Setahun lalu ketika bersilaturahim dengan kawan-kawan dari BNI Syariah, saya mendapatkan sebuah hikmah besar dengan bertemu 3 orang penasyid yang Allah berikan cobaan tanpa penglihatan. Kata-kata mereka terpatri jelas dalam ingatan saya, “Kami tak bisa lihat wajah orang tua kami di dunia, tapi kami ingin lihat wajahnya di surga” Ketiga orang bernasyid ini tidak bisa melihat, tapi mungkin syukur mereka jauh melebihi orang-orang yang hidup dengan penglihatan. Ijinkan kali ini saya berbagi soal syukur.

Setiap apapun terjadi dalam hidup saya, saya selalu awali dengan sebuah pertanyaan, apa yang Allah inginkan dibalik ini semua. Karena ketika kita mendapat karunia, kita sering berkata, "ini titipan Allah", namun kenapa kita jarang bertanya, "mengapa Allah titipkan ini pada kita?".
Jujur, saya sering takut karena sulit membedakan antara karunia atau cobaan, namun akhir-akhir ini saya syukuri ketakutan itu, karena ia menjaga karunia.

Ingatlah, Cobaan-cobaa terdahsyat terkadang datang melalui karunia yang kita nikmati, suatu kebodohanlah menggunakan karunia tanpa kehatian-hatian. Kecerdasan, keindahan, paras, dan kekayaan yang didapat tanpa dibungkus kerendahan hati dan rasa syukur adalah dinding penghalang dengan surga. Bukan hanya itu, karunia yang tidak dibungkus oleh rasa syukur akan memberikan kegelisahan, ketidaksenangan, ketidakcukupan, dan menjadi bencana pemiliknya.
Saya tekankan lagi, semua karunia yang tak mendekatkan kita dengan surga adalah bencana, adalah musibah. Jangan sampai Allah cabut karunia kita karena kitra lupa bersyukur, merasa hebat, merasa ujub, merasa pintar, dan lupa diri.

Apa ilmu yang paling utama dalam hidup ini? Bahwa benar ilmu yang paling utama dalam hidup ini adalah ilmu mengenal Allah, orang yang mengenal Allah tidak akan sedih, karena ia mengerti, bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan hambaNya. Orang yang mengenal Allah juga tidak akan durhaka pada orang tua, karena ia mengerti Ridho Tuhan adalah dari Ridho orang tua. Orang yang mengenal Allah tidak akan khawatir dengan jodohnya, karena ia mengerti, Allah telah menuliskan jodohnya di Lauhul Mahfud. Orang yang mengenal Allah tidak akan lupa bersyukur, karena ia tahu semakin ia tahu semua karunia dari Allah dan semakin ia bersyukur, semakin Allah tambah karunianya.

Kita sering lupa, Sebenarnya ketika mendapat 1 kenikmatan, manusia mendapatkan 3 peluang karunia, pertama kenikmatan itu sendiri, kedua, pahala atas rasa syukur terhadap kenikmatan tersebut, Kenikmatan yang ditambahkan atas rasa syukur kita. Rasa syukur akan menjadikan kita pribadi yang rendah hati dan meluruskan paradigman kepercayaan diri: penghayatan hakekat syukur akan menghantarkan kita pada makna dan nikmat akan manisnya kerendahan hati, dimana kita menyadari dengan sepenuhnya bahwa arus karunia yang menghampiri kita bukan dikarenakan oleh ketangguhan pribadi kita, namun adalah buah dari rahmat illahi. Dengan itu, syukur juga meluruskan paradigma bahwasanya pribadi yang percaya diri bukanlah pribadi yang yakin pada kehebatan dirinya, namun pribadi yang yakin bahwa Allah bersamanya....Allah bersamanya....Allah bersamanya....

Syukur itu juga membebaskan kita dari perasaan galau, Bila kita mengisi hati kita dengan penyesalan tuk masa lalu dan kekhawatiran tuk masa depan, kita tak memiliki hari ini untuk kita syukuri. Oleh karena itu, jangan bebani hari ini dengan kegalauan esok, cukuplah tiap hari punya galaunya sendiri. Kawanku, banyak dari kita tak sadar, bahwa ia sedang menggenggam berlian, sehingga merasa miskin, berhentilah sejenak, lihatlah berlian di tangan kita. Bukan tak boleh berharap lebih, tapi syukuri yang sudah kita dapat...syukuri...syukuri...syukuri...

Bersyukurlah dengan kesibukan, tatkala lelah, ingatlah boleh jadi kesibukan kita adalah mimpi-mimpi orang di luar sana. Jika kita berfikir hidup ini tidak adil, maka cleaning service, pengemis, orang buta, lebih berhak mengatakan bahwa hidup ini tidak adil. Yang selalu membuatku malu pada Rabbku adalah pengorbananku untukNya sedikit, tapi karuniaNya terlalu sempurna. Seperti pesan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, “Andaikan kamu tahu bagaimana Allah mengatur jalan hidup, pasti hatimu akan meleleh karena cinta kepadaNya“

oleh: dr. Gamal Albinsaid