Dikisahkan pada waktu Kaum Bani Israil  mengalami masa paceklik bertahun-tahun, banyak yang menderita kelaparan. Datanglah peminta-minta mengetuk pintu rumah saudagar yang kaya. Pakaiannya lusuh, badannya kurus, dan matanya cekung. Dengan suara lirih ia memohon, “Wahai keluarga yang kaya raya, bersedekahlah karena Allah. Berilah aku sepotong roti”.

Mendengar suara pengemis itu, keluarlah seorang anak gadis dan memberikan sepotong roti yang masih hangat. Gadis belia itu adalah anak pedagang kaya raya itu. Mengetahui perbuatan anak gadisnya, saudagar yang terkenal pelit itu marah dan tanpa pikir panjang langsung memotong tangan kanan anak gadisnya.

Allah Yang Maha Adil segera mengubah nasib saudagar yang kaya raya itu. Ia jatuh miskin, hidupnya menjadi terlunta-lunta dan akhirnya meninggal dalam keadaan yang mengenaskan dan gadis belia yang dermawan itu harus menjadi pengemis. Setiap hari ia berjalan dan meminta-minta dari pintu ke pintu untuk mendapatkan sepotong roti.

Suatu hari, sampailah sang gadis di rumah seorang janda yang dermawan. Ketika sang gadis mengetuk pintu, keluarlah sang janda dan menemuinya. Melihat kecantikan sang gadis, terlintas dalam benak sang janda untuk mengambilnya sebagai menantu. Singkat cerita, resmilah sang gadis menjadi menantu sang janda dan dinikahkan dengan anaknya.

Upacara pernikahan dilangsungkan dan pada malam harinya ia mendapatkan jamuan makan bersama sang suami. Ketika menyantap makanan, wanita cantik ini menggunakan tangan kiri. Sang suami yang melihatnya menjadi kesal. Dengan nada marah dan menyindir ia berkata : “Aku pernah mendengar berita bahwa orang fakir yang hidupnya serba kekurangan itu selain miskin juga tidak tahu etika, bahkan ketika makan pun tidak sungkan-sungkan menggunakan tangan kiri”.

 

Mendengar sindiran suaminya itu, dia hanya terdiam dan melanjutkan makan dengan tangan kiri.

Acara jamuan makan masih berlangsung, tiba-tiba terdengar suara dari sudut ruangan : “Wahai hamba-Ku yang baik budi, keluarkanlah tangan kananmu. Sungguh sebelum ini kamu pernah mendermakan sepotong roti kepada hamba-Ku yang membutuhkan. Hal itu kamu lakukan semata-mata mengharap ridha-Ku. Maka tiada alasan bagi-Ku untuk tidak mengembalikan tangan kananmu yang gemar berderma karena aku”.

Mendengar suara itu, wanita jelita tersebut mencoba membuktikan kebenarannya dan ternyata benar. Begitu dikeluarkan, tangan kanannya dalam keadaan utuh seperti semula. Itulah anugerah Allah terhadap hamba-Nya yang suka berderma karena Allah. Selanjutnya, menantu janda itu melanjutkan makan malamnya dengan tangan kanan.