Di dalam Alquran, kita telah mengetahui sudah begitu banyak diceritakan kisah-kisah umat terdahulu yang telah dibinasakan oleh Allah. Dan hal ini dikarenakan mereka telah melakukan banyak penyimpangan dan yang lebih fatalnya mereka sering mengingkari dan menentang utusan Allah yang diturunkan kepada kaum mereka. Salah satu kaum yang dibinasakan ini adalah kaum Rass.

Al-Quran menyebutkan kaum Rass sebanyak dua kali dalam firman Allah surah Al-Furqan, 25:38 dan surah Qaf, 50:12.

“Dan (kami binasakan) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass dan banyak (lagi) generasi-generasi di antara kaum-kaum tersebut. Dan kami jadikan bagi masing-masing mereka perumpamaan dan masing-masing mereka itu benar-benar telah Kami binasakan dengan sehancur-hancurnya.” (QS. al-Furqaan[25]: 38-39)

Sebenarnya Rass adalah nama sebuah telaga yang kering airnya. Nama Al-Rass ditujukan pada suatu kaum. Konon, nabi yang diutus kepada mereka adalah Nabi Saleh. Namun, ada pula yang menyebutkan Nabi Syuaib. Sementara itu, yang lainnya menyebutkan, utusan itu bernama Handzalah bin Shinwan (adapula yang menyebut bin Shofwan). Kaum Rass menyembah patung. Ada pula yang menyebutkan, pelanggaran yang mereka lakukan karena mencampakkan utusan yang dikirim kepada mereka ke dalam sumur sehingga mereka dibinasakan Allah

Abu Bakr Muhammad bin al-Hasan an Naqqasy menyebutkan bahwasanya penduduk Rass memiliki sebuah sumur yang mereka gunakan untuk minum dan mereka gunakan untuk mengairi pertanian mereka. Mereka memiliki seorang raja yang memiliki perangai yang baik. Ketika ia meninggal, maka mereka mengalami kesedihan yang mendalam. Selang beberapa hari, datanglah syaitan kepada mereka dalam wujud raja mereka, seraya berkata: “Aku belum mati, akan tetapi aku tersembunyi dari hadapan kalian agar aku dapat melihat apa yang kalian lakukan.” Maka mereka pun merasa sangat gembira. Syaitan tersebut memerintahkan kepada mereka agar membuat tabir pemisah antara dirinya dan diri mereka seraya mengabarkan bahwa ia tidak akan mati selama-lamanya. Mayoritas dari mereka mempercayainya sehingga mereka pun terpedaya dan menyembahnya.

Mendengar bahwa raja yang mereka cintai tidak akan mati selama-lamanya, membuat mereka gembira dan mempercayai semua yang diucapkan syaitan. Sampai-sampai mereka pun membuat patung seperti yang dikehendaki syaitan untuk dapat berinteraksi dengan raja tersebut. Kemudian mereka pun mengadakan korban dan menyembah patung itu.

Mengetahui hal ini, Allah pun mengutus seorang nabi untuk mengingatkan kaum Rass bahwa ada setan yang menyamar di balik patung tersebut. Nabi tersebut juga melarang mereka untuk menyembah kepada patung itu dan menyuruh mereka kembali menyembah Allah yang Maha Esa.

Tetapi sayangnya, kaum Rass tidak mempedulikan semua perintah nabi tersebut kecuali seorang budak berkulit hitam. Setelah nabi itu memberikan dakwahnya, maka penduduk desa geram, dan mereka berencana untuk melemparkannya ke dalam sumur, kemudian menutupnya dengan batu besar. Mereka berhasil menangkap nabi itu dan melemparkannya ke dalam sumur, dengan harapan beliau akan mati secara perlahan.

Ketika melihat kejadian ini, sang budak hitam itu hanya bisa menolong nabi itu dengan cara memberinya makan, kemudian menutup kembali sumur tersebut. Kejadian ini ia lakukan setiap habis mencari kayu bakar di hutan.

Pada suatu hari budak hitam itu setelah mencari kayu bakar, ia merasakan lelah dan mengantuk, sehingga ia pun merebahkan diri untuk melepas lelah. Dalam kisah ini disebutkan ia tertidur selama tujuh tahun lamanya, sehingga ia tidak sempat lagi memberi makan nabi tersebut.

Budak itu menyangka bahwa ia tertidur hanya sebentar. Ketika ia hendak memberi makan, ia tidak menemukan nabi tersebut di dalam sumur. Tanpa dia ketahui ternyata ada peristiwa besar yang terjadi menimpa penduduk Rass. Karena takut akan azab yang diberikan Allah, maka sebagian dari penduduk Rass tersebut menyelamatkan nabi yang telah mereka buang kedalam sumur.

Imam Ibnu Jarir At Thobari menguraiakan, kemungkinan besar para kaum tersebut beriman setelah Allah menurunkan adzab kepada nenek moyang mereka, sehingga akhirnya sisa-sisa dari kaum tersebut beriman dan mengeluarkan nabinya dari dalam sumur. (Tafsir Ibnu Katsir 6/112, Al Alusi 14/97).

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad menjelaskan bahwa budak tersebut di adalah budak yang pertama kali masuk surga. Nabi Muhammad S.A.W bersabda: "Lalu nabi kaum tersebut menanyakan keberadaan budak tentang apa yang dilakukannya? Kaumnya menjawab: Kami tidak tahu. Sampai Allah mencabut ruh nabi tersebut. Setelah wafatnya Nabi tersebutlah Allah membangunkan si budak hitam tersebut dari tidurnya. Rasulullah S.A.W bersabda: Budak hitam tersebut adalah orang yang pertama kali masuk surga." (Tafsir Ibnu Katsir 6/111, Al Alusi 14/97, At Thobari 19/269, Al Qurthubi 13/32).