Hasan dan Husain bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahuanhum adalah dua orang kakak beradik yang saling menyayangi. Mereka selalu bersama-sama dalam segala hal, baik itu belajar, bermain, sampai pergi ke masjid selalu bersama. Pada suatu siang yang cerah kedua cucu Rasulullah saw ini sedang bermain. Mereka tertawa gembira, hingga terdengarlah suara azan. Keduanya bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat. Sebelumnya mereka ingin mengambil wudhu, tetapi mereka terheran-heran melihat seorang kakek tua yang sudah mendahului mengambil air wudhu. Tentu saja kedua anak ini begitu sabar menanti kakek tersebut sambil tetap memperhatikanĀ  cara kakek itu berwudhu.

Semakin lama, pandangan Hasan dan Husain semakin lekat melihat cara kakek itu berwudhu, sebab ternyata wudhu kakek itu sama sekali tidak benar. Urutannya saja tidak beraturan. Hasan dan Husain tahu bahwa wudhu yang tidak benar akan membuat wudhunya tidak sah dan akibatnya shalatnya pun tidak sah. Melihat hal tersebut, kedua anak ini saling berpandangan.

Mereka pun saling berkata,"Bagaimana cara kita memberi tahu kakek itu kalau wudhunya salah?"
"Iya, bukan hanya itu saja, tetapi kita pun harus mengajarkan pula pada kakek itu bagaimana berwudhu yang benar!"

Berdua, Hasan dan Husain berdiskusi kecil namun cepat. Hingga akhirnya, mereka berdua menemukan gagasan yang sangat cemerlang.

Mereka berdua cepat-cepat mencegat kakek itu yang sudah mau memasuki masjid untuk shalat. Mereka menghentikan langkah kakek itu dengan menyapanya, " Assalaamu'alaikum Kakek... maukah kakek membantu Kami?"

"Waalaikum salam anak-anak yang baik, apa yang bisa kakek bantu?"tanya kakek itu.

Hasan dan Husain pun menjelaskan maksud mereka.

"Aku bermaksud berwudhu, begitupun dengan saudaraku. Tapi ia mengatakan bahwa wudhunyalah yang paling benar, padahal aku pun yakin kalau wudhulah yang paling benar. Oleh karena itu, kakek, kami ingin kakek melihat wudhu kami dan mengatakan siapa wudhu dari kami berdua yang paling benar," demikian kata Hasan kepada lelaki tua itu.

"Baiklah, akan kakek perhatikan wudhu kalian berdua,"jawab kakek itu seraya tersenyum.

"Maka, mulailah Hasan kemudian disusul Husain melakukan gerakan wudhu di depan kakek tersebut. Kedua mata kakek itu tidak lepas dari semua gerakan yang dilakukan oleh Hasan dan Husain. Mereka berdua melakukan wudhu dengan sebaik-baiknya, baik caranya maupun urutannya. Sehingga, ketika keduanya telah selesai melakukan wudhu,kakek itu tampak termenung.

"Nah, kakek, bagaimana dengan wudhu kami? Wudhu siapakah yang paling benar, kek?" tanya kedua anak itu bersahut-sahutan.

Dengan suara bergetar menahan haru, lelaki tua itu meraih kedua anak dihadapannya itu dan berkata,"Wudhu kalian berdua benar adanya, wudhulah yang salah."

"BEnarkah wudhu kami berdua benar, Kek?'tanya kedua anak itu meminta penegasan.

"Sang kakek pun menjawabnya dengan mantap, "Ya, sungguh! Wudhu kalian berdua adalah wudhu yang benar, sesuai yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sementara justru wudhukulah yang selama ini telah salah kupraktekkan. Dan aku sungguh-sungguh bersyukur kepada Allah, ada anak-anak baik seperti kalian yang bisa menjelaskan kepadaku bagaimana cara berwudhu dengan benar, karena selama ini aku belum memperhatikan dengan baik."

Maka kakek itu mengulang kembali wudhu, kali dengan cara dan urutan yang benar seperti yang telah dicontohkan oleh Hasan dan Husain. Pada hari itu, semua bergembira. Tidak hanya kakek yang bergembira karena wudhunya sudah benar dan sah, tetapi Hasan dan Husain pun gembira karena telah menjelaskan hukum-hukum agama pada seseorang yang jauh lebih tua usianya tanpa terkesan menggurui orang tersebut.

Disadur dari Majalah Ummi