Tak terasa bulan yang mulia, bulan penuh berkah sebentar lagi akan tiba. Diibaratkan sebagai tamu yang sangat istimewa, sudah sepantasnya bila kita mulai bersiap-siap menyambutnya. Bukan hanya  fisik yang harus dipersiapkan, tetapi juga persiapan mental. Karena kita tidak ingin tamu yang begitu istimewa ini berlalu begitu saja, tanpa kita dapat mengambil keberkahan darinya. Berikut ini kita akan bersama-sama mengetahui bagaimana Rasulullah menyambut bulan suci Ramadhan.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memberi kabar gembira kepada para sahabatnya. Beliau bersabda, “Ramadhan telah datang kepada kalian. Bulan penuh berkah. Bulan yang Allah jadikan puasa di dalamnya fardhu (kewajiban). Shalat di malamnya sebagai amalan sunnah.” Karenanya, seorang mukmin pantas bergembira dengan datangnya bulan (Ramadhan) ini. Ia bersungguh-sungguh dalam mengerjakan amal shalih di dalamnya. Ia bergembira dengan kedatangannya sebagaimana Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam menyampaikan kegembiraan kepada sahabatnya dengan kedatangan bulan mulia ini.

Bukti kesenangan akan menemui Ramadhan, maka ia banyak berdoa kepada Allah agar disampaikan kepada bulan penuh berkah ini dalam kondisi sehat wal ‘afiat. Sehingga ia bisa mengisi Ramadhan dengan puasa, qiyam, zikir, tilawah, dan amal-amal shaleh lainnya dengan maksimal.

Sebagian ulama salafush shalih berdoa kepada Allah agar disampaikan kepada Ramadhan. Lalu mereka berdoa agar Allah berkenan menerima amal ibadah mereka. Ma’la bin al-Fadhl berkata: Mereka (para ulama salaf) berdoa kepada Allah enam bulan sebelumnya agar disampaikan kepada Ramadhan, lalu mereka berdoa selama enam bulan sesudahnya agar diterima ibadah dari mereka.”

Dari Abu 'Amr Al-Auza'ه, ia berkata: Adalah Yahya bin Abi Katsir berdoa memohon kehadiran bulan Ramadhan:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِي إِلَى رَمَضَانَ ، وَسَلِّمْ لِي رَمَضَانَ ، وَتُسلمهُ مِنِّي مُتَقَبَّلاً

“Ya Allah, selamatkanlah aku agar bisa berjumpa dengan Ramadhan, selamatkanlah aku agar berhasil menjalani Ramadhan, dan terimalah amalku.” (Hilyatul Auliya', juz 1, hlm. 420)

Ditemukan juga petunjuk Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam untuk memperbanyak puasa dan membiasakan ibadah di bulan Sya’ban. Di samping karena bulan Sya’ban adalah bulan yang sering dilalaikan manusia dan amal anak Adam diangkat kepada Allah Ta’ala, memperbanyak puasa di bulan Sya’ban juga sebagai persiapan dan pembiasaan diri dengan amal-amal Ramadhan. Hal ini akan menjadikan seorang muslim terbiasa berpuasa sehingga saat menjalani shiyam Ramadhan akan terasa lebih ringan sehingga ia bisa mengisi Ramadhan –baik siang atau malamnya- dengan ibadah dan aktifitas yang baik.

Tidak boleh dilupakan pula dalam menyambut Ramadhan adalah Al-Qur'an al-Karim; membaca dan mengkajinya. Lebih utama jika mampu menghatamkan di bulan Sya’ban sehingga ia memulai tilawatul Qur’an dari awal surat. Jika ini dilakukan, insya Allah akan membuatnya ringan menghatamkan qira’atul Qur’an di bulan Ramadhan.