Kisah Islami

Kisah Muhammad Al-Fatih, Sang Penakluk Konstantinopel

Rasulullah SAW bersabda:
“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]

Hari Jumat, 6 April 1453 M, Muhammad II (Muhammad al-Fatih) bersama gurunya Syaikh Aaq Syamsudin, beserta tangan kanannya Halil Pasha dan Zaghanos Pasha merencanakan penyerangan ke Konstantinopel dari berbagai penjuru benteng kota tersebut. Dengan berbekal 150.000 ribu pasukan dan meriam -teknologi baru pada saat itu- Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai dan membayar upeti atau pilihan terakhir yaitu perang. Constantine menjawab bahwa dia tetap akan mempertahankan kota dengan dibantu Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.

Kota dengan benteng >10m tersebut memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7m. Dari sebelah barat pasukan artileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan Laut Marmara pasukan laut Turki harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.

Seperti KIsah Ali Dan Fatimah

Seperti kisah Ali dan Fatimah yang saling cinta dalam diam. Keduanya hanya saling mendoakan, tanpa interaksi dan direncanakan sebelumnya, hingga Allah yg mempertemukan keduanya dlm pernikahan yg suci. Inilah sebagian Kisah Cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali, kisah cinta yang sudah terpendam sejak lama, kisah cintanya sangat terjaga kerahasiaannya dalam kata, sikap dan ekspresi mereka bahkan konon syetanpun tak bisa mengendusnya, mereka bisa menjaga izzah mereka, hingga Allah telah menghalalkannya.

Ali sudah menyukai fatimah sejak lama, kecantikan putri Rasulullah ini tak hanya fisik saja, kecantikan Ruhaninya melintasi batas hingga langit ketujuh…kendalanya adalah perasaan rendah dirinya, mampukah ia membahagiakannya dengan keadaannya yang serba terbatas.

Ali juga sempat patah hati dua kali, dua sahabat terdekat Rosululloh (Abu bakar dan Umar bin khotob) juga telah mendahuluinya, dan menyusul Abdurahman bin auf melamar sang putri.

Alhamdulillah…lamaran itupun di tolak oleh Rosululloh, ternyata kekhawatiran Ali bin abi tholib belum berakhir sampai di sini karena ternyata sahabat yang lainpun melamar sang az zahra, usman bin affan pun memberanikan dirinya melamar sang putri, dengan mahar seperti yang di bawa oleh abdurahman bin auff, hanya ia menegaskan kembali bahwa kedudukannya lebih mulia di banding abdurahman bin auf karena ia telah lebh dahulu masuk islam.

Tidak dinyana tidak di duga, ternyata Rosulullohpun menolak lamaran Usman bin affan, bahkan di sebuah riwayat (abas Azizi hal 162) di ceritakan: Nabi saw menggenggam batu kerikil dan kemudian membukanya, terlihat batu itu menjadi batu mulia dan beliau menunjukkannya sambil berkata”apakah engkau hendak menakut nakutiku dengan hartamu?”

Empat sahabat sudah memberanikan diri dan mereka telah di tolak oleh Rosululloh saw, kini giliran ali bin abi tholib untuk memberanikan diri.setelah sebelumnya di kuatkan oleh sahabat yang lain bahwa beliau menunggu Ali bin abi tholib untuk meminang putri kesayangannya.

hingga di sutu hari ali memberanikan diri datang, awalnya beliau hanya duduk di samping Rosululloh dan lama tertunduk diam. Hingga Rosululloh pun bertanya ” wahai putra Abu Tholib, apa yang engkau inginkan?”

Menyelesaikan Masalah Tanpa Perselisihan

SUmar bin Khaththab ra sebagai khalifah pernah hendak mengambil paksa rumah Abbas bin Abdil Muththalib ra, paman Rasulullah saw.

“Dulu Rasulullah saw pernah berkeinginan untuk meluaskan masjid ini, tapi belum terlaksana hingga beliau meninggal. Maka sekarang aku ingin merealisasikan rencana Rasulullah tersebut,” ujar Sayyidina Umar kepada Abbas. “Tapi perluasan tersebut pasti akan mengggusur rumah Anda. Untuk itu serahkanlah rumah Anda kepada Negara. Kami akan mengggantinya dengan tanah yang lebih luas dan rumah yang lebih bagus.”
Saat Amirul Mukminin menyampaikan hal tersebut, beliau sangat yakin bahwa Sayyidina Abbas akan taat dan tunduk pada keputusan Khalifah. Namun di luar dugaan, ternyata Abbas menolak! “Tidak! Aku tidak akan menyerahkan rumahku kepadamu.”
“Aku tidak memintamu untuk menyerahkan rumahmu kepadaku. Tapi kepada negara, untuk perluasan masjid. Untuk kepentingan ummat. Atas rencana awal dari Rasulullah!”
“Walau untuk itu. Karena sebenarnya Andalah yang menjadi ekskutornya!” suara Abbas kali ini agak meninggi.
“Kalau begitu aku akan memaksamu!” suara Umar pun sudah mulai meninggi.
“Tidak bisa begitu! Harus ada yang menjadi penengah di antara kitta.”
“Baiklah. Siapa yang Anda inginkan untuk menengahi kita?”
“Khudzaifah Ibnul Yaman...!”

Sebuah KIsah Keistimewaan Yang Tak Nyaman

Seringkali kita melihat seseorang itu diistimewakan atau ingin diperlakukan istimewa hanya karena orang itu mempunyai kedudukan, jabatan atau status sosial yang "lebih tinggi" dibandingkan yang lainnya. Hal ini menyebabkan orang-orang yang "lebih rendah" kedudukannya seperti tidak memiliki hak apa-apa dan seperti diperlakukan tidak adil dalam hidupnya. Hal seperti ini tidak hanya terjadi sekarang saja, tetapi sejak dari dulu pun keistimewaan seperti ini sudah terjadi.

Pada masa itu, perlindungan merupakan salah satu adat di antara tradisi-tradisi Arab yang paling dihormati. Sekiranya ada seorang lemah yang berada dalam perlindungan seorang pemuka Quraisy, maka dia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Darahnya tak boleh ditumpahkan dan keamanan dirinya tak perlu dikhawatirkan.

Tentu saja tak banyak orang yang bisa beroleh keistimewaan semacam ini. ‘Utsman ibn Mazh’un termasuk di antara yang sedikit itu. Dia berada di dalam kota Makkah dalam keadaan sentausa, menyeberangi jalan-jalannya, menyusuri lorong-lorongnya tanpa khawatir akan kezhaliman dan marabahaya.

Tetapi ‘Utsman ibn Mazh’un adalah lelaki yang hidup dalam bimbingan wahyu dan tempaan tarbiyah Sang Nabi. Dia senantiasa memperhatikan sekelilingnya. Ada kerisauan yang mencucuk-cucuk di hati tatkala menyaksikan saudaranya sesama muslim terutama dari golongan miskin lagi lemah dianiaya. Mereka tak mendapatkan pembelaan dan tak satupun tokoh yang bersedia menjadi pelindung mereka.

Kekhususan yang dimilikinya, jadi terasa menyiksa.

Melihat saudara-saudaranya diterkam bahaya dari segala jurusan, diserang aniaya di semua jalan, dan disakiti setiap hari, hati ‘Utsman bergolak. Dia menjadi tak ridha atas ketenteraman yang dinikmatinya. Maka satu hari dia keluar dari rumahnya menuju ke Ka’bah dengan niat bulat untuk melepaskan segala perlindungan yang menaunginya dan menyerahkan diri hanya pada kuasa Allah ‘Azza wa Jalla.