Dihari kiamat nanti, manusia sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Saw. akan dihisab dengan merujukkannya kepada tiga nabi, yaitu Nabi Yusuf As., Nabi Ayyub As., dan Nabi Sulaiman As. Kepada seorang hamba yang miskin dan lemah ketika di dunia ditanya, “Mengapa kamu lalai dari-Ku untuk mematuhi perintah-Ku?” Si hamba tersebut menjawab, “Engkau telah menentukan nasibku sebagai manusia yang tidak memiliki kesempatan untuk menyembah-Mu, karenan aku miskin?” Maka Allah Swt. mendatangkan Nabi Yusuf As., seraya berfirman, “Orang ini dahulu pun adalah hamba seperti kamu, tetapi ternyata kondisi kemiskinan tidak menghalangi sedikit pun untuk tetap beribadah kepada-Ku.” Maka Allah Swt. memerintahkan para Malaikat untuk memasukkannya ke dalam api neraka.

Kemudian Allah Swt. menghisab orang yang mendapatkan cobaan (bala`) dan dikatakan kepadanya, “Mengapa kamu lalai dan tidak beribadah kepada-Ku?” Orang itu menjawab, “Karena Engkau menyibukkanku dengan berbagai cobaan.” Maka Allah Swt. menghadirkan Nabi Ayyub As., seraya berfirman, “Orang ini dahulu pun pernah mendapat cobaan (bala`), bahkan lebih dahsyat dari yang kamu alami. Akan tetapi, ia tak sekali pun lalai dari beribadah kepada-Ku.” Maka Allah Swt. memerintahkan kepada Malaikat untuk menempatkannya di neraka.

Kemudian Allah Swt. menghisab seorang penguasa yang kaya raya dan ditanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan kekuasaan serta kekayaan yang Aku berikan kepadamu?” Si penguasa yang kaya raya itu menjawab, “Aku sangat sibuk dengan kekuasaan dan kekayaanku, sehingga tak sempat lagi beribadah kepada-Mu.” Maka Allah Swt. menghadirkan Nabi Sulaiman As. dan berfirman, “Tidak tahukan kamu tentang Sulaiman ini? Ia adalah hamba-Ku yang memiliki kekuasaan dan kekayaan melebihi kamu. Akan tetapi itu semua tidak menghalanginya untuk tetap beribadah kepada-Ku.” Maka si penguasa yang kaya raya itu pun di masukkan ke dalam api neraka (Tafsir Ar-Razi XXI/135-136).

Dalam kitab Mirqaatul Mafaatih juz 14 halaman 288 ta'birnya :

وورد أن سليمان عليه السلام يدخل الجنة بعد الأنبياء بخمسمائة عام

Telah datang keterangan bahwa Nabi Sulaiman as menjadi Nabi yang terakhir masuk syurga,setelah seluruh para Nabi dan Rosul dengan rentang waktu Lima Ratus Tahun.

Sementara dalam kitab Ihya 3/238 :

وفي الخبر عن النبي صلى الله عليه وسلم: " آخر الأنبياء دخولاً الجنة سليمان بن داود عليهما السلام لمكان ملكه

Dalam sebuah hadits : Dari Nabi SAW " Nabi yang paling akhir masuk syurga adalah Nabi Sulaiman bin Dawud 'Alaihimassalam , karna lama proses hisab harta dan kekuasaannya.

Dalam takhrij Al Ihya,lil hafzih Al 'Iraqi, 8/263:

حديث " آخر الأنبياء دخولا الجنة سليمان بن داود عليهما السلام لمكان ملكه ، وآخر أصحابي دخولا الجنة عبد الرحمن بن عوف لمكان غناه "

** أخرجه الطبراني في الأوسط من حديث معاذ بن جبل " يدخل الأنبياء كلهم قبل داود وسليمان الجنة بأربعين عاما " وقال : لم يروه إلا شعيب بن خالد وهو كوفي ثقة .

Hadits : " Nabi yang paling akhir masuk syurga adalah Nabi Sulaiman bin Dawud 'Alaihimassalam , karna lama proses hisab harta dan kekuasaannya. Dan Sahabat Nabi SAW yang terakhir masuk syurga adalah Sahabat Abdurrohman bin 'Auf RA karena kekayaannya.

Bila mana mereka dikenal insan shalih tentu harta mereka bersih walaupun memakan waktu lama. Berbeda dengan kita manusia biasa yang seringkali tidak memperdulikan darimana dan kemana hartanya dibelanjakan.

Lamanya hisab audit di hari pembalasan di perkuat dalilnya dengan beberapa riwayat lain yang shahih sbb

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

“Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya yaitu lebih dulu setengah hari yang sama dengan 500 tahun.” (HR. Ibnu Majah no. 4122 dan Tirmidzi no. 2353. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Diterangkan dalam Tuhfatul Ahwadzi (7: 68) sebagai berikut.

Satu hari di akhirat sama dengan seribu tahun di dunia. Sebagaimana yang AllahTa’ala sebutkan,

وَإِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ

“Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.” (QS. Al Hajj: 47). Oleh karenanya, setengah hari di akhirat sama dengan 500 tahun di dunia.

Adapun firman Allah Ta’ala,

فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun” (QS. Al Ma’arij: 4).

Rosulullah Saw pun memiliki harta dan beginilah keagungan ahlak beliau Kesederhanaannya memukau dunia sebagai penguasa umat Islam ketika itu, hidupnya tidak untuk menumpuk-numpuk harta, namun untuk kemaslahatan umat Islam yang masih banyak hidup dalam kemiskinan.

Dari Abu Sirwa’ah yaitu ‘Uqbah bin Al Harits radhiyallahu ‘anhu, ia pernah berkata,

صَلَّيْتُ وَرَاءَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – بِالْمَدِينَةِ الْعَصْرَ فَسَلَّمَ ثُمَّ قَامَ مُسْرِعًا ، فَتَخَطَّى رِقَابَ النَّاسِ إِلَى بَعْضِ حُجَرِ نِسَائِهِ ، فَفَزِعَ النَّاسُ مِنْ سُرْعَتِهِ فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ ، فَرَأَى أَنَّهُمْ عَجِبُوا مِنْ سُرْعَتِهِ فَقَالَ « ذَكَرْتُ شَيْئًا مِنْ تِبْرٍ عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يَحْبِسَنِى ، فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ »

“Aku pernah shalat ‘Ashar di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah. Ketika salam, beliau dengan cepat berdiri. Lalu beliau melangkahi leher para jama’ah untuk menuju ke sebagian kamar istri-istri beliau. Para sahabat pun terkejut dengan gerak cepatnya Nabi shalllallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu. Lantas beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam pun keluar. Beliau pun mengetahui bahwa mereka itu heran atas cepat geraknya beliau. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Aku itu teringat akan sepotong emas (yang belum dibentuk) yang kami miliki (dan diniatkan untuk disedekahkan). Aku tidak suka ditahan lama-lama. Oleh karenanya, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagikan.” (HR. Bukhari no. 851).

Dari Jabir bin Abdillah ia berkata: Tidak pernah sama sekali RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam dimintai sesuatu lalu beliau berkata, "Tidak". (HR. Muslim)

Dalam kesaksian sahabat yang lain, Anas bin Malik, ia berkata: Tidaklah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam diminta sesuatu atas nama Islam kecuali beliau akan memberikannya. Anas berkata:

جَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِى عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ

"Ada seseorang yang datang kepadanya lalu beliau memberinya kambing sebanyak antara dua gunung. Kemudian ia pulang ke kaumnya dan berkata: wahai kaumku, masuklah Islam, sesungguhnya Muhammad akan memberi yang banyak seakan ia tidak pernah takut kemiskinan." (HR. Muslim)