Kisah ini diceritakan oleh saudara kita (seorang mantan TKW) yang pernah bekerja di Makkah. Kisah ini menceritakan sang mantan majikan yang memiliki kekurangan secara fisik, tetapi dapat mengantarkan anak-anaknya menjadi orang yang sukses. Dan bagaimana sang anak dapat menghormati dan menyayangi sang bunda. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua.

Setelah hijrah, aku lebih sering mengingat ummi yang di mekkah (mantan majikan) yang kedua matanya diambil pengelihatannya dan semoga digantikan dengan jannah.. Aamin
Beliau ini, wanita yg sangat taat, puasa sunnah semua dijalankan,sholat malam rutin tiap malam,
sholat ba'dia dan qabliya tdk ada yg bolong apalagi wajib, kalau sholat pasti laaaaaama sekali, bisa sampai 1 jam, karena beliau kalau berdoa selalu lama...

Pertama kali saya melihat beliau, tak terfikirkan sedikitpun kalau beliau buta, karena masya Allah hampir semua pekerjaan rumah beliau kerjakan sendiri, dari mulai masak, bersih-bersih, bahkan mencuci kamar mandi. Karena anak-anaknya sudah berumahtangga dan tinggal di rumah mereka masing-masing.

Aku tinggal hanya berdua dengan beliau, karena aku baru datang belum tau ngomong dan belum bisa apa-apa, beliau dengan sabar mengajari aku masak walaupun dengan merabah-rabah..

Suatu ketika dia bertanya padaku " Ya binti, ini uang berapa? sambil ngeluarin selembar uang kertas yg nominalnya 5 Real, Aku jawab " 5 Real ummi,... toyib wa hadza kam? nanya lagi ke uang berikutnya, dalam hati saya baru saadar kalau umi buta.

Lalu saya mencari waktu kosong sambil memijat kaki beliau, dan memulai diri untuk bertanya, Ummi,... sejak kapan umi tidak melihat? ...
Beliau terdiam sebentar, lalu tersenyum.

Berkatalah beliau sambil telunjuknya di angkat ke langit, Alhamdulillah askur alallah, yang membuat mata saya buta agar saya tidak melihat yang haram, agar saya lebih bersyukur dengan nikmat yang lainnya, saya masih punya badan yang sehat, kaki yang sehat dan tangan yang masih bisa saya gerakkan untuk menggelar sajadah sendiri.. ( kala itu saya seperti trtampar dengan kata-katanya). lalu beliau pun melanjutkan ceritanya,
Dulu waktu masih gadis mataku baik-baik saja, pada zaman aku sekolah dulu, kami dari keluarga miskin yang masaknya pakai kayu bakar, saat itu saya memasak buat ibu, Kamu tau kan noda yg nempel di panci kalau masak pakai kayu bakar susah di hilangkan, saat itu saya mencuci panci, menggosoknya sekuat tenaga sampai kepercik ke dalam mata saya yang sebelah kiri, jarinya sambil menunjuk ke matanya.
Lalu, aku berobat tapi tidak sembuh-sembuh dan selama itu mataku mulai rabun dan buta sebelah.
Setelah umurku genap 14 tahun, aku dijodohkan dan menikah, Hinggah akhirnya aku melahirkan anak pertama..

Pas Mutlak ( Nama anaknya) umur 6 bulan,, saat itu, sebelum tidur aku masih bisa melihat anakku, dan menyusuinya, Lalu kami pun tertidur tapi beberapa jam kemudian anakku menangis, aq terbangun, tapi aku tdak bisa melihat apa2, aku fikir ini dalam mimpi, ternyata Mataku sudah diambil dua-duanya oleh Allah, Saat itu aku menangis dan memanggil ibuku, Aku menangis bukan karena kehilangan penglihatanku, tapi aku kasihan dengan anakku bagaimana aku bisa merawatnya dengan kondisiku seperti ini?

Tidak lama kemudian ibuku pun wafat, sudah tidak ada lagi yg mengurusku, akupun mau tidak mau mengurus semuanya sendiri karena marji (suaminya) juga sibuk bekerja,
Aku, memasak, mencuci semua saya kerjakan sendiri, dan Alhamdulillah sekarang saya punya anak 11 orang... tapi 2 meninggal dan yg hidup 9,
5 laki2 dan 4 perempuan..
Makin terkesimah lagi, bagaimana bisa dia merawat anak-anaknya yg sebanyak itu smntara beliau buta, maha besar Allah yg selalu ada dengan orang2 yg sabar.

Lalu saya bertanya lagi, Ummi kenapa tidak tinggal sama salah satu dari anak umi?
Beliau kali ini menjawab pertanyaan saya dengan nada sepertinya sedikit marah,
begini katanya "kenapa harus menjadi beban untuk anak-anakku sementara aku masih bisa berjalan sendiri ke kamar mandi, aku masih segar, dan bisa mengetik hp dan telfon sendiri" Semua anak-anakku alhamdulillah hidupnya berkecukupan, dan itu lebih membuatku bahagia hanya ingin melihat mereka bahagia bukan menjadi beban untuk mereka, padahal anak-anakku terutama Yusuf (anak beliau yg paling kaya diantara anak-anaknya yang lain)
dia minta aku tinggal dirumahnya tapi aku menolak, Coba seandainya dia tidak memaksa mungkin saya tdak akan ambil pembantu.

Yusuf ini anaknya yg paling sering datang mengunjungi umi, kadang umi dimasakin sama beliau, bahkan untuk ambil airpun beliau rebutan sama saya, setiap dia datang saya selalu melihat dia tergesa-gesa masuk rumah, hanya karena ingin cepat-cepat bertemu ibunya, hanya beliau yg paling sering memberi saya uang, kadang 50, sampai 100 real, dengan pesan " umi amanah indik" ( ibuku amanah dikamu)

kalau dia bertemu ibunya, selalu yang pertama di cium berkali- kali itu kaki ibunya, baru tangan dan dahi si umi

Dalam hati, saya berkata pantas saja baba yusuf ini kaya dan lebih dari saudara-saudaranya yang lain, karena dia memperlakukan umi sangat beda jauh dari saudaranya yang lain,
Setiap disalami ibunya, si umi pasti mengangkat tangannya ke langit dengan mata berkaca-kaca dan berdoa, Allah yardha alaik ya waladi, Allah yawafeqak, Allah yawase' rizqak...

jagalah dia ibu dan ayah kita,selagi kau masih diberi umur, Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang rugi yang menyia-nyiakan pintu surga paling tengah..

"Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Jika engkau ingin maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah ia.” (HR. Tirmidzi)

ديفي_انغريني
Yanbu, KSA, 16/jumadil awal/1437

Defy Anggraini Ghuroba FB