Cerita Rakyat

Kisah Legenda Telaga Sarangan

Gunung Lawu banyak menyimpan cerita alam atau sejarah yang cukup menarik untuk dikisahkan. Walaupun selintas mata memandang nampak begitu tenang, pemandangan hijaunya pepohonan tertutupi oleh kabut tipis melayang-layang. Kabut putih di atas telaga dan bukit yang mengelilinginya membuat terlihat lebih indah disaat pagi dan sore.

Di balik keindahan suatu tempat, sering terdapat mitos yang berkembang di tengah masyarakat yang disebut legenda. Seperti pada lokasi wisata Telaga Pasir, Sarangan, Magetan. Konon terbentuknya telaga ini lantaran sepasang suami istri yang berubah menjadi naga.

Di zaman Kerajaan Pengging, hidup seorang pujangga kenamaan, Ki Pasir namanya. Ketika pecah perang antara Pengging dan Mataram, keduanya di Jawa Tengah, Ki Pasir dan isterinya, Nyi Pasir, keluar dari Pengging karena tidak ingin terkena ekses peperangan.

Kemudian keduanya menuju ke Jowo Wetan (Jawa Timur). Begitu perjalanan sampai di daerah Surakarta, di tepi bengawan solo, mereka bertemu dengan bocah laki-laki berumur sekitar 10 tahun. Bocah yang tak punya tempat tinggal dan orangtua itu diambil sebagai anak angkat Ki dan Nyi Pasir. Bocah itu kemudian diberi nama Joko Lilung.

Mereka bertiga kemudian meneruskan perjalanan dan sampai di hutan Gunung Lawu. Ki Pasir memilih sebuah tempat di lereng gunung sebelah timur, untuk mendirikan pondok sebagai tempat berlindung.

Read more: Kisah Legenda...

Si Pahit Lidah

Dahulu kala ada seorang anak muda bernama Pagar Bumi. Ia mempunyai enam saudara yang telah mengembara jauh tak tentu rimbanya. Pada suatu hari ahli ramal kerajaan bertemu dengan Pagar Bumi. Selintas pandang ia sudah dapat menerka bahwa kelak Pagar Bumi akan menjadi seorang tokoh sakti, namun kesaktiannya itu akan membahayakan kerajaan. Di sana Pagar Bumi mendapat titah raja bahwa dia harus segera meninggalkan wilayah kerajaan Jawa dan harus diasingkan di Sumatera. Mendengar titah raja seperti itu, sontak saja ibu Pagar Bumi menangis tersedu-sedu.

Maka hari itu juga diiringi dengan air mata kedua orangtuanya, Pagar Bumi meninggalkan kampung halamannya. Ia berjalan ke arah barat  selama beberapa hari. Pada suatu hari ia sampai di sebuah desa yang termasuk wilayah kerajaan yang diperintah seorang Ratu wanita sakti dalam ilmu ghaib.

Di desa itu ia berkenalan dengan seorang pemuda sebaya dengannya. Mereka mendengar bahwa ratu memberi kesempatan kepada siapa saja untuk belajar ilmu kesaktian kepadanya. Maka kedua pemuda itu pun pergi menghadap sang Ratu untuk menuntut ilmu.

Read more: Si Pahit Lidah