Cerita Anak

Gara-Gara Duri Ikan

Sebagai nelayan kecil yang pekerjaannya mengail ikan di laut untuk menghidupi keluarganya, sehari mengail belum tentu akan mendapatkan hasil. Namun ketika seekor ikan menggelapar terkait mata kailnya, tiba-tiba datang seseorang dan merampas hasil tangkapannya.

"Hai berikan ikan itu padaku!" kata orang tiu.

"Tapi ikan ini hasil tangkapanku," jawab nelayan

"Masa bodoh!" teriak orang itu seraya merampas ikan itu dari tangan nelayan dengan kasar.

Tanpa dapat mencegahnya nelayan yang lemah itu hanya menatap orang yang merampas ikannya pergi meninggalkan tempat itu dengan pandangan kosong.

"Ya Allah, mengapa kau ciptakan aku sebagai orang yang lemah seperti diriku ini. Dan kau ciptakan orang lain lebih kuat dan gagah, sehingga dia bertindak sewenang-wenang kepada orang lemah seperti aku ini. Maka ciptakanlah ya Allah, makhluk lain yang lebih kuat dari dia, yang dapat mengalahkan dia agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi ummat semua," ratap nelayan itu dalam doanya.

Read more: Gara-Gara Duri Ikan

Pengemis Yang Dermawan

Dikisahkan pada waktu Kaum Bani Israil  mengalami masa paceklik bertahun-tahun, banyak yang menderita kelaparan. Datanglah peminta-minta mengetuk pintu rumah saudagar yang kaya. Pakaiannya lusuh, badannya kurus, dan matanya cekung. Dengan suara lirih ia memohon, “Wahai keluarga yang kaya raya, bersedekahlah karena Allah. Berilah aku sepotong roti”.

Mendengar suara pengemis itu, keluarlah seorang anak gadis dan memberikan sepotong roti yang masih hangat. Gadis belia itu adalah anak pedagang kaya raya itu. Mengetahui perbuatan anak gadisnya, saudagar yang terkenal pelit itu marah dan tanpa pikir panjang langsung memotong tangan kanan anak gadisnya.

Allah Yang Maha Adil segera mengubah nasib saudagar yang kaya raya itu. Ia jatuh miskin, hidupnya menjadi terlunta-lunta dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan dan gadis belia yang dermawan itu harus menjadi pengemis. Setiap hari ia berjalan dan meminta-minta dari pintu ke pintu untuk mendapatkan sepotong roti.

Suatu hari, sampailah sang gadis di rumah seorang janda yang dermawan. Ketika sang gadis mengetuk pintu, keluarlah sang janda dan menemuinya. Melihat kecantikan sang gadis, terlintas dalam benak sang janda untuk mengambilnya sebagai menantu. Singkat cerita, resmilah sang gadis menjadi menantu sang janda dan dinikahkan dengan anaknya.

Upacara pernikahan dilangsungkan dan pada malam harinya ia mendapatkan jamuan makan bersama sang suami. Ketika menyantap makanan, wanita cantik ini menggunakan tangan kiri. Sang suami yang melihatnya menjadi kesal. Dengan nada marah dan menyindir ia berkata : “Aku pernah mendengar berita bahwa orang fakir yang hidupnya serba kekurangan itu selain miskin juga tidak tahu etika, bahkan ketika makan pun tidak sungkan-sungkan menggunakan tangan kiri”.

Read more: Pengemis Yang...

Kambing Pengganti Dari Allah

Di sebuah dusun, hiduplah seorang wanita shalihah bersama keluarganya. Wanita itu bernama Al-Fiddah yang berarti perak. Keluarga Al-Fiddhah bukan termasuk keluarga yang berada. Mereka hanya memiliki seekor kambing yang dapat mengeluarkan tidak hanya susu tetapi juga madu.

Suatu hari, Syaikh Abu ar-Rabi' al-Maliki datang berkunjung ke rumah Al-Fiddah, yang ketika itu sedang memerah susu kambing. Di baskom tempatnya memerah, terdapat susu dan madu seperti yang diceritakan banyak orang.

"Bagaimana mulanya, sehingga kambing ini dapat mengeluarkan susu dan madu seperti ini?" Tanya syaikh Abu ar-Rabi'.

"Kami termasuk keluarga yang miskin. Harta yang kami miliki hanya seekor kambing kecil," kata Al-Fiddah memulai menceritakan tentang kambingnya dan keadaan keluarganya.

Waktu itu, ketika hari raya suaminya ingin menyembelih kambing tersebut untuk lebaran.  Tetapi, Al-Fiddah melarangnya, karena kambing tersebut adalah satu-satunya harta kekayaan miliknya. "Allah lebih tahu akan keadaan kita," kata Al-Fiddah.

Read more: Kambing Pengganti...

Kisah Pedagang Kapas dan Wanita Nasrani

AMIR SYUJAK AD DIEN AS SYARZI penguasa Kairo di masa Kamiliyah tahun 630 H mengisahkan bahwa ia bertemu dengan seorang tua yang berkulit coklat sedangkan anak-anaknya semuanya berkulit terang. Merasa heran As Syarzi pun menanyakan hal itu dan laki-laki itu pun menjawab bahwa ibu anak-anaknya adalah seorang wanita bangsa Frank (Eropa) dimana mereka menikah di masa Malik Nashr Shalahuddin. As Syarazi pun semakin penasaran ingin tahu lebih banyak mengenai kisah pernikahan itu. Akhirnya laki-laki itupun bersedia untuk bercerita.

Dulu di masa muda laki-laki itu berdagang kapas di Syam dan saat itu seorang budak wanita Frank membeli kapas di tokonya. Karena terpesona oleh kecantikannya ia memilih untuk memberikan kapas dengan cuma-cuma kepada budak tersebut. Demikian juga ketika budak itu membeli kapas setelahnya, pedagang kapas selalu memberikannya dengan cuma-cuma. Hingga akhirnya ia sadar bahwa ia telah jatuh cinta berat kepada budak Nashrani tersebut.

Akhirnya laki-laki itu menyampaikan perasaanya kepada wanita tua yang mendampingi budak tersebut, hingga akhirnya tercapa kesepakatan agar pemuda itu membayar 50 dinar dan menyediakan tempat sedangkan pihak wanita bersedia diperlakukan apa saja olehnya selama semalam.

Read more: Kisah Pedagang...