Kisah Islami

Kisah Hikmah Mengurus Janda Dan Anak Yatim

Seorang janda miskin membawa tiga anak kandungnya, berjalan tertatih-tatih di kota Bashrah. Dia sedang mencari pekerjaan halal untuk kehidupan sehari-harinya. Namun, semua pintu rumah orang-orang kaya di kota itu tertutup rapat, termasuk rumah gubernur yang banyak dikunjungi tamu-tamu kaya.

Gubernur sendiri datang ke gerbang untuk mengusir janda miskin beserta ketiga anaknya yang yatim. Orang-orang yang menyaksikan tindakan gubernur tertawa bahagia. Mereka seolah sepakat, orang miskin tak boleh tampak di depan mata mereka.

Sambil menangis penuh kepedihan, janda miskin itu segera menjauh, ia tiba-tiba teringat firman Allah SWT, surat Al Ma'un ayat 1-3 yang sering dibaca bersama almarhum suaminya, baik pada waktu sholat dan tadarus. "Tahukah kamu (orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."

Ketika melepas lelah di bawah pohon, tiba-tiba seorang wanita cantik datang menyapa mereka dengan ramah. Terjadilah obrolan singkat. janda miskin itu pun mengutarakan nasibnya tanpa tedeng aling-aling.
"Sudahlah, ibu dan ketiga anak ibu tinggal di rumah saya. Bantu-bantu pekerjaan dapur seadanya. Insya allah, suami saya juga akan merasa senang,"kata wanita cantik itu.

Ternyata suami wanita itu tak kalah ramah. Meskipun kaya raya, keduanya suka sekali memuliakan orang miskin dan anak yatim. Janda beserta ketiga anaknya merasa betah. Mereka terlindungi, cukup makanan dan pakaian. Bahkan ketiga anak yatim tersebut dimasukkan ke madrasah agar mendapat pendidikan yang baik.

Umar Bin Abdul Aziz, Khalifah Di Balik Reformasi Ekonomi Umat

Umar Bin Abdul Azis muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah, yang pada saat itu dikenal dengan gaya hidup yang mewah, boros dan korupsi.

Khalifah sebelumnya, Abdul Malik Bin Marwan telah mangkat. Kebingungan menyelimuti benak Umar bin Abdul Azis. ia tidak cukup punya keberanian diagkat menjadi khalifah. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri bagian dari persoalan dinasti tersebut.

Ketika Umar dilantik menjadi khalifah, ia berkata kepada Ulama Al Zuhri yang duduk disampingnya,"Aku benar-benar takut pada neraka."Umar sadar ia tidak mungkin melakukan perbaikan dalam tataran negara kecuali ia berani memulainya dari diri sendiri dan keluarga. Dengn tekad besar itulah Umar memulai reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Begitu selesai dilantik, Umar memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara. Tak terkecuali pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badannya yang semula kekar berisi menjadi kurus.

Selesai dengan dirinya, berikutnya keluarga. Ia berikan dua pilihan kepada sang istri,"Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita bercerai." Fatimah binti Abdul Malik, sang istri memilih mematuhi suaminya.

Langkah itu juga berlaku untuk anak-anaknya. Suatu saat putra-putrinya protes. Sejak Umar menjadi Khalifah, mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat seperti sebelumnya. Umar justru menangis tersedu-sedu, lalu memberikan dua pilihan ke[ada anak-anak,"Saya beri kalian makanan enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan ayahmu ini ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama-sama.

Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan pejabat-pejabatnya yang menjadi bawahannya. Ia perintahkan untuk menjual semua aset-aset mewah di istana, dan mengembalikan ke kas negara. Lalu ia mencabut semua fasilitas mewah yang selama ini diberikan kepada pejabat istana dan keluarga satu persatu. Tak ayal, keluarga istana pun melakukan protes keras.

Mu'adz bin Jabal, Cendekiawan Muslim Yang Ahli Fiqih

Saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengambil bai'at dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua terdapat para utusan yang terdari atas 70 orang itu. Diantara mereka terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik serta sikapnya yang tenang. Itulah Mu'adz bin Jabal ra.

Ia termasuk tokoh dari kalangan Anshar yang ikut bai'at pada perjanjian Aqabah kedua hingga ia termasuk Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama masuk Islam). Selain itu, kelebihan yang paling menonjol dan keistimewaannya yang utama adalah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya tersebut mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah dengan sabdanya,"Umatku yang paling tahu akan yang halal dan haram yaitu Mu'adz bin Jabal."

Sehubungan dengan kecerdasan otak dan keberaniannya dalam mengemukakan pendapat, hampir sama dengan Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah hendak mengirimnya ke Yaman, terlebih dahulu Rasulullah menanyainya," Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu ya Mu'adz?"

Kisah Ka'ab Bin Malik

Salah satu ulama mengatakan "Jangan tambah kesibukan dirimu, sehingga kamu lalai perkara agama dan dakwah. Jika sudah cukup, sudahlah"

Biarlah hidup di dunia ini berjalan dengan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'aala. Biarlah .... tak jadi Kaya di dunia tak mengapa, yang penting Allah jadikan Indah surga itu nanti.

Hal seperti ini pernah terjadi pada sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang bernama Ka'ab bin Malik. Dari sahabat Rasul inilah kita dapat belajar tentang pentingnya mendahulukan kepentingan akhirat ketimbang masalah duniawi. Semoga kisah Ka'ab bin Malik ini bisa memberikan pembelajaran bagi kita semua..

Dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik –dialah yang menuntun Ka’ab ketika telah buta dari sekian banyak anaknya- dia berkata, “Saya mendengar Ka’ab bin Malik (yakni ayahnya) bercerita mengenai kisahnya ketika tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk. Ka’ab berkata:

“Saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu peperangan pun kecuali perang Tabuk. Walaupun saya juga tertinggal dari perang Badr, tetapi ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun yang tertinggal dari peperangan tersebut yang dicela. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin keluar pada perang Badr hanya untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan antara kaum muslimin dan musuh mereka dengan tanpa perjanjian. Saya juga telah menyaksikan malam Aqabah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kami berbai’at di atas Islam. Hal itu lebih saya senangi daripada saya ikut perang Badr walaupun perang Badr itu lebih banyak disebut-sebut orang.

Dulu, berita yang tersebar mengenai diri saya ketika tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Tabuk bahwa saya tidaklah lebih kuat dan lebih lapang untuk berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu. Padahal demi Allah, saya belum pernah memiliki dua unta dan saya memilikinya pada perang tersebut. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak berperang kecuali selalu beliau samarkan dengan yang lain. Dalam perang ini beliau berperang pada musim panas dan menempuh perjalanan jauh melewati gurun yang gersang untuk menghadapi pasukan yang besar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kaum muslimin tentang perkara ini agar mereka menyiapkan persiapan perang. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada manusia maksud beliau. Kaum muslimin yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak sehingga tidak seorangpun yang sanggup mencatatnya.

Maka orang-orang yang absen darinya sangatlah sedikit. Mereka yang absen menyangka bahwa keadaan mereka yang sebenarnya tidak akan diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tidak turun wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menerangkan hal tersebut.” Kata Ka’ab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan perang tersebut ketika musim kurma telah siap panen di mana ketika itu saya cenderung kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum muslimin telah bersiap-siap sedangkan saya merencanakan besok saja. Saya pulang dan masih belum menyiapkan persiapan perang sama sekali. “Saya mampu untuk berperang kapanpun saya berkehendak,” kataku di dalam hati.

Akan tetapi keadaan seperti itu terus berlarut hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin berangkat. Adapun saya, masih tetap belum menyiapkan sesuatu pun. Saya kembali pulang dan belum juga bersiap-siap. Keadaan tersebut terus berlarut sampai saya benar-benar tertinggal dari pasukan. Saya lalu bertekad untuk berangkat dan menyusul. Coba kalau dulu saya melakukannya?! Hingga akhirnya saya tetap tidak bisa mengikuti peperangan itu.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat saya sangat bersedih sekali di mana ketika itu saya keluar, saya tidak mendapatkan seorangpun dari kaum muslimin, kecuali beberapa orang yang terkenal dengan tuduhan kemunafikan atau orang-orang lemah yang diberi maaf oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tidak ikut berperang.

Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak menyebut-nyebut nama saya sehingga beliau sampai di Tabuk. Sesampainya beliau di Tabuk ketika sedang duduk-duduk bersama kaum muslimin, baru Beliau bertanya, “Apa yang diperbuat Ka’ab bin Malik?”

“Yaa Rasulullah, dia terhalang oleh kain mantelnya dan hanya melihat-lihat mantel itu,” kata seorang dari Bani Salamah.

“Jelek benar apa yang kamu katakan, demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak mengenal dirinya kecuali kebaikan,” balas Mu’adz bin Jabal kepada orang tersebut.

Rasulullah terdiam, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Beliau melihat seorang laki-laki yang tidak begitu jelas karena terpengaruh adanya fatamorgana.

“Itu adalah Abu Khaitsamah.” Kata Rasulullah.

Ternyata benar, dia Abu Khaitsamah Al Anshory yang pernah bershodaqoh dengan satu sho’ kurma (kurang lebih 2,5 kg) di mana ketika itu orang-orang munafik mencelanya.

Ka’ab bin Malik kemudian melanjutkan ceritanya.

Ketika sampai kabar pada saya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pulang dari Tabuk maka datanglah kesedihanku dan hampir saja saya hendak berdusta kepada beliau untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya agar terlepas dari kemarahan beliau. Saya pun sudah berusaha untuk meminta pendapat seluruh keluarga saya dalam mencari alasan. Setelah ada berita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar telah datang, hilanglah segala keinginanku untuk berdusta karena saya yakin bahwasanya saya tidak akan selamat selama-lamanya. Maka saya bertekad untuk berkata dengan sejujurnya.

Keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang. Sudah menjadi kebiasaan beliau bila datang dari safar selalu shalat dua rakaat di masjid kemudian duduk berbincang-bincang dengan para sahabat. Pada saat itu datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang untuk mengajukan alasan-alasan mereka disertai dengan sumpah kepada beliau yang jumlahnya sekitar 80 orang lebih. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima alasan mereka sesuai dengan apa yang mereka nampakkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at dan memintakan ampun untuk mereka serta menyerahkan apa yang ada di batin mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika saya menghadap dan mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum sinis kepada saya dan bersabda, “Kemari!!”

Saya pun datang mendekat dan duduk di hadapan beliau.

“Apa yang menyebabkan kamu tidak ikut perang ini, bukankah kamu telah menyiapkan kendaraan?” tanya beliau.

“Yaa Rasulullah, demi Allah seandainya saya duduk di hadapan penduduk bumi ini selain engkau pasti saya akan beralasan agar selamat dari kemarahannya karena saya orang yang pandai berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berdusta pada hari ini sehingga engkau ridha, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat engkau marah kepada saya. Namun seandainya saya jujur niscaya engkau akan marah pada saya, tetapi saya tetap mengharapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan akibat yang baik. Demi Allah, saya tidak mempunyai udzur. Demi Allah tidaklah sebelumnya saya lebih kuat dan mampu dari pada ketika saya tidak ikut berperang bersama engkau,” jujur Ka’ab.

“Adapun yang ini telah berkata jujur, pergilah sampai Allah yang memutuskan tentang dirimu,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka akupun pergi. Sewaktu saya pergi, beberapa orang Bani Salamah mengikuti saya. Mereka berkata kepada saya, “Demi Allah, kami belum pernah mengetahui kami berbuat kesalahan sebelumnya, kenapa kamu tidak minta maaf saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana orang-orang yang tidak ikut berperang?! Sesungguhnya permintaan ampun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah untuk kamu akan menghapuskan dosamu?!”

Ka’ab bin Malik berkata, “Demi Allah mereka selalu mencela sikapku sehingga bermaksud untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan mendustakan diriku sendiri.”

“Apakah ada seorang yang menerima keputusan seperti saya ini?” tanyaku kepada orang-orang Bani Salamah tersebut.

“Ya, ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang kamu katakan dan keduanya itu mendapatkan keputusan seperti keputusan yang diberikan kepadamu,” Jawab mereka.

“Siapakah kedua orang itu?” tegasnya.

“Murarah bin Rabiah Al ‘Amiry dan Hilal bin Umayah Al Waqify.”

Ka’ab bin Malik berkata, ”Setelah mereka menyebutkan kepada saya dua orang yang shalih ini di mana keduanya itu juga ikut perang Badr dan mempunyai keutamaan maka ketika itu saya merasa agak tenang.”