Kisah Islami

George Bin Todzira, Menjemput Kematian Sebagai Seorang Syuhada

George bin Todzira adalah panglima pasukan Bizantium. Di Perang Yarmuk, ia memimpin pasukan Roma, berperang menghadapi umat Islam yang dipimpin oleh Khalid bin al-Walid radhiallahu anhu. Sebelum pecah pertempuran, terjadi kejadian yang menarik. George berdialog dengan Khalid hingga ia memeluk Islam dan berpindah posisi menjadi pasukan kaum muslimin.

Dalam kondisi demikian, bayangkan apa yang dirasakan pasukan Romawi Bizantium saat itu? Tentu moral pertempuran mereka kaget dan mengendur. Dan pastinya, George adalah orang pertama yang hendak mereka bunuh.

Ketika pasukan tengah bertemu, George memanggil Pedang Allah, Khalid bin al-Walid. Khalid pun keluar dari pasukan, dan Abu Ubaidah menggantikan posisinya. Di tengah ribuan pasukan, kedua panglima perang itu berdiri berhadap-hadapan. Hingga leher tunggangan mereka bertautan.

George berkata, “Wahai Khalid, jawablah pertanyaanku dengan jujur. Jangan berbohong, karena orang yang merdeka tidak pantas berbohong. Jangan pula kau tipu aku, karena orang yang mulia tidak akan menipu”. George melanjutkan, “Apakah Allah menurunkan pedang dari langit kepada Nabi kalian, lalu ia memberikannya kepadamu? Kemudian tidaklah pedang itu berjumpa dengan suatu kaum, kecuali ia berhasil mengalahkannya?

“Tidak”, jawab Khalid singkat.

“Lalu mengapa engkau disebut dengan saifullah (Pedang Allah)?” Tanya George yang benar-benar menginginkan jawaban.

Abdullah Bin Umar Sang Penyayang Fakir Miskin Dan Anak Yatim

Abdullah bin Umar merupakan putra dari Umar bin Khattab yang memiliki keistimewaan dalam ilmu dan amalnya. Ayahnya sangat mendukungnya dan mendidik dalam hal keislaman. Bahkan, karena saudari kandungnya yang bernama Hafsah binti Umar menjadi istri Rasulullah SAW, maka ia senantiasa meneladani sifat dan kebiasaan beliau.

Abdullah bin Umar termasuk orang yang hidup makmur dan kaya raya. Ia merupakan pedagang dan saudagar yang jujur dan berhasil dalam sebagian besar kehidupannya. Di samping itu, gajinya yang berasal dari Baitul Maal (kas negara) dapat terbilang tidak sedikit. Namun, tunjangan tersebut tidak disimpannya, melainkan dibagi-bagi kepada fakir miskin dan anak yatim.

Bagi Badullah bin Umar, kedermawanannya itu tidak membuatnya khawatir akan jatuh miskin dan kelaparan. Sikapnya yang senang memberi kepada orang lain menjadikannya dikenal sebagai orang yang sangat pemurah.

Seseorang bernama Ayub bin Ma'il Ar Rasibi pernah menceritakan salah satu contoh kedermawanan Abdullah bin Umar. Pada suatu hari, Abdullah bin Umar menerima uang sebanyak 4000 Dirham dan sehelai baju dingin. Hari berikutnya, Ayub Bin Ma'il Ar Rasibi melihatnya di pasar sedang membeli makanan untuk hewan tunggangannya secara berhutang. Maka, Ayub bin Ma'il pergi menemui keluarga Abdullah bin Umar. "Bukankah kemarin Abdullah bin Umar menerima kiriman 4000 Dirham dan sehelai baju dingin?" tanya Ayub Bin Ma'il.

Abdurrahman Bin Auf, Sahabat Rasulullah Yang Berjuang Dengan Harta Dan Jiwanya

Abdurrahman bin Auf merupakan salah satu dari sahabat Rasulullah yang terkenal kaya dan dermawan. Ia termasuk kelompok delapan orang pertama yang mula-mula masuk Islam dan juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah SAW masuk Islam.

Di samping itu, Abdurrahman bin Auf juga termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al Khattab.

Pada masa jahiliyah ia dikenal dengan Abd Amr. Namun setelah masuk Islam, Rasulullah SAW memanggilnya dengan nama Abdurrahman bin Auf. Pada saat itu, Abdurrahman bin Auf dan kaum muslimin mendapat tekanan dan penyiksaan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap tabah dan sabar dalam menghadapinya.

Sebagai salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang akrab, Abdurrahman bin Auf merupakan salah seorang yang berjuang menegakkan agama Allah SWT. Pada saat perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah. Dalam perang itu, ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah seperti Umar bin Utsman bin Ka'ab At Taimy.

Begitu juga dalam perang Uhud, Abdurrahman bin auf tetap bertahan di samping Rasulullah SAW saat tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang. Ketika selesai perang dan kaum Muslimin keluar sebagai pemenang, Abdurrahman bin Auf mendapatkan 9 luka yang parah ditubuhnya dan mendapatkan 20 luka kecil sedalam anak jari.

Kisah Sa'ad Bin Abi Waqqash, Sang Singa Yang Mencengkram Dengan Kukunya

Sa`ad bin Abī Waqqās merupakan salah satu sahabat Rasulullah yang mempunyai peranan penting dan termasuk seorang yang awal masuk Islam.  Kepahlawanan Sa'ad bin Abi Waqqas tercatat dalam tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Sa’ad bin Abi Waqqash adalah salah seorang diantara sepuluh sahabat yang mendapat kabar gembira masuk surga.  Beliau adalah orang pertama yang melontarkan panah dalam perang di jalan Allah dan sebagai orang yang ke empat mendapat hidayah merasakan indahnya Islam melalui dakwah Abu Bakar radhiyallahu 'anhu ketika umurnya 17 tahun.

Penobatan Sa'ad Bin Abi Waqqash Di Irak

Ketika masuk awal tahun ke 14 H khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu memotivasi kaum muslimin untuk berjihad (jihad yang syar’i) di bumi Irak. Yakni ketika sampai kepadanya berita terbunuhnya Abu Ubaid pada peperangan di Jembatan sungai Eufrat, dan menguatnya kembali kekuatan Persia di bawah pimpinan Yazdigrid dari kalangan Raja Persia yang kafir kepada Allah Rabb semesta alam. Ditambah lagi dengan penghianatan ahlu dzimmah di Irak terhadap kesepakatan yang mereka buat dengan kaum muslimin. Mereka telah melepaskan ketaatan mereka terhadap pemerintah Islam, dengan menyakiti kaum muslimin dan mengusir para gubernur wilayah yang ditunjuk khalifah Umar.

Maka Umar radhiyallahu 'anhu memerintahkan kepada seluruh pasukannya untuk keluar dari wilayah Persia dan berkumpul di penghujung negeri-negeri jajahan Persia.  

Pada awal bulan Muharram tahun 14 H khalifah Umar berangkat dari Madinah membawa pasukannya dan singgah di sebuah tempat yang banyak airnya disebut dengan Shirar (sebuah tempat yang terletak tiga mil dari Madinah menuju jalan ke Irak). Di tempat itu khalifah memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Beliau sendiri telah bertekad untuk memimpin sendiri peperangan melawan Irak. Dia telah menunjuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sebagai penggantinya di Madinah. Dalam keberangkatan ini dia membawa sahabat senior seperti Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dan sahabat lainnya.