Mutiara Hikmah

Kisah Cinta Zainab Binti Muhammad

Zainab adalah putri tertua Rasulullah. Sebagai anak tertua Zainab terbiasa  membantu dalam pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan rumah dan menjaga adik-adiknya. Sangking terbiasanya sang kakak menjaga dan merawat adik-adiknya, membuat adiknya Fathimah adik bungsunya menganggap Zainab seperti ibu kecilnya.

Ketika Zainab menginjak usia sembilan tahun, Zainab telah dipinang oleh sepupunya sendiri  Abul ‘Ash bin Rabi’. Abul 'Ash bin Rabi merupakan putra saudara perempuan Khadijah yang bernama Halah Binti Khuwalid. Rasulullah begitu gembira dengan pinangan tersebut, sehingga tidak begitu lama pernikahan pun dilaksanakan. Dari pernikahannya dengan Abul ‘Ash mereka mempunyai dua orang anak: Ali dan Umamah.

Setelah berumah tangga, Zainab tinggal bersama Abul ‘Ash bin Rabi’ suaminya. Hingga pada suatu ketika, pada saat suaminya pergi bekerja, Zainab mengunjungi ibunya. Dan ia dapatkan keluarganya telah mendapatkan suatu karunia dengan diangkatnya, ayahnya, Muhammad menjadi Nabi akhir jaman. Zainab mendengarkan keterangan tentang Islam dari ibunya, Khadijah. Keterangan ini membuat hatinya lembut dan menerima hidayah Islam. Dan keislamannya ini ia pegang dengan teguh, walaupun ia belum menerangkan keislamannya kepada suaminya, Abul ‘Ash.

Sedangkan Abul ‘Ash bin Rabi’ adalah termasuk orang-orang musyrik yang menyembah berhala. Pekerjaan sehari-harinya adalah sebagai peniaga. Ia sering meninggalkan Zainab untuk keperluan dagangnya. la sudah mendengar tentang pengakuan Muhammad sebagai Nabi. Namun, ia tidak mengetahui bahwa istrinya, Zainab sudah memeluk Islam.

Sepulangnya Abul Ash dari perjalanan dagang, Zainab segera menyampaikan kabar gembira itu kepada suaminya. Dengan penuh semangat ia menceritakan semua yang terjadi dengan harapan akan membuat suaminya tertarik dan masuk Islam. Akan tetapi, sayang tawaran untuk masuk Islam dari istrinya itu ia tolak karena takut dikatakan oleh kaumnya bahwa ia masuk Islam hanya karena ingin mencari keridhaan istrinya. Zainab pun bersedih, namun ia tetap berdoa agar Allah Ta’ala akan membuka hati suaminya untuk beriman pada suatu saat nanti.
Ujian dan Cobaan

Ketika makin keras dan kuat tantangan kaum Quraisy kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta pengikutnya, sebagian orang Quraisy menghasut Abul Ash dan berkata, “Ceraikanlah istrimu wahai Abul Ash! Pulangkan ia rumah ayahnya dan kami akan menikahkanmu dengan wanita mana saja yang engkau sukai dari wanita-wanita Quraisy yang terbaik.” Karena begitu murni dan dalam cinta Abul Ash kepada Zainab, maka ia pun menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan menceraikan istriku, aku tidak ingin menggantinya dengan wanita mana saja di dunia ini.”

Read more: Kisah Cinta Zainab...

Kisah Imam Ahmad dan Pembuat Roti

Imam al Jauzi rahimahullah menulis sebuah buku tentang Ahmad ibn Hanbal rahimahullah, salah satu ulama yang paling terkenal. Saat beliau wafat, tak kurang dari 1,3 juta orang datang untuk ikut menyalati jenazahnya. Begitu populer dan sangat dicintainya beliau. Imam Ahmad seringkali mendatangi halaqah murid-muridnya, beliau gemar mencari ilmu dari orang lain dengan mengenakan penutup wajah. Sehingga tidak banyak orang tahu atau mengenali wajah Imam Ahmad. Selain itu Imam Ahmad juga dikenal sangat rendah hati.

Suatu hari Imam Ahmad pergi ke Syam, atau Suriah di zaman sekarang, termasuk Palestina, Lebanon, dan Yordan. Menjelang malam, Imam Ahmad datang ke sebuah mesjid. Namun dia dihadang oleh penjaga masjid yang melarangnya masuk ke dalamnya karena masjid akan segera ditutup. Walaupun Imam Ahmad mengatakan bahwa beliau tidak memiliki tempat lain pada malam itu, penjaga masjid itu tetap bersikeras untuk menyuruhnya keluar.

Bisa saja pada saat itu, beliau mengatakan bahwa dirinya adalah Imam Ahmad, tetapi beliau tidak mau menggunakan cara itu. Jadi Imam Ahmad pun mengemasi barang-barangnya dan hendak tidur di tangga masjid. Tetapi penjaga masjid itu kembali datang untuk mengusirnya dan melarangnya untuk tidur di sana.
Karena Imam Ahmad tidak memiliki tempat lain, dan tidak mengenal daerah itu hingga tidak tahu lagi kemana hendak pergi, beliau mencoba untuk bertahan untuk tetap tinggal di tangga masjid. Si penjaga masjid pun tak mau kalah, tidak tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan Imam Ahmad, dia memegang kaki Imam Ahmad, dan kemudian menyeretnya hingga ke tengah jalan lalu meninggalkannya di sana.

Read more: Kisah Imam Ahmad...

Kisah Murtadnya Seorang Tabi'in Mujahid Hafidz Quran Karena Seorang Wanita

Yaa Muqallibal-quluubi, tsabbit quluubanaa 'alaa Diinik

Begitu pentingnya menjaga keimanan. Terutama dari godaan seorang wanita. Karena wanita adalah sebesar-besarnya ujian bagi kaum pria. Sudah menjadi fitrahnya jika seorang pria mencintai wanita selama bentuk cintanya itu tidak melanggar syariat dan tidak menjerumuskannya kepada sebuah kemaksiatan dan kesesatan. Namun di balik keindahan itu semua ada fitnah (ujian) yang sangat berat untuk manusia. Berikut ini akan kita simak sebuah kisah bagaimana gara-gara sebuah godaan seorang wanita mampu merubah seorang lelaki yang dulunya taat harus menjadi manusia pendosa. Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Lelaki yang gagah itu memiliki nama  sebaik-baik nama, yaitu ‘Abdah bin ‘Abdurrahiim. Dia dulu adalah seorang Tabi'in  (270 H) yang hafal Al-Qur’an sehingga keimanannya tak diragukan. Selain itu dia termasuk seorang mujahid yang selalu menjaga agama Allah dengan ikut berperang melawan pasukan Romawi.  Adakah bandingannya di dunia ini seorang mujahid yang hafal Al-Qur’an, terkenal akan keilmuannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa Daudnya serta ketaqwaan dan keimanannya? Namun sayangnya terjadi musibah di akhir hayatnya. Dia mati dengan tidak membawa iman Islamnya. Murtad sebagai Nasrani. Padahal dahulunya ia hafal semua isi Al-Qur’an, namun semua hilang tak tersisa kecuali dua ayat saja. Ayat apakah itu? Apa yang melatarbelakangi dia keluar dari Diinullah.

Inilah kisah selengkapnya:

Pedangnya masih berkilat-kilat memantul cahaya mentari yang panas di tengah padang pasir yang gersang. Masih segar berlumur merahnya darah orang Romawi. Ia hantarkan orang Romawi itu ke neraka dengan pedangnya.  Tak disangka pula, nantinya dirinyapun dihantar ke neraka oleh seorang wanita Romawi, tidak dengan pedang melainkan dengan asmara.

Kaum muslimin sedang mengepung kampung Romawi. Tiba-tiba mata ‘Abdah tertuju kepada seorang wanita Romawi di dalam benteng. Kecantikan dan pesona wanita pirang itu begitu dahsyat mengobrak-abrik hatinya. Dia lupa bahwa tak seorang pun dijamin lolos su’ul khatimah.  Tak tahan, ia pun mengirimkan surat cinta kepada wanita itu. Isinya kurang lebih:

“Adinda, bagaimana caranya agar aku bisa sampai ke pangkuanmu?”

Perempuan itu menjawab: “Kakanda, masuklah agama Nashrani  maka aku jadi milikmu.”

Syahwat telah memenuhi relung hati ‘Abdah sampai-sampai ia menjadi lupa akan imannya, tuli peringatan dan buta Al-Qur’an. Hatinya terbangun tembok anti hidayah.

خَتَمَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al-Baqarah: 7). Astaghfirullah, ma’adzallah.

Read more: Kisah Murtadnya...