Pada suatu hari baginda berhadapan dengan ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahal), Umayyah bin Khalaf dan Al Walid bin Mughirah (ayah Saiyidina Khalid bin Al Walid). Rasulullah saw berunding dan bertukar fikiran dengan mereka tentang Islam. Baginda sangat ingin mereka menerima dakwah dan menghentikan penganiayaan terhadap para sahabat baginda. Sedang Rasulullah saw berdakwah dengan sungguh-sungguh,

 Tiba-tiba seorang laki-laki buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum menerobos masuk perbincangan itu seraya berseru. "Wahai Rasulullah, ajarkan padaku apa-apa yang diajarkan Tuhanmu kepadamu." Karena matanya yang buta, Abdullah tidak mengetahui keadaan Rasulullah yang sedang serius berdakwah. Kedatangannya yang tiba-tiba dan disertai suara Abdullah yang lantang sangat mengganggu Rasulullah. Rona wajah Rasulullah SAW menjadi kusut dan kening beliau tampak berkerut.

Akibat ulah Abdullah, Rasulullah berusaha tetap konsentrasi menghadapi para pembesar itu dan tidak menghiraukan ucapan si buta. Abdullah yang terus menerus mendesak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam agar mengajarinya tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya membuat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pun semakin terlihat tidak senang dengan sikap Abdullah.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam Ditegur Allah karenanya

Allah SWT menegur sikap Rasulullah SAW, dalam Surah Abasa ayat 1 hingga 12,

"Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan diri (dari dosa) atau (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat baginya? Adapun orang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu bila dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk memperoleh pengajaran) sedang ia takut kepada Allah, maka engkau mengabaikannya. Sekali-kali jangan (berbuat demikian_. Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan adalah suatu peringatan. Maka siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya". (Q.S. Abasa: 1-12).

Sejak itu, apabila Rasulullah SAW berjumpa dengan Abdullah Bin Ummi Maktum, beliau selalu mengucap salam dan berkata,"Ahlan biman atabany fihi rabbi" "Selamat datang wahai Saudara yang menyebabkan aku ditegur Tuhanku."Ucapan salam itu adalah ucapan istimewa sebagai penghormatan dan rasa cinta Rasulullah SAW kepada sahabatnya yang buta itu. Demikian pula ketika hendak berpisah dengannya, Rasulullah selalu bertanya, "Apakah yang engkau inginkan? Adakah sesuatu yang engkau kehendaki?

Meski buta, Abdullah Bin Ummi Maktum bukanlah orang yang lemah. Ia mendapatkan kepercayaan dari Rasulullah SAW untuk menjaga Madinah ketika beliau bersama sahabatnya yang lain sedang berjihad dalam perang badar. Sebuah kepercayaan yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Tugas ini bukanlah hal yang mudah. Menjaga kota pusat dakwah Islam dari serangn orang kafir Madinah sekaligus dari rongrongan orang munafik di Madinah bukanlah tugas yang ringan.

Pada  perang Qadisiyah. Abdullah Bin Ummi Maktumah mengingin membawa panji jihad, "Serahkan Panji Jihad padaku karena aku adalah orang buta yang tidak dapat melarikan diri dari pertempuran! Tempatkanlah aku diantara mujahidin dan pasukan musuh!". Pembawa panji adalah tugas yang tidak ringan karena ia bertugas mengawal simbol kekuatan para mujahidin di medan laga.  Abdullah Bin Ummi Maktum merupakan orang buta pertama yang turut berjihad dalam sejarah peperangan menegakkan Islam di muka bumi. Perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangi pertempuran tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah berlaku. Maka berpindah kekuasaan kerajaan Parsi yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang paling megah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah api itu. Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemui syahid berlumuran darah sambil memeluk salah satu bendera kaum muslimin.