Suatu kali seorang sopir angkot mengeluh, dikarenakan sudah lama dia muter-muter dalam kota, tetapi tidak ada satupun penumpang yang naik di angkotnya. Tak lama berselang, mendung pun datang tiba-tiba. Kemudian, turunlah hujan dengan derasnya. Melihat kejadian ini, sang sopir angkot semakin menggerutu dan adakalanya sedikit mengumpat. "Sudah sepi tidak dapat penumpang, malah hujan deras... Tuhan benar-benar tidak adil!"

Angkot terus melaju dalam kecepatan sedang, sopir angkot masih berusaha untuk mendapatkan penumpang yang akan naik di angkotnya. Tak jauh dari situ terdapat sekumpulan karyawan pabrik terlihat, berteduh di bawah payung dan  sebagian lainnya berteduh di pos satpam. Mereka melihat dan mencari-cari angkot, ketika melihat sebuah angkot, para karyawan pabrik tersebut mencoba menghentikan angkot tersebut dan mereka semua berhamburan masuk ke dalam angkot. Akhirnya, tak membutuhkan waktu lama, angkot tersebut kini telah penuh dengan karyawan pabrik tadi. Sopir angkot pun dapat tersenyum gembira, dan terucap, "Kalau bukan karena saya giat bekerja mengemudikan angkot ini, tentu saya tidak akan mendapatkan penumpang sebanyak ini. 

Inilah gambaran realita masyarakat saat ini, bukan hanya sopir angkot, tetapi semua manusia mempunyai kecenderungan seperti itu. Kecenderungan mengeluh, tidak sabar dan berbangga diri jika mendapat apa yang dia mau. Jika dilihat dari runtutan kejadian tersebut, seharusnya sopir angkot beristighfar atas keluhannya terhadap Allah dan bersyukur atas rezeki yang sudah diterimanya hari itu, bukannya malah mencela Allah tidak adil, dan mencela hujan. Tetapi disisi lain, Allah menurunkan hujan, dan bahkan memberikan nilai yang kuat dibalik ibrah atau hikmah yang dalam. Seandainya jika Allah tidak menurunkan hujan, mungkin saja para karyawan pabrik tidak gampang ikut angkot yang dikemudikan sopir angkot tersebut. Bisa jadi para karyawan pabrik malah menunggu angkot yang lain, sambil bersantai-santai. Tetapi hujan yang diturunkan oleh Allah, menjadikan mereka lebih cepat untuk naik angkot sopir tersebut dan tidak pilih-pilih angkot yang lainnya. 

Hikmah yang dapat kita ambil sebagai pembelajaran dalam hal ini adalah boleh jadi kita tidak setuju dengan ketentuan dari berbagai takdir Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Tetapi boleh jadi disitulah terdapat hikmah yang terdalam dan memberikan keindahan bagi kita. Kita memang tidak tahu maksud dari takdir kita kedepannya yang akan diberikan oleh Allah kepada kita. Tetapi itulah keindahannya, kita masih bisa menikmatinya dengan menjalani berbagai takdir dengan khusnudzan (berprasangka baik) kepada Allah. Bukankah "Allah itu menurut sesuai prasangka hambanya?" Maka seyogyanya kita berprasangka baik terhadap Allah supaya kita mendapatkan hal yang baik pula dari Allah. 

"Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hambaNya tentulah mereka akan melampau batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendakiNya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hambaNya lagi Maha Melihat. Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmatNya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji." (QS. Asy Syuura: 27-28).

Oleh Abu Khalid