"Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul. Ingatlah ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan kemudian ia ikut diundi, lalu ia termasuk orang yang kalah dalam undian. Maka, ia ditelan ikan besar dalam keadaan tercela" (QS. Ash-Shaffat: 139-142).

Di daerah Mausil, Irak tepatnya di Ninive, masyarakatnya suka menuhankan benda, menyembah patung, menganggap tempat-tempat tertentu sebagai tempat keramat. Sedangkan di daerah Syam, ada seorang yang arif dan bijaksana bernama Yunus. Yunus diperintahkan oleh Allah untuk datang ke Ninive. Di sana ia melakukan dakwah, mencegah yang mungkar (kejahatan) dan menyeru kebaikan.

Akan tetapi, ajakan Yunus itu disambut dengan sikap yang tidak terhormat. Nabi Allah itu dihadapi dengan ejekan-ejekan dan hinaan-hinaan. Rupanya kaum Ninive/Niwana itu terlalu menyombongkan diri dengan kekayaan yang dimiliki selama ini, sehingga menganggap remeh terhadap Yunus.

Yunus tetap bersabar menghadapi perlakuan kaumnya. Nabi Yunus terus mencoba, mencoba lagi untuk mengajak kaumnya kepada jalan yang benar. Tetapi, bukan pengikut yang didapatkan, malah celaan dan cemoohan. Ia menjadi rasul selama 33 tahun, namun hanya mendapat pengikut 2 orang yaitu Rubil dan Tanukh. Setelah segala usaha dilakukan, Yunus hampir putus asa. Lalu Allah memerintahkan kepada Yunus agar berdakwah selama 40 hari lagi. Bila dalam empat puluh hari umatnya belum beriman, Allah akan menurunkan siksa.

Akhirnya setelah empat puluh hari berlalu, dan penduduk Ninawa tidak juga beriman, maka Allah siap menurunkan azabnya. Pada hari itu, awan tebal bergulung-gulung di langit. Nabi Yunus segera meninggalkan mereka. Sementara orang-orang yang ketakutan dan hati mereka menjadi sempit. Kemudian mereka berbondong-bondong keluar rumahnya masing-masing dan berkumpul di suatu tempat, menyatakan tobat kepada Allah. Selain itu, mereka kebingungan mencari Nabi Yunus. Dengan sifat kasih sayang-Nya Allah menerima taubat mereka dan menghilangkan kegelapan awan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Yunus ayat 98 yang artinya:

Mengapakah tidak juga beriman penduduk negeri itu. Padahal iman itu berguna baginya, kecuali kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Kami hilangkan siksaan daripadanya di atas dunia. Dan Kami senangkan dia sampai matinya.

Pada hari sesudah itu, Nabi Yunus yang meninggalkan kampung halamannya selalu mencari-cari berita dan mendengar dari jauh, apakah penduduk Ninive telah ditimpa siksa Allah. Nabi Yunus yakin bahwa siksa itu sudah datang. Tetapi Allah Maha Kuasa, karena umat Nabi Yunus benar-benar tobat, maka azab pun dibatalkan. Kini mereka hidup dalam keadaan aman dan tenteram. Mereka kemudian berusaha mencari Nabinya.

Sedangkan Nabi Yunus, tidak mau kembali kepada kaumnya, karena takut jangan-jangan dirinya akan dibunuh oleh kaumnya. Maka ia pun meneruskan perjalanannya. Akhirnya sampailah ia di sebuah pantai dan hendak naik sebuah perahu.

Nabi Yunus meneruskan perjalanannya dengan menumpang sebuah perahu. Di tengah laut, terjadilah badai hebat yang mengolengkan kapal, memaksa para awak kapal untuk mengurangi muatan. Nahkoda kapal pun berkata,"Hai para awak kapal, sudah menjadi tradisi, jika ada penumpang yang banyak dosa, ada pelarian yang menumpang, maka di tengah samudra, kapal ini akan dihantam badai. Kita undi saja, siapa yang terkena undian maka dialah yang harus mengorbankan diri mencebur ke laut sebagai penebus dosa!"

Ketika diadakan undian, nama Nabi Yunus keluar sebanyak tiga kali berturut-turut. Rupanya, Allah menghendakinya terjun ke laut.

"Wahai Tuan Yunus, ternyata Tuan adalah orang pelarian. Karena undian tiga kali jatuh pada Tuan. Apakah benar demikian adanya?" tanya sang Nahkoda.

"Benar, aku seorang pelarian yang lari dari tanggung jawab dan kewajiban," jawab Yunus lesu.

Lalu Nabi Yunus meloncat dari bibir kapal, dan dalam waktu sekejap tubuhnya ditelan badai. Ternyata, ketika Nabi Yunus meloncat, di dalam air ada seekor ikan paus yang membuka mulutnya. Maka langsung saja, tubuh Nabi Yunus ditelan ikan paus itu. Tak lama kemudian, angin tenang kembali.

Allah MahaKuasa, meskipun Nabi Yunus berada dalam perut ikan, namun Nabi yunus tidak mati. Allah menjamin rezeki Nabi Yunus. Meskipun berhari-hari tidak makan, ia tidak merasa kelaparan dan kehausan. Tiga hari tiga malam, Nabi Yunus dibawa oleh ikan paus di dasar lautan. Nabi Yunus tak sadarkan diri. Berkat kehendak Allah, ikan paus raksasa itu terdampar ditepi pantai dan memuntahkan semua isi perutnya. Nabi Yunus pun ikut terlempar keluar. Ketika melihat ikan paus yang cukup besar berada di dekatnya, barulah ia sadar bahwa ia telah ditelan ikan itu manakala menceburkan dirinya ke laut.

Nabi Yunus menoleh ke samping kanan dan kiri, pandangannya berputar-putar di sekelilingnya. Ia lalu melihat seonggok rumpun labu dan telah berbuah. Maka didekati labu itu dan dipetik untuk dimakan. (QS Asf-Shaffat: 146).

Nabi Yunus bersyukur kepada Allah bahwa dirinya telah diselamatkan. Sebab selama dalam perut ikan dia tidak tahu berada di mana. Semua keadaan sekelilingnya jadi gelap gulita. Ia memuji Allah dan menyesali dirinya. 

Tiada Tuhan selain Engkau Maha Suci Engkau ya Allah, sesungguhnya aku tergolong orang yang aniaya. (QS Al Anbiya': 87)

Peristiwa Nabi Yunus merupakan semacam teguran dari Allah. Sebagai seorang utusan Allah, Nabi Yunus kurang bersabar dalam menyampaikan ajaran-Nya. Ia tidak sabar dalam membimbing kaum Ninawa ke jalan Allah. Kaumnya ditinggalkannya atas kehendaknya sendiri. Padahal, kaum Ninawa telah bertobat kepada Allah sebelum azab Allah diturunkan kepada mereka. Inilah sebuah contoh bahwa seorang Rasul bisa melakukan kesalahan karena ia hanyalah manusia biasa. Akhirnya, Nabi Yunus segera bertobat kepada Allah  dan kembali ke kaum Ninawa untuk memimpin mereka.

Diolah dari berbagai sumber