tunjukkan dan diperjuangkan maka akan hilang dan kalahlah kebatilan itu. Begitulah makna "Wa qul Ja-al haqqu wa zahaqal bathil, innal bathila kana zahuuqa".

Itu sebabnya para penegak kebenaran yang mengibarkan bendera Allah dan risalah nabi yang mulia, mereka tidak akan pernah takut, tidak gentar dengan bentuk ancaman sekalipun badai menghadang, karena keyakinannya pada janji Allah 'Azza Wa jalla itu membuat mereka lebih mantap dan tegar hanya untuk meraih ridha Allah.

 

Kalimat suci "Wa Qul Ja-al Haquu" juga dimaknai setiap melihat kebatilan maka kebenaran harus di tunjukkan, artinya kita tidak boleh hanya berserah diri saat melihat kebatilan tanpa memberikan bukti kebenaran (al-Haqq).

Begitulah realita para penyampai kebenaran, mereka tak akan sepi dari diterpa fitnah,cobaan cacian bahkan ancaman.
Memperjuangkan kesyirikan,kemunafikan, pembohongan public bukanlah suatu hal yang mudah, pasti akan banyak yang menentangnya. Tapi simaklah janji Allah Ta'ala ini :

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ [التوبة : 32]

Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. (QS. At-Taubah [9] : 32)

Kejadian serupa pernah terjadi pada sahabat Sa'ad bin Abi Waqash (r.a), Ketika itu, timbul sekelompok golongan dari penduduk Kufah yang mengadakan demostrasi.
Mereka menuduh (fitnah: red) bahwa Saad seorang yang sholat tidak betul dan melaporkan tindak tanduk Saad kepada Khalifah Amirul Mukminin ketika itu iaitu Umar ibn Al-Khattab (r.a).

Juga terdapat gosip yang mengatakan :
" Jika engkau inginkan berita mengenai Saad, ketahuilah, Saad tidak pernah membahagikan dengan rata, tidak adil terhadap rakyatnya dan tidak pernah berperang bersama pasukannya"

Tapi tak sekonyong-konyong Amirul mukminin, Umar al-Khattab mempercayai laporan itu, beliau cross check untuk tabayyun klarifikasi pemberitaan itu.
Dialog singkat pun terjadi, Saad menjelaskan bahwa ia memanjangkan dua rakaat yang awal dan memendekkan dua rakaat yang akhir, kemudian Sa'ad berkata:

"Tidak sedikit pun aku berpaling dari tatacara solat yang diajar oleh Rasulullah s.a.w"

Umar (r.a) menjawab:
" Begitulah prasangkaku terhadapmu wahai Abu Ishaq (gelar bagi Sa'ad)".

Fitnah demi fitnah Abu Sa'adah akhirnya membuat sa'ad bin abi waqash mengadukan kepada Rabbul 'ulaa (Allah Ta'ala) dalam doanya:

"Ya Allah, jika apa yang dikatakannya(Abu Sa'adah) adalah dusta, riya, dan karena ingin dipuji, maka butakanlah matanya, banyakkan anaknya dan jatuhkan dia ke dalam fitnah dan jerat hawa nafsu yang menyesatkan"

Allah memperkenankan doa Saad yang terzhalimi itu. Tak lama kemudian, mata Abu Sa'adah menjadi buta, dia memiliki 10 orang anak perempuan, dan jika mendengar tentang wanita, dia akan berusaha untuk mendatangi wanita tersebut, dan menggodanya. jika dia tergelincir jatuh dia akan selalu berkata

"Aku terkena doa Sa'ad, Si lelaki yang penuh berkah"

Dari uraian diatas kita dapat menyimpulkan bahwa:
1. Tetaplah teguh,tegar dan bersabar dalam menyampaikan kebenaran.
2. Allah akan selalu mengalahkan orang-orang yang berbuat bathil.
3. Berhati-hatilah dengan  doa orang yang di fitnah/di gosip (dizhalimi :red) karena doanya tanpa hijab.
4. Penyesalan selalu datang terakhir, berhati-hatilah dalam menyampaikan dan mendengar berita, priorotaskan Tabayyun (klarifikasi:baca) agar kita tidak ikut menjadi orang yang mem-fitnah.
5. Mendukung kebenaran sama halnya telah menegakkan al-Haqq, begitu juga sebaliknya apabila mendukung kebatilan kita juga termasuk bagian dari mereka.
"Wallahu A'lam bis shawab"

Dari kitab :Bidayah Wan Nihayah
Oleh Alhabib Quraisy Baharun