Kisah Islami

Nabi Adam Mangkat

Pasca terbunuhnya Habil, bukan main kesedihan Nabi Adam ‘alaihissalam, Isak tangis bertahun-tahun mengiringinya. Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaruniainya seorang anak sebagai pengganti Habil. Anak tersebut bernama Syits, maknanya pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena anak itu merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menggantikan Habil.

Setelah Syits menginjak dewasa, Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan kepercayaan penuh kepadanya, segala ilmu yang diraihnya diajarkan kepada Syits. Bahkan ketika akan meninggal, Nabi Adam ‘alaihissalam memberikan wasiat kepada Syits untuk menggantikan dalam memimpin anak keturunannya untuk beribadah pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia juga diberi shuhuf (lembaran-lembaran wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala mentakdirkan keturunannya berlanjut. Semua manusia silsilah keturunannya berasal dari Syits, sedang anak Nabi Adam ‘alaihissalam yang lain punah (tidak berlanjut keturunannya).

Luth dan Kota Yang Dijungkirbalikkan

"Kaum Luth pun telah mendustakan ancaman-ancaman (Nabinya). Sesungguhnya, Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing, sebagai nikmat dari Kami. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu." (QS Al Qamar: 33-36).

Luth hidup semasa dengan Ibrahim. Luth diutus sebagai rasul atas salah satu kaum tetangga Ibrahim. Kaum ini, sebagaimana diutarakan dalam AlQuran, mempraktikkan perilaku menyimpang yang belum dikenal dunia saat itu, yaitu sodomi. Ketika Luth menyeru mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut dan menyampaikan peringatan Allah, mereka mengabaikannya, mengingkari kenabiannya, dan meneruskan penyimpangan mereka. Pada akhirnya kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang mengerikan.

 

Kisah Unta Betina Nabi Saleh

.....Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu. Maka, biarkanlah dia makan di bumi Allah dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al-A'raaf: 73)

Di kalangan kaum Tsamud tersebutlah seorang remaja bernama Saleh.  Ia adalah pengikut ajaran Nabi Nuh dan Nabi Hud. Saleh merasa sedih melihat kebodohan kaumnya. Mereka menganggap berhala sebagai tuhan. Padahal berhala itu dibuat tangan mereka sendiri. Saleh berdoa kepada Allah mohon diberi kekuatan untuk mendakwahi mereka. 

Kisah Tsa'labah

Seorang sahabat Rasulullah yang amat miskin datang pada Rasulullah sambil mengadukan tekanan ekonomi yang dialaminya. Tsa'labah, demikian nama sahabat tersebut, memohon Rasulullah untuk berdo'a supaya Allah memberikan rezeki yang banyak kepadanya. Semula Nabi menolak permintaan tersebut sambil menasihati Tsa'labah agar meniru kehidupan Nabi saja. Namun Tsa'labah terus mendesak. Kali ini dia mengemukakan argumen yang sampai kini masih sering kita dengar,"Ya Rasul, bukankah kalau Allah memberikan kekayaan kepadaku, maka aku dapat memberikan kepada setiap orang haknya."

Nabi kemudian mendoakan Tsa'labah. Tsa'labah mulai membeli ternak. Ternaknya berkembang pesat sehingga ia harus membangun peternakan agak jauh dari Madinah. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, setiap hari ia sibuk mengurus ternaknya. Ia tidak dapat lagi menghadiri shalat jama'ah bersama Rasulullah di siang hari. Hari-hari selanjutnya, ternaknya semakin banyak sehingga semakin sibuk pula Tsa'labah mengurusnya. Kini, ia tidak dapat lagi berjamaah bersama Rasulullah. Bahkan menghadiri shalat Jum'at dan shalat jenazah pun tidak bisa dilakukan lagi. Ketika turun perintah zakat, Rasulullah menugaskan dua orang sahabat untuk menarik zakat dari Tsa'labah. Sayang, Tsa'labah menolak mentah-mentah urusan Rasulullah tersebut. Ketika utusan Rasulullah datang hendak melaporkan kasus Tsa'labah ini, Nabi menyambut utusan itu dengan ucapan beliau,"Celakalah Tsa'labah!" Nabi murka, dan Allah pun murka!