Abu Said Al-Khudri di dalam Shahih Muslim menyebutkan, “Shirath adalah jembatan yang lebih kecil dari rambut dan lebih tajam dari mata pedang. Allah membentangkannya di atas jahannam agar kaum mukminin lewat di atasnya menuju Surga Na’im, juga dilewati kaum musyrikin untuk menuju Neraka Jahannam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Shirath adalah jembatan antara surga dan neraka.” Sekalipun Shirath ini halus dan tajam manusia tetap dapat melewatinya. Karena Allah SWT maha kuasa untuk menjadikan manusia mempu berjalan diatas apapun. Kesulitan untuk melewati Shirath karena kehalusannya atau terluka karena ketajamannya, semua itu tergantung pada kualitas keimanan setiap orang yang melewatinya.

Sungguh pemandangan yang pastinya sangat menakutkan tidak terkira. Pantaslah jika Nabi Muhammad SAW menyatakan, bahwa jika saat menyeberangi jembatan di atas neraka Jahanam ini sedang berlangsung, seseorang tidak akan ingat orang lainnya sebab setiap orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.
Semua manusia akan melewatinya sesuai dengan amalan mereka. Ada yang jatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat. Dalam suatu riwayat mengatakan, bahwa adanya suatu jembatan diatas neraka Jahanam adalah hadist yang artinya berbunyi:
“Maka dibuatlah As Shirath diatas Jahanam, ” Hadist Riwayat Al Bukhori dan Muslim

Pada hari itu, tidak ada yang berbicara, kecuali para rasul. Adapun perkataan para rasul pada hari itu ialah, “Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah!”
Di Neraka Jahannam terdapat pengait-pengait dari besi, seperti duri sa’dan. Ia layaknya duri-duri pengait yang kita kenali di dunia ini, akan tetapi hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala saja yang mengetahui seberapa besarnya. Pengait itu menyambar manusia berdasarkan amal mereka. Di antara mereka ada yang terkait karena amalnya, ada yang tercabik-cabik, selanjutnya ia selamat.

 

Pada hari kiamat itu manusia dikumpulkan, lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menyembah sesuatu maka hendaknya ia mengikutinya.” Lalu, di antara mereka ada yang mengikuti matahari, ada yang mengikuti bulan, dan ada yang mengikuti thaghut. Selanjutnya hanya tinggal tersisa umat Islam, yang di antara mereka ada orang-orang munafik.

Orang-orang munafik berlalu bersama orang-orang mukmin. Lalu Allah mendatangi mereka dan berfirman, “Aku adalah Rabb kalian.” Lalu orang-orang munafik berseru bersama orang-orang mukmin, “Engkau adalah Rabb kami.” Orang-orang munafik mengira bisa mengelabui Allah!
Pada saat demikian itu Allah menurunkan kepada orang-orang yang tertinggal itu satu kegelapan yang pekat, kegelapan yang membuat mereka tidak mampu melihat barang satu langkah pun di hadapan mereka, kecuali bila ada cahaya.

Sebagaimana disebutkan di dalam Shahih Muslim bahwa Aisyah bertanya, “Wahai Rasulullah, di mana umat manusia ketika bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”
Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam bersabda, “Wahai Aisyah, mereka berada di dalam kegelapan sebelum jembatan.” Menurut lafazh Muslim, “Mereka di atas shirath.”

Disebutkan di dalam Musnad Ahmad, yang diriwayatkan oleh Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mas’ud berkata, “Di antara mereka ada yang cahayanya seperti gunung, ada yang cahayanya seperti pohon kurma, ada yang cahayanya setinggi orang yang berdiri, ada yang cahayanya sebesar ibu jarinya, terkadang menyala dan terkadang padam, di antara mereka juga ada yang diselimuti oleh kegelapan dari segala penjuru.”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuha (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama Dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu’.” (At-Tahrim: 8)
“(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.

(Dikatakan kepada meraka), ‘Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar’.” (Al-Hadid: 12)
Ketika kaum munafikin hendak mendekati shirath, Allah mencabut cahaya mereka, atau seperti yang dikatakan oleh Adh-Dhahak, “Cahaya milik orang-orang munafik padam, dengan demikian bisa dibedakan mana orang munafik dan mana orang yang beriman.”

Oleh karena itu, ketika orang beriman melihat cahaya milik orang munafik padam di tengah shirath, kaum mukminin menjadi gentar dan cemas. Inilah makna firman Allah, “… Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim: 8)
Pada saat orang munafik berada di tengah kegelapan yang pekat, melihat orang mukmin yang bertauhid berjalan melewati shirath, lalu orang-orang yang ada di dalam kegelapan ini berseru kepada orang-orang yang memiliki cahaya, “Wahai pemilik cahaya, (tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu), jangan kalian tinggalkan kami di tengah kegelapan yang gulita lagi pekat ini. Tunggulah kami, sehingga kami bisa berjalan di belakang cahaya kalian.”
Ada yang berkata (kepada mereka), “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Ini adalah bentuk tipu daya untuk kaum munafik, sebagaimana dulu mereka menipu Allah di dunia. Mereka mendustakan hukum-hukum Allah, tercampur kedustaan dalam beragama.

Sifat munafiq dihatinya akibat dahulu tidak ada keikhlasan dalam mengikuti Syariat Allah, semasa didunia mengganti petunjuk Allah dengan yang lain, berpaling dari kebenaran, banyak maksiat, serta menyesatkan manusia dari jalan-Nya yaitu Al Qur'an dan Sunnah, karena tipudaya duniawi menghalalkan segala cara, sebagaimana firman-Nya :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا، فَكَيْفَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ ثُمَّ جَاءُوكَ يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ إِنْ أَرَدْنَا إِلا إِحْسَانًا وَتَوْفِيقًا، أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا

Jika dikatakan kepada mereka, “Marilah kalian (tunduk) pada hukum yang telah Allah turunkan dan pada hukum Rasul,” niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. Lalu bagaimanakah jika mereka (orang-orang munafik) ditimpa sesuatu musibah akibat perbuatan tangan mereka sendiri, kemudian mereka datang kepadamu sambil bersumpah, “Demi Allah, kami sekali-kali tidak menghendaki selain penyelesaian yang baik dan perdamaian yang sempurna.” Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu, berpalinglah kamu dari mereka, berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS an-Nisa [4]: 61-63)
Inilah detik-detik ketika Allah berfirman,

“…Dikatakan (kepada mereka), ‘Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).’ Lalu, diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, ‘Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?’ Mereka menjawab, ‘Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu’.” (Al-Hadid: 13-14)

Maka, yang berhasil (lewat) berarti selamat. Ada yang selamat, namun tubuhnya disambar hingga robek dan terputus. Ada yang terkait dan terlempar jatuh ke dalam Jahannam. Hingga bila mereka telah selamat dari neraka, demi Allah kalian tidaklah yang paling hebat dalam menuntut hak kepada Allah daripada (tuntutan) orang-orang beriman kepada Allah untuk saudara mereka yang di neraka (agar dibebaskan darinya).

Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, saudara-saudara kami itu dahulu mengerjakan shalat, puasa, dan beramal serta menunaikan haji bersama kami.’ Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata, ‘Keluarkanlah siapa yang kalian kenali.’

Allah telah mengharamkan muka-muka mereka atas neraka, lalu mereka mengeluarkan penduduk neraka dalam jumlah yang besar, yang telah dibakar hingga betisnya dan lututnya. Lalu mereka berkata, ‘Ya Allah, tidak ada yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan kepada kami.’ Allah pun berfirman, ‘Pergilah dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya ada kebaikan (keimanan) seberat satu dinar, maka keluarkanlah dia (dari neraka)!’

Lalu, mereka pun mengeluarkan penghuni neraka dalam jumlah yang besar, lalu berkata, ‘Ya Allah, tidak ada yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan kepada kami.’ Allah berkata lagi, ‘Pergilah dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya ada keimanan seberat setengah dinar, maka keluarkanlah!’
Mereka lalu mengeluarkan jumlah yang besar dan berkata, ‘Ya Allah tidak ada yang tersisa dari mereka yang Engkau perintahkan kepada kami.’ Allah berkata kembali, ‘Pergilah dan siapa yang kalian dapati di dalam hatinya ada keimanan seberat dzarrah, maka keluarkanlah!’

Mereka pun mengeluarkan jumlah yang besar. Kemudian berkata, ‘Ya Allah, kami tidak meninggalkan di dalamnya seorang pun yang memiliki kebaikan’.”
Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Bila kalian tidak mempercayaiku berkenaan dengan hadits ini, silakan membaca ayat berikut bila kalian berkenan:
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (An-Nisa’: 40)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Para malaikat telah memberi syafaat, begitu pun para nabi dan orang-orang mukmin.’ Lalu, Dia meraup satu genggaman dari penghuni neraka, Dia mengeluarkan satu kaum yang sedikit melakukan kebaikan, iman yang kecil sekali. Mereka telah menjadi arang. Allah melemparkan mereka ke salah satu sungai di surga, yang disebut sungai kehidupan.

Mereka pun keluar seperti tumbuhnya biji-bijian di tanah liat pinggir aliran air. Tidakkah kalian melihat tumbuhan dari biji-bijian ini? Ia merambat di bebatuan atau pepohonan, yang mendapat sinar matahari berwarna kuning atau merah, yang berada di tempat teduh berwarna putih. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, seakan-akan engkau dulu pernah menggembala kambing.’

Rasulullah melanjutkan, ‘Lalu mereka keluar seperti mutiara, di leher mereka ada cincin. Penghuni surga mengenal mereka sebagai orang-orang yang dibebaskan oleh Ar-Rahman, mereka dimasukkan ke dalam surga tanpa ada amal yang pernah mereka kerjakan, tanpa ada kebaikan yang pernah mereka lakukan.
Allah berfirman, ‘Masuklah kalian ke dalam surga, apa yang kalian lihat itu menjadi milik kalian.’ Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, Engkau telah memberi kami sesuatu yang tidak Engkau berikan kepada seorang pun di semesta ini.’

Allah berfirman, `Kalian masih akan mendapatkan sesuatu dari-Ku yang lebih baik dari ini.’ Mereka berkata, ‘Wahai Rabb kami, adakah sesuatu yang lebih baik dari yang demikian ini?’ Allah berfirman, ‘Ridha-Ku, Aku tidak akan murka kepada kalian setelah ini selamanya’.” (HR Bukhari, Muslim, An-Nasa’i)

Image credit: log.viva.co.id