ANAKSALEH.com

Kisah Islami

Kesalahan Orangtua Dalam Mendidik Anak

Anak merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada kedua orangtuanya. Sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kelak, membuat orangtua harus ekstra keras dalam mendidik dan merawat buah hatinya. Walau kadang kesalahan bahkan kelalaianpun dilakukan dalam mendidik dan merawat anak-anaknya. Dengan dalih sibuk mencari nafkah, ayah menyerahkan semua urusan pendidikan dan perkembangan anak kepada sang ibu. Padahal ayah sebagai imam dalam keluarga bertanggungjawab atas semua anggota keluarga yang dipimpinnya.

Seperti pada saat ini banyak ditemukan kasus bagaimana anak sampai harus berurusan dengan hukum karena terkait narkoba, tawuran antar pelajar, bila ditelisik sebab musababnya semua bermula karena kurangnya perhatian dari orangtua. Kurangnya perhatian dari orangtua mungkin dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk kelalaian dalam mendidik anak, tapi masih banyak kesalahan-kesalahan yang mungkin tidak disadari oleh orangtua telah dilakukan pada anaknya ketika anaknya masih kecil. Inilah saatnya bagi orangtua untuk berintrospeksi diri. Allah memerintahkan kepada anak-anak untuk selalu taat kepada orangtua. Tetapi Allah juga memerintahkan orangtua untuk selalu berlaku baik kepada anak. Apalagi ayah adalah imam paling bertanggungjawab terhadap seluruh anggota keluarga yang dipimpinnya.

Banyak orangtua yang mengharapkan memiliki anak yang penurut, selalu patuh kepada orangtuanya, bersikap baik terhadap sesama, tetapi kadang tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan orangtua pada anaknya.

Berikut ini adalah beberapa bentuk kesalahan yang sering dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Mendidik anak menjadi penakut

Hal yang paling sering dilakukan oleh orangtua ketika mengetahui anaknya menangis adalah menakutinya agar tangisan anak segera berhenti. Kadang ditakuti dengan gambaran hantu, jin, suara angin, dan lain-lain. Dampaknya, anak akan tumbuh menjadi seorang penakut; takut pada bayangannya sendiri, takut pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu ditakutinya. Misalnya: takut ke kamar mandi sendiri, takut tidur sendiri karena seringnya mendengar cerita tentang hantu, jin dan lain-lain. Dan yang paling parah, tanpa disadari, kita telah menanamkan rasa takut kepada dirinya sendiri. Atau misalnya, kita khawatir ketika mereka jatuh dan ada darah di wajahnya, tangan atau lututnya. Padahal semestinya, kita bersikap tenang dan menampakkan senyuman menghadapi ketakutan anak tersebut. Bukannya justru menakuti-nakutinya, menampar wajahnya, atau memarahinya serta membesar-besarkan masalah. Akibatnya, anak akan semakin keras tangisnya, dan akan terbiasa menjadi takut apabila melihat darah atau merasa sakit.

Mendidik anak menjadi sombong

Orangtua ingin agar anaknya menjadi anak yang pemberani. Tetapi kadang salah mengarahkan. Berani tidak harus dengan bersikap sombong atau congkak kepada orang lain, dengan berkata kasar pada orang atau berbuat sewenang-wenang pada orang. Tetapi, sikap berani yang selaras tempatnya dan rasa takut apabila memang sesuatu itu harus ditakuti. Misalnya: takut berbohong, karena ia tahu, jika Allah tidak suka kepada anak yang suka bohong, atau rasa takut kepada binatang buas yang membahayakan. Kita didik anak kita untuk berani dan tidak takut dalam mengamalkan kebenaran.

Mendidik anak hidup berkemewahan tanpa peduli orang lain

Dengan kebiasaan ini, sang anak bisa tumbuh menjadi anak yang suka kemewahan, suka bersenang-senang. Hanya mementingkan dirinya sendiri, tidak peduli terhadap keadaan orang lain. Mendidik anak seperti ini dapat merusak fitrah, membunuh sikap istiqamah dalam bersikap zuhud di dunia, membinasakan muru’ah (harga diri) dan kebenaran.

Selalu memenuhi permintaan anak

Sebagian orang tua ada yang selalu memberi setiap yang diinginkan anaknya, tanpa memikirkan baik buruknya bagi anak. Padahal, tidak setiap yang diinginkan anaknya itu bermanfaat atau sesuai dengan usia dan kebutuhannya. Kalau anak terbiasa terpenuhi segala permintaannya, maka mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak peduli pada nilai uang dan beratnya mencari nafkah. Serta mereka akan menjadi orang yang tidak bisa membelanjakan uangnya dengan baik.

Luluh ketika anak menangis

Sering terjadi, anak kita yang masih kecil minta sesuatu. Jika kita menolaknya karena suatu alasan, ia akan memaksa atau mengeluarkan senjatanya, yaitu menangis. Akhirnya, orang tua akan segera memenuhi permintaannya karena kasihan atau agar anak segera berhenti menangis. Hal ini dapat menyebabkan sang anak menjadi lemah, cengeng dan tidak punya jati diri.

Terlalu keras dan kaku dalam menghadapi anak

Misalnya, dengan memukul mereka hingga memar, memarahinya dengan bentakan dan cacian, ataupun dengan cara-cara keras lain. Ini kadang terjadi, ketika sang anak sengaja berbuat salah. Padahal ia (mungkin) baru sekali melakukannya.

Terlalu pelit pada anak

Ada juga orang tua yang terlalu pelit kepada anak-anaknya, hingga anak-anaknya merasa kurang terpenuhi kebutuhannya. Pada akhirnya, mendorong anak-anak itu untuk mencari uang sendiri dengan berbagai cara. Misalnya: dengan mencuri, meminta-minta pada orang lain, atau dengan cara lain. Yang lebih parah lagi, ada orang tua yang tega menitipkan anak-anaknya ke panti asuhan untuk mengurangi beban orang tuanya. Bahkan, ada pula yang tega menjual anaknya, karena merasa tidak mampu membiayai hidup. Na’udzubillah min dzalik.

Kurang memberikan kasih sayang dan perhatian

Anak ingin selalu mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Tetapi ketika perhatian dan kasih sayang itu tidak dia dapatkan di rumah, maka anak akan mencari perhatian dan kasih sayang diluar rumah. Hal seperti ini banyak terjadi. Yang ditakutkan adalah anak berada pada pergaulan yang tidak sehat di luar rumah.

Hanya memperhatikan kebutuhan jasmani

Banyak orang tua yang mengira, bahwa mereka telah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Banyak orang tua merasa telah memberikan pendidikan yang baik, makanan dan minuman yang bergizi, pakaian yang bagus dan sekolah yang berkualitas. Sementara itu, tidak ada upaya untuk mendidik anak-anaknya agar beragama secara benar serta berakhlak mulia. Orang tua lupa, bahwa anak tidak cukup hanya diberi materi saja. Anak-anak juga membutuhkan perhatian dan kasih-sayang. Bila kasih-sayang tidak didapatkan di rumahnya, maka ia akan mencarinya dari orang lain.

Terlalu berprasangka baik pada anak

Ada sebagian orang tua yang selalu berprasangka baik kepada anak-anaknya. Menyangka, bila anak-anaknya baik-baik saja dan merasa tidak perlu ada yang dikhawatirkan, tidak pernah mengecek keadaan anak-anaknya, tidak mengenal teman-teman dekat anaknya, atau apa saja aktifitasnya. Sangat percaya kepada anak-anaknya. Ketika tiba-tiba, mendapati anaknya terkena musibah atau gejala menyimpang, misalnya terkena narkoba, barulah orang tua tersentak kaget. Berusaha menutup-nutupinya serta segera memaafkannya. Akhirnya yang tersisa adalah penyesalan tak berguna.

Sumber:almanhaj.or.id