Cerita Anak

Kisah Murtadnya Seorang Tabi'in Mujahid Hafidz Quran Karena Seorang Wanita

Yaa Muqallibal-quluubi, tsabbit quluubanaa 'alaa Diinik

Begitu pentingnya menjaga keimanan. Terutama dari godaan seorang wanita. Karena wanita adalah sebesar-besarnya ujian bagi kaum pria. Sudah menjadi fitrahnya jika seorang pria mencintai wanita selama bentuk cintanya itu tidak melanggar syariat dan tidak menjerumuskannya kepada sebuah kemaksiatan dan kesesatan. Namun di balik keindahan itu semua ada fitnah (ujian) yang sangat berat untuk manusia. Berikut ini akan kita simak sebuah kisah bagaimana gara-gara sebuah godaan seorang wanita mampu merubah seorang lelaki yang dulunya taat harus menjadi manusia pendosa. Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Lelaki yang gagah itu memiliki nama  sebaik-baik nama, yaitu ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim. Dia dulu adalah seorang Tabi'in  (270 H) yang hafal Al-Qur’an sehingga keimanannya tak diragukan. Selain itu dia termasuk seorang mujahid yang selalu menjaga agama Allah dengan ikut berperang melawan pasukan Romawi.  Adakah bandingannya di dunia ini seorang mujahid yang hafal Al-Qur’an, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa Daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya? Namun sayangnya terjadi musibah di akhir hayatnya. Dia mati dengan tidak membawa iman Islamnya. Murtad sebagai Nasrani. Padahal dahulunya ia hafal semua isi Al-Qur’an, namun semua hilang tak tersisa kecuali dua ayat saja. Ayat apakah itu? Apa yang melatarbelakangi dia keluar dari Diinullah.

Inilah kisah selengkapnya:

Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang Romawi. Ia hantarkan orang Romawi itu ke neraka dengan pedangnya.  Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita Romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara.

Kaum muslimin sedang mengepung kampung Romawi. Tiba-tiba mata ‘Abdah tertuju kepada seorang wanita Romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorang pun dijamin lolos su’ul khatimah.  Tak tahan, ia pun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”

Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama Nashrani  maka aku jadi milikmu.”

Syahwat telah memenuhi relung hati ‘Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa akan imannya, tuli peringatan dan buta Al-Qur’an. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah: 7). Astaghfirullah, ma’adzallah.

Read more: Kisah Murtadnya...

Kind Word Great Mother

Pada suatu hari seorang anak laki-laki pulang sekolah memberikan sepucuk surat tertutup kepada mamanya dari Kepala Sekolah. Dengan memberikan surat tersebut, sang anak berkata, "Mama, Kepala Sekolah memberi surat ini kepada saya. Beliau berpesan agar saya tidak membukanya dan hanya mama yang boleh membuka dan membacanya."

Sang Mama membuka dan membaca surat itu.  Tak terasa airmatanya pun berlinang. Selesai membaca, sang Mama membacakan isi surat itu kepadanya anaknya dengan tenang.

"Anak ibu terlalu jenius. Sekolah ini terlalu sederhana. Tidak cukup guru yang baik dan hebat di sekolah kami, untuk melatih dia. Ajari dan latih sendiri anak Anda secara Langsung." Sejak saat itu, sang mama mendidik secara langsung sang anak di rumah.

Tahun demi tahun telah berlalu. Sang anak terus tumbuh dan berkembang. Seiring berjalannya waktu, sang Mama telah tiada. Suatu ketika, Anak laki-laki yg sudah dewasa itu, menemukan kembali surat yang dulu dibacakan sang Mama kepada dirinya. Diambilnya surat itu dari dalam laci meja mamanya. Diapun membuka dan membaca surat itu. Dengan tangan bergetar, dia terus membaca surat itu. Isinya sungguh berbeda dengan apa yang dulu didengarnya dari sang Mama saat dia masih Kecil dulu.

"Anak anda mempunyai masalah kejiwaan. Kami tidak mengizinkan lagi dia datang Ke sekolah ini selamanya".

Tahukah anda siapa anak itu? Anak itu, adalah sang penemu hebat sepanjang masa. Dialah, Thomas Alva Edison. Usai membaca surat itu, dia menangis berjam-Jam, lalu dia menulis dalam buku hariannya : "Thomas Alva Edison, adalah Anak Gila. Hanya oleh karena seorang Pahlawan, karena mama, saya diubahnya menjadi sang jenius sepanjang masa".

Read more: Kind Word Great...

Sepuluh tahun lamanya aku membenci suami ku

Sahabat Anak Saleh, sebuah Kisah yang seharusnya kita baca entah benar atau tidak karena kami temukan banyak di sosial media dan forum, namun didalamnya tersirat hikmah yang mendalam akan hubungan dua anak manusia yang seharusnya saling mencintai, saling mengasihi dan menyayangi, saling memahami dan menerima kekurangan pasangan, ternyata berbalik fakta. Berakhir dengan duka dan penyesalan setelah sang suami meninggalkan nya untuk selama nya.


Aku membenci diri nya, itulah perasaan yang ada dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan dengan nya. Meskipun ia menikahi diri ku, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Itulah Suami ku. Kami menikah karena pilihan orangtua, membuatku membenci dirinya.

Walaupun menikah dengan terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku selalu melayaninya sebagaimana tugas seorang istri. Akupun terpaksa melakukan semua itu karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtua ku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Read more: Sepuluh tahun...