Perkataan amanah mempunyai pengertian khusus dan umum. AManah dalam arti khusus adalah pengembalian benda atau lainnya kepada orang yang memberikan amanah karena dia harus memelihara benda itu, bertanggung jawab terhadap benda itu.

Sedangkan amanah dalam arti umum, lebih luas dari itu. Termasuk dalam arti yang umum adalah menyembunyikan rahasia, ikhlas dalam memberikan nasihat kepada orang yang memintanya, dan benar-benar menyampaikan sesuatu yang dititipkan kepadanya.

Allah SWT memerintahkan agar amanah dilaksanakan dengan baik. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan menyuruh kamu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat."(QS An-Nisa: 58)

Dalam konteks transaksi keuangan, Allah SWT memerintahkan penulis mencatat transaksi bersifat amanah ketika menuliskannya.
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu melakukan transaksi utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya. Hendaklah dia menuliskannya. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikitpun." (QS Al Baqarah: 282)

Sifat amanah Rasulullah SAW sebagaimana sifat-sifat baiknya yang lain, tidak diragukan lagi oleh siapapun. Sifat-sifat itulah penyumbang terbesar bagi tersebarnya risalah Islam yang diamanahkan Allah SWT kepadanya. Beliau menyampaikan risalah itu kepada umat manusia dengan sebaik-baiknya.

Muhammad SAW dikenal sebagai sosok yang jujur dan amanah (terpecaya), baik sebelum diutus menjadi rasul maupun sesudahnya. Jauh hari sebelum menjadi rasul, bangsa Arab memberi gelar Al Amin (orang yang dipercaya) kepada beliau. Oleh karena itu, mereka menerima putusan-putusan beliau dalam berbagai perselisihan diantara mereka.

Ada beberapa contoh sifat amanah Muhammad SAW, yakni menyelesaikan sengketa Hajar Aswad, tidak menangguhkan hak orang lain, mengajarkan sifat amanah kepada amil zakat dan selalu menunaikan janji.

Anjuran Rasulullah SAW tentang sifat amanah adalah
Rasulullah SAW bersabda,"Barang pinjaman harus dikembalikan, binatang yang dipinjamkan untuk diambil manfaatnya, seperti susu, bulu dan anaknya harus dikembalikan, utang harus diselesaikan. Demikian juga orang yang menjamin utang sama dengan yang berutang." Kemudian ada yang bertanya,"bagaimana dengan perjanjian dengan Allah?" Beliau menjawab,"Perjanjian dengan Allah lebih berhak ditunaikan." (HR Ahmad)

Beliau juga mengaitkan sifat amanah sebagai salah satu ciri wajib orang yang beriman. Beliau bersabda,"Tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan shalat." (HR Ahamad).

Beliau juga bersabda,"Umatku tetap dalam kesucian selama tidak menganggap amanah sebagai keuntungan dan tidak menganggap zakat sebagai sesuatu yang merugikan."

Menurut Rasulullah, melanggar amanah adalah satu tanda akhir zaman. "Ketika amanah dilanggar, itulah tanda akhit zaman." Ketika sahabat-sahabatnya bertanya bagaimana amanah itu nanti dilanggar, beliau menjawab,"Apabila suatu jabatan atau kedudukan diserahkan kepada orang yang tidak pantas menerimanya itulah tanda akhir zaman." (HR AL Bukhari).

Beliau juga memerintahkan kita untuk menjadi orang yang teguh memegang amanah meskipun orang-orang disekitar kita tidak teguh memegang amanah. Beliau bersabda,"Sampaikanlah amanah kepada orang-orang yang mengkhianatimua." (HR Dawud)

Beliau juga menjadikan lawan amanah, yakni khianat, sebagai salah satu ciri orang munafik. Beliau bersabda,"Ciri-ciri orang munafik ada tiga yaitu bila berbicara berdusta, bila berjanji dia mengingkari, dan bila dipercaya (diserahi amanah) dia berkhianat." (HR Al Bukhari).

Sumber: The Super Leader Super Manager, Dr. Muh Syafii Antonio