Imam al Jauzi rahimahullah menulis sebuah buku tentang Ahmad ibn Hanbal rahimahullah, salah satu ulama yang paling terkenal. Saat beliau wafat, tak kurang dari 1,3 juta orang datang untuk ikut menyalati jenazahnya. Begitu populer dan sangat dicintainya beliau. Imam Ahmad seringkali mendatangi halaqah murid-muridnya, beliau gemar mencari ilmu dari orang lain dengan mengenakan penutup wajah. Sehingga tidak banyak orang tahu atau mengenali wajah Imam Ahmad. Selain itu Imam Ahmad juga dikenal sangat rendah hati.

Suatu hari Imam Ahmad pergi ke Syam, atau Suriah di zaman sekarang, termasuk Palestina, Lebanon, dan Yordan. Menjelang malam, Imam Ahmad datang ke sebuah mesjid. Namun dia dihadang oleh penjaga masjid yang melarangnya masuk ke dalamnya karena masjid akan segera ditutup. Walaupun Imam Ahmad mengatakan bahwa beliau tidak memiliki tempat lain pada malam itu, penjaga masjid itu tetap bersikeras untuk menyuruhnya keluar.

Bisa saja pada saat itu, beliau mengatakan bahwa dirinya adalah Imam Ahmad, tetapi beliau tidak mau menggunakan cara itu. Jadi Imam Ahmad pun mengemasi barang-barangnya dan hendak tidur di tangga masjid. Tetapi penjaga masjid itu kembali datang untuk mengusirnya dan melarangnya untuk tidur di sana.
Karena Imam Ahmad tidak memiliki tempat lain, dan tidak mengenal daerah itu hingga tidak tahu lagi kemana hendak pergi, beliau mencoba untuk bertahan untuk tetap tinggal di tangga masjid. Si penjaga masjid pun tak mau kalah, tidak tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan Imam Ahmad, dia memegang kaki Imam Ahmad, dan kemudian menyeretnya hingga ke tengah jalan lalu meninggalkannya di sana.

Kemudian apa yang terjadi? Seorang tukang roti yang tinggal di seberang jalan datang menghampiri Imam Ahmad dan berkata, “Kau bisa tidur di toko rotiku malam ini.” Tukang roti itu telah menolong Imam Ahmad. Selama berada di rumah tukang roti, Imam Ahmad selalu mengamati laki-laki ini. Tukang roti itu sedang mengaduk adonan rotinya, dan kemudian memasukkannya ke dalam oven. Sepanjang waktu dia bekerja mengerjakan segala hal untuk membuat roti, tukang roti ini tak pernah berhenti mengucapkan “Subhanallah, Alhamdulillah, La illaha ilallah, Allahu Akbar”. Di sepanjang malam dia bertasbih.

Imam Ahmad begitu terkejut. Biasanya orang-orang akan menjadi letih setelah bertasbih selama beberapa menit, tetapi orang ini terus menerus bertasbih di sepanjang waktu dia bekerja. Terus menerus dia mengucapkan “Subhanallah, Alhamdulillah, La illaha ilallah, Allahu Akbar”.
Tertakjub, Imam Ahmad pun bertanya kepadanya, “Sudah berapa lama kau melakukan ini?”
“Apa maksud Anda, Tuan?”
“Bertasbih kepada Allah.” terang Imam Ahmad.
“Di sepanjang hidupku. Inilah yang selalu aku lakukan.” jawab tukang roti itu.

Imam Ahmad kembali bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau dapatkan dari Allah sebagai hasil dari semua tasbih yang kau lakukan?”
Tentu saja jannah (surga). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“ Ucapkanlah olehmu Subhanallah (Maha suci Allah), Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah), Laa ilaaha illallah (tidak ada ilah selain Allah) dan Allahu Akbar (Allah Maha besar). Maka setiap bacaan tersebut akan menumbuhkan satu pohon di surga bagimu" (HR. Ibnu Majah).

Kita bisa membayangkan bagaimana kedudukan tukang roti ini di mata Allah. Namun tukang roti itu berkata, “Aku tidak pernah berdoa kepada Allah kecuali Dia mengabulkannya.” Imam Ahmad berkata, “Subhanallah. Kau tidak pernah berdoa kepada Allah kecuali Dia mengabulkannya?” Maka tukang roti itu pun mengulangi perkataannya, “Aku tidak pernah berdoa kepada Allah kecuali Dia pasti mengabulkannya.” Tetapi kali ini dia melanjutkan, “Kecuali untuk satu hal.”

Imam Ahmad bertanya, “Apakah satu hal itu?”
Tukang roti itu menjawab, “Mendapatkan kesempatan untuk bertemu Imam Ahmad.”
Mendengar ini Imam Ahmad meneteskan air mata. Beliau memeluk laki-laki ini dan berkata,
“Allah telah membawakan Ahmad kepadamu dengan menyeret kakinya hingga sampai ke toko rotimu. Jika bukan karenamu, mungkin malam ini aku bisa tidur nyenyak di masjid.”
Subhanallah.. Alhamdulillah.. La illaha ilallah.. Allahu Akbar

“Amalan yang lebih dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun sedikit.” (HR Bukhari dan Muslim)