Siapa yg percaya isi Al-Quran dan janji-Nya jauh lebih baik dr janji-janji para manusia ?
Ketika seorang anak mendengarkan janji yang diucapkan oleh kedua orang tuanya, misalnya sebuah janji bahwa dia akan diajak ke tempat bermain kesukaannya sebagai hiburan akhir pekan, maka ia pasti akan sangat senang dan tak akan sempat meragukan apa yang dijanjikan oleh kedua orang tuanya itu. Dia merasa senang karena memang tempat yang dijanjikan tersebut banyak menyimpan bayangan kegembiraan, dan dia juga tak akan sampai meragukan janji itu karena memang ia yakin tak akan dibohongi oleh orang yang tentu menginginkan kebaikan untuknya. Mungkin demikianlah karakter perasaan kita saat mendengarkan janji dari orang-orang yang kita percayai. Kita akan memegang janji mereka, padahal bisa jadi janji tersebut akan tertunda atau bahkan tidak jadi terwujud sesuai rencana karena terhalang suatu keadaan.

Dari karakter perasaan yang kita miliki semacam itu, ketika kita dianugerahi kemudahan untuk juga dapat menyikapi janji-janji Allah SWT sebagaimana kita menyikapi janji orang-orang yang kita percayai, maka niscaya kita pun akan mudah menghindari kekecewaan dalam urusan hidup kita, karena memang janji Allah SWT pasti akan ditepati tanpa ada yang bisa menghalanginya, berbeda dengan janji manusia yang kadang tertunda atau bahkan batal karena memang manusia tak sepenuhnya mampu menguasai keadaan dan kehidupannya. Memang, sebagian janji Allah SWT ada yang ‘tampaknya’ tertunda atau tak terwujud, namun itupun adalah karena kita melihatnya dari sudut pandang perkara dunia, padahal janji Allah SWT itu justru lebih menekankan tentang perkara yang lebih kekal, sehingga ketika seseorang mempercayai janji-Nya namun di dunia ini dia tampak hidup sengsara, maka bukan berarti Allah SWT tidak memenuhi janji-Nya.

Dan mungkin cara pandang terhadap janji Allah SWT inilah yang menyebabkan seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya justru berani menghanyutkan anak tersebut ke dalam aliran sungai, yang dia sendiri pun mungkin juga tidak tahu persis akibat apa yang akan menimpa anaknya dari perbuatannya itu. Dia memang bukan bermaksud mencelakakan anaknya sendiri, melainkan justru dengan cara itulah dia bermaksud melindunginya dari kejahatan yang dilakukan oleh seorang raja yang dzalim. Namun entah apa yang difikirkannya ketika itu hingga dia bisa berbuat demikian. Tapi memang demikianlah kekuatan sebuah kepercayaan akan janji Allah SWT. Tentu kita mengenal sosok ibunda Nabi Musa AS tersebut. Dialah sosok yang disebutkan di dalam al-Qur’an sebagai orang beriman yang menerima janji Allah SWT hingga menyaksikan janji tersebut benar-benar terwujud.

Di dalam al-Qur’an disebutkan kisah tersebut dengan begitu sangat indah dan menyentuh. Bahkan, dari terjemahan ayat-ayatnya saja kita sudah bisa merasakan dan membaca sendiri keindahannya

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.” (Al-Qashash: 7)

“Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun untuk (akhirnya) menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka (sendiri). Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah.” (Al-Qashash: 8)

“Dan berkatalah istri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 9)

“Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang beriman.” (Al-Qashash: 10)

“Dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang perempuan: “Ikutilah dia” Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh, sedangkan mereka tidak mengetahuinya.” (Al-Qashash: 11)

“Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: “Maukah kalian aku tunjukkan sebuah keluarga yang akan dapat memeliharanya untuk kalian dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (Al-Qashash: 12)

“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Al-Qashash: 13)

Dan dari kisah ibunda Nabi Musa AS tersebut, kita mendapati betapa indahnya cara Allah SWT menepati janji-Nya. Kita mendapati bagaimana Dia mengatur agar Nabi Musa AS selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh Fir’aun terhadap anak-anak kecil yang laki-laki, yaitu dengan mengilhami ibunya untuk menghanyutkannya ke dalam aliran sungai Nil, yang kemudian justru dipungut oleh istri Fir’aun sendiri untuk dianggap sebagai anak. Dan kemudian kita juga bisa melihat bagaimana Allah SWT mengembalikan Nabi Musa AS kepada ibunya setelah Dia menyelamatkannya dari pembunuhan, yaitu dengan cara mencegahnya dari segenap air susu para ibu yang menyusui kala itu, kecuali ibu beliau sendiri. Betapa indahnya rencana Allah SWT. Memang ibu Nabi Musa AS sendiri sempat merasakan kehampaan dalam hatinya, dan itu sangatlah manusiawi, karena memang justru itulah dampak dari rasa kasih sayang terhadap anaknya. Namun kemudian Allah SWT meneguhkan hatinya sehingga iapun termasuk hamba-hamba beriman yang meyakini kebenaran janji-Nya.