Pernah  suatu hari, setelah menyembelih seekor kambing, Rasulullah memerintahkan kepada Aisyah istri beliau, untuk memasak daging kambing itu dan membagikannya kepada para tetangga. Kemudian, setelah beberapa lama, beliau bertanya kepada Aisyah: “Apakah telah Kaubagikan daging kambing itu kepada para tetangga?” Aisyah menjawab: “Sudah, ya Rasul. Tinggal pahanya saja!” Beliau berkata: “Aisyah, pahanya yang habis, sedangkan yang tinggal adalah yang telah Kaubagikan!”

Maksud Nabi, justru harta yang telah disedekahkan itulah yang sebenarnya menjadi milik manusia, karena ia akan memperoleh pahalanya nanti di akhirat. Sedangkan harta yang diper-gunakan manusia untuk dirinya sendiri akan habis begitu saja. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat an-Nahl ayat 96:

mā `indakum yanfadu wa mā `indallāhi bāq wa lanajziyannal lazīna shabarū ajrahum bi’ahsani mā kānū ya`malūn.

“Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa harta dunia yang kita miliki ini tidak kekal, ada batas waktu di mana ia akan lenyap dan musnah. Sedangkan jika kita sedekahkan dan kita amalkan di jalan yang diridai Allah, maka kita akan memperoleh pahala dari Allah, dan pahala itu akan kekal abadi di sisi Allah. Orang yang sabar dalam memenuhi janjinya kepada Allah, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, akan diberi pahala yang lebih baik daripada apa yang ia lakukan itu.

Sedekah bukan hanya menghasilkan manfaat ukhrawi, berupa pahala di akhirat, tetapi juga banyak manfaat duniawinya, baik bagi orang-orang yang menerimanya maupun bagi orang-orang yang memberikannya. Bagi penerima, yang biasanya adalah fakir miskin atau kelompok du`afa’, harta sedekah itu akan sangat berarti dalam mengatasi beban ekonomi yang menghimpit mereka dari waktu ke waktu. Sedangkan bagi pemberi, sedekah akan menjadi senjata yang ampuh dalam mengikis sifat-sifat negatif yang ada di dalam dirinya.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam at-Turmudzi dan Ahmad, dikisahkan bahwa pada saat Allah menciptakan bumi, bumi bergetar. Lalu Allah ciptakan gunung. Berkat kekuatan yang telah diberikan Allah kepada gunung, ternyata bumi pun terdiam. Karena merasa heran menyaksikan penciptaan gunung tersebut, para Malaikat bertanya: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada gunung?" Allah menjawab: "Ada, yaitu besi!" Mereka bertanya lagi: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada besi?" Allah menjawab: "Ada, yaitu api!" Kemudian mereka bertanya lagi: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada api?" Allah menjawab: "Ada, yaitu air!" Para Malaikat kembali bertanya: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada air?" “Ada, yaitu angin!” Jawab Allah. Mereka bertanya lagi: "Wahai Tuhan Kami, apakah ada ciptaan-Mu yang lain yang lebih kuat daripada itu semua?" Allah menjawab: "Ada, yaitu amal anak Adam, yang tangan kanannya mengeluarkan sedekah sedangkan tangan kirinya tidak tahu!”

Hadis ini menjelaskan bahwa sedekah yang dikeluarkan dengan penuh keikhlasan, yang diumpamakan Nabi dengan “tangan kanannya mengeluarkan sedekah sedangkan tangan kirinya tidak tahu”, mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat. Kedahsyatan sedekah ini bukan hanya mampu mengalahkan kekuatan yang ada pada gunung, besi, api, air dan angin, sebagaimana yang ditamsilkan Nabi, tetapi juga sifat-sifat negatif seperti kikir, tamak, angkuh, ria, gila pujian dan lain-lain.

Harta yang menjadi milik manusia sebenarnya ada 3 macam, yaitu makanan atau minuman yang ia makan atau minum sampai habis, pakaian yang ia pakai hingga lusuh atau rusak, dan apa yang ia sedekahkan.

Makanan dan minuman yang habis diminum atau dimakan sudah pasti menjadi miliknya, karena ia telah menikmatinya dan telah menjadi darah dagingnya. Tetapi makanan dan minuman yang masih tersisa belum tentu menjadi miliknya. Bisa saja ia menyisakan dan menaruhnya di suatu tempat, tetapi siapa tahu kalau itu justru akan menjadi santapan yang lezat bagi orang lain atau makhluk lain seperti semut, kucing dan tikus.

Begitu pula dengan pakaian, termasuk kendaraan dan yang sejenisnya, yang ia kenakan sampai lusuh dan rusak, sudah jelas kepuasan yang ia peroleh darinya. Tetapi pakaian yang masih baik dan bagus belum tentu menjadi miliknya, dan mungkin saja tak dapat ia nikmati, karena hilang, rusak atau ternoda sebelum sempat dipakai.

Harta yang dimiliki pun demikian. Harta yang habis disedekahkan akan menjadi milik manusia, sedangkan yang tersisa belum tentu menjadi miliknya. Karena mungkin saja harta itu akan musnah sebelum sempat dinikmati, baik karena bangkrut, dicuri orang, terbakar, atau ada sebab lain yang mempercepat kemusnahannya. Bahkan, ketika ajal telah menjemputnya, bisa saja harta miliknya akan menjadi rebutan para ahli warisnya.

Ketika di padang Mahsyar setiap orang menunggu giliran dirinya diadili serta timbangan kebaikan dan keburukannya diperhitungkan, maka semua orang bakal merasakan panasnya matahari di atas kepala masing-masing. Namun orang-orang yang bersedekah bakal memperoleh naungan dari matahari karena sedekahnya itu hingga hukuman alias vonis ditetapkan di antara manusia.

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول :

كُلُّ امْرِئٍ فِي ظلِّ صَدَقَتِهِ حَتَّى يُفْصَلَ بَيْنَ النَاسِ ، أو قال :

حَتَّى يُحْكَمَ بَيْنَ النَّاسِ قال يزيد :

فَكَانَ أَبُو الخَيْرِ لَا يُخْطِئُهُ يَومٌ إلَّا تَصَدَّقَ مِنْهُ بِشَيْءٍ ،

أَوْ كَعْكَةً أَوْ بَصَلَةً أوْ كَذا

“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari Kiamat) hingga diputuskan di antara manusia atau ia berkata: “Ditetapkan hukuman di antara manusia.” Yazid berkata: ”Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah padanya dengan sesuatu, walaupun hanya sepotong kueh atau bawang merah atau seperti ini.” (HR Al-Baihaqi – Al-Hakim – Ibnu Khuzaimah)

Dalam hadits riwayat Imam Ahmad Nabi Muhammad dengan jelas dan tegas menyatakan sebagai berikut:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

Bersabda Rasulullah saw: “Naungan orang beriman di hari Kiamat adalah sedekahnya.” (HR Ahmad)

Saudaraku, marilah kita rajin bersedekah agar memperoleh naungan di hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah.