"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki dan perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari yang telah mereka kerjakan." (QS An-Nahl : 97)

Firman Allah SWT tersebut menggambarkan secara jelas bahwa Islam adalah ajaran yang mengutamakan dan mendahulukan pelaksanaan dan pemenuhan kewajiban. Barulah kemudian menerima dan mendapatkan haknya sebagai balasan dari amal perbuatannya tersebut. Dan bukan sebaliknya.

Setiap orang yang melaksanakan kewajiban, cepat atau lambat, baik langsung maupun tidak langsung, pasti akan mendapatkan haknya. Tetapi, tidak semua orang yang menuntut haknya dapat melaksanakan kewajibannya dengan baik.

Allah SWT berfirman,"Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya" (QS An-Najm: 39)

Sebagai contoh, sebuah rumah tangga akan menjadi keluarga yang bahagia manakala pasangan suami istri melaksanakan kewajibannya masing-masing dengan baik dan bukan saling menuntut hak.

Allah SWT berfirman:"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka , dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggilagi Maha Besar". (QS An-Nisa : 34)

Sementara itu dalam lingkup yang lebih besar, seorang pemimpin harus memiliki kewajiban untuk berlaku adil, dan berpihak kepada masyarakat dan rakyatnya. Sehingga rakyatnya terlindungsi dan tersejahterakan dengan baik. Bukan sebaliknya, hidup dengan fasilitas yang berlebih-lebihan, tetapi tidak dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

Ibarat mutiara, ditaruh di mana pun akan tetap berkilau dan bercahaya. Begitu pula seseorang yabg berorientasi pada tugas dan selalu mendahulukan kewajiban akan bercahaya di manapun ditempatkan.

Kisah kepemimpinan para khalifah setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan juga khalifah Umar bin Abdul Azis, mencerminkan bahwa mereka adalah pemimpin yang melaksanakan kewajiban secara maksimal.

Mereka sama sekali tidak pernah menuntut haknya, sehingga rakyatnya sangat tunduk dan patuh, serta merasa bahagia dengan kepemimpinan mereka.

Di tengah-tengah keinginan yang kuat dari setiap orang untuk mendapatkan jabatan, upaya menyadarkan pada tugas dan tanggungjawab jauh lebih penting daripada membicarakan fasilitas-fasilitas tertentu, yang kadang kala tidak berkaitan secara langsung dengan pelaksanaan kewajibannya.

Yang perlu diingat, bahwa jabatan itu hakikatnya adalah pemenuhan kewajiban dan bukannya penuntutan atau pemberian fasilitas semata-mata. Kewajiban dan hak merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, merupakan dua sisi yang menyatu, dimana ada kewajiban disitu ada hak yang melekat. Kewajiban dan hakmerupakan sesuatu yang universal, merupakan satu ciptaan Yang Maha Sempurna. Namun, hendaknya kita harus mendahulukan kewajiban daripada nenuntut hak.

Dari Abdullah bin Mas'ud ra berkata,"Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Akan terjadi sepeninggalku sifat monopoli (mementingkan diri sendiri dan beberapa kemungkaran." Sahabat bertanya,"Ya Rasulullah bagaimana pesan tuan kepada kami menghadapi hal itu?" Rasulullah bersabda,"Tunaikanlah kewajibanmu dan mintalah kepada Allah untuk mendapatkan hakmu." (HR Bukhari Muslim).

Artinya manusia sebagai seorang muslim hanya diperkenankan melihat sisi kehidupan ini dari sisi kewajiban. Yakni kewajiban sesuai fungsi yang melekat pada dirinya sebagai makhluk individu sekaligus kewajibannya kepada orang lain sebagai makhluk sosial, sebagai perwujudan ketakwaan seorang muslim kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda,"Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaknya ia merubah dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka hendaknya merubah dengan lisannya, jika tidak mampu hendaknya merubah dengan hatinya.Dan yang demikian itulah selemah-lemahnya iman." (HR Muslim)

Hadits ini merupakan satu perintah atau kewajiban bagi seorang muslim sebagai makhluk sosial.Asas kewajiban tetap melekat disana dan sama sekali bukan asas hak. Untuk itu, sebagai seorang muslim, mari kita lebih mendahulukan kewajiban daripada harus mendahulukan menuntut hak. Semoga bermanfaat.