Akibat kedengkian dan keserakahan saudara-saudaranya, Yusuf kecil harus mengalami penganiayaan saudara-saudaranya. Yusuf harus rela dibuang ke dalam sumur. Untunglah tak berapa lama Yusuf di dalam sumur, lewatlah musafir dari Madyan hendak ke Mesir. Musafir mendatangi sumur itu untuk mengambil air. Pada saat timba di tarik, musafir itu heran, mengapa timba itu terasa berat. Setelah timba ditarik ke atas, betapa terkejutnya musafir itu, karena ditimba ternyata ada seorang anak yang tampan, yaitu Yusuf. Dibawalah Yusuf ke Mesir. Oleh musafir itu, Yusuf dijual ke salah seorang pejabat di Mesir untuk dijadikan budak. Tetapi oleh pejabat itu, Yusuf dijadikan anak angkat.

Sejak saat itulah Yusuf tinggal di Mesir bersama seorang pejabat yang bernama Qiftir Al-Aziz dan istrinya Zulaikha. Selang beberapa tahun kemudian, Yusuf pun tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah. Banyak wanita yang tergila-gila pada Yusuf, tidak terkecuali Zulaikha. Di saat tumbuhnya benih-benih cinta di hati Zulaikha itulah, Yusuf mendapatkan godaan.

Dalam QS Yusuf: 22-24, diterangkan: Setelah Yusuf meningkat dewasa, Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Dan demikianlah Kami membalas orang yang berbakti. Kemudian Zulaikha jatuh cinta kepadanya. Lalu ditutupnya semua pintu rumah, serta berkata, "Marilah engkau kemari!" Jawab Yusuf ," Aku berlindung kepada Allah, sungguh Tuhanku telah memperlakukan aku dengan baik," Sesungguhnya orang-orang zalim tiada beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah jatuh cinta kepadanya dan Yusuf pun rindu pula kepada wanita itu, sekiranya tidak karena penjelasan dari Tuhannya. Demikianlah, kami dapat melepaskan dari kejahatan dan kekejian. Sesungguhnya ia seorang hamba Kami yang ikhlas.

Karena itulah, maka Yusuf menghindar dari Zulaikha. Namun Zulaikha menarik baju Yusuf dari belakang. Yusuf pun berusaha melepaskan diri dari tarikan itu. Yusuf lari menjauh, Zulaikha mengejar sampai ke pintu rumah, tiba-tiba muncul Qiftir yang pulang dari dinasnya. Maka terkejutlah Qiftir melihat kejadian itu. Zulaikha merasa takut dan cemas, maka ia berusaha membela diri dengan berkata bahwa Yusuf hendak berbuat kurang ajar kepadanya.

Mendengar ucapan Zulaikha, Yusuf yang benar merasa perlu menjelaskan, maka ia mengatakan bahwa Zulaikhalah yang mencintainya. Karena mereka saling tuduh, maka dengan kekuasaan Allah, bayi dari keluarga Zulaikha yang masih dalam ayunan tiba-tiba berbicara memberikan kesaksian.

Sebagaimana diceritakan dalam Al-Qur'an, Yusuf berkata,"Dia yang cinta kepada saya!" Di sana menjadi saksi seorang diantara keluarga wanita itu, lalu katanya,"Kalau sobekan di baju Yusuf ada di bagian muka, maka tanda wanita itu yang benar, tapi kalau sobekan itu di bagian belakang baju Yusuf, maka bohonglah wanita itu dan Yusuflah yang benar (QS Yusuf: 26-28).

Berita tentang kejadian itupun akhirnya tersebar luas, walaupun Yusuf tidak pernah mengatakan kepada siapa-siapa. Akhirnya Zulaikha pun mendengar juga, bahwa dirinya telah menjadi buah bibir orang banyak. Ia merasa malu terhadap teman-teman dan kenalannya. Karena hal itu, Zulaikha diam. Ia berpikir, mencari cara agar mereka tidak lagi membicarakannya. Demi kehormatan diri, akhirnya ia mengundang istri-istri para pembesar lainnya ke rumahnya untuk dijamu. Adapun jamuan yang dihidangkan adalah buah-buahan sejenis mangga. Masing-masing diberi pisau yang sangat tajam. Ketika wanita-wanita itu mengupas buah-buahan, oleh Zulaikha, Yusuf pun disuruh berlalu di muka wanita-wanita tersebut. Hal ini seperti di dalam Al-Quran surat Yusuf: 31.

Tatkala Zulaikha mendengar perkataan mereka memperbincangkannya, maka diundangnya mereka itu serta disediakan tempat duduk. Setelah mereka hadir, masing-masing diberinya sebuah pisau. Ia lalu berkata kepada Yusuf. Keluarlah engkau menemui wanita-wanita itu. Tatkala melihatnya, mereka (wanita-wanita) tercengang (karena ketampanan Yusuf), sehingga tidak terasa tangan mereka teriris pisau itu, mereka pun berkata, Mahasuci Allah, ini bukan manusia. Tiadalah ini, melainkan malaikat".

Zulaikha berkata,"Inilah yang kalian cercakan kepada saya, bahwa saya mencintainya. Sesungguhnya saya cinta kepadanya, tetapi ia enggan. Jika ia tidak menuruti apa yang saya perintahkan kepadanya itu, tentu ia akan dipenjara  sehingga ia menjadi orang yang hina dina.

Setelah kaum wanita bangsawan diundang dan menyaksikan sendiri betapa gagah dan tampannya Yusuf, mulai saat itulah mereka sadar dan tidak adalagi pembicaraan tentang Zulaikha. Walaupun demikian bukan berarti dapat menenangkan Qiftir, ia masih berpikir dua kali.

Dalam pikirannya sebenarnya Zulaikha yang salah, tapi untuk menjaga nama baiknya, ia berusaha agar Yusuf diadili dan dibuat seolah-olah Yusuflah yang bersalah. Dan usaha ini berhasil. Yusuf diputuskan bersalah oleh pengadilan. Tapi, apakah Yusuf kecewa dengan keputusan ini? Sama sekali. Bahkan Yusuf lebih suka dipenjara. Hal ini seperti di dalam Surah Yusuf ayat 33.

Yusuf berkata,"Wahai Tuhan, masuk penjaraitu lebih saya suka daripada menuruti bujukan mereka itu. Jika Engkau tidak hindarkan aku daripada tipu daya mereka, niscaya condonglah hatiku kepada mereka, dan tentulah aku termasuk orang-orang yang tidak berilmu."

Begitulah kisah Nabi Yusuf yang telah diselamatkan oleh Allah dari godaan nafsu duniawi. Beliau malah begitu senang, meski akhirnya harus dipenjara tapi beliau dapat terhindar dari dosa besar.