Perang Badar terjadi pada tahun 2 H. Terjadinya perang ini dilatar belakangi oleh maksud kaum muslimin untuk mengganggu kafilang dagang Quraisy yang dipimpin oleh Abu Sufyan. Mereka membawa banyak barang dagangan milik para pemodal Makkah untuk diperdagangkan di Syria. Bagi kaum muslim, terutama yang Muhajirin, ini merupakan kesempatan mereka untuk membalas tindakan kaum Quraisy yang telah mengusir dan merampas harta mereka. Penguasaan terhadap kafilah dagang tersebut setidaknya akan mengurangi beban ekonomi yang mereka derita akibat terusir dari setidaknya akan mengurangi beban ekonomi yang mereka derita akibat terusir dari Makkah dan dirampas harta bendanya. Sangat banyak hadits yang meriwayatkan pengorbanan para sahabat yang terpaksa mengorbankan harta bendanya, demi keimanan mereka saat berhijrah. Di antaranya adalah Abdurrahman ibn Auf, Utsman bin Affan, Syuhaib al-Rumi. Mereka ikhlas melepas harta benda dan bisnisnya yang telah dibangun bertahun-tahun.

Abu Sufyan mengetahui kedatangan Muhammad saw dan pengikutnya tersebut. Ia segera mengirim utusan ke Makkah untuk meminta kaum Quraisy mengirimkan pasukan untuk melindungi kafilah dagang mereka itu. Utusan tersebut datang ke Makkah dengan mendramatisir keadaannya seolah-olah Muhammad saw dan pasukannya sudah merampas kafilah tersebut dan melukai para pedagang itu.

Hal ini cukup menyulut kemarahan para pemimpin Makkah. mereka segera menyusun kekuatan yang besar dan segera berangkat menuju Madinah. Sekarang keadaannya sudah berubah dan perang tidak dapat dihindari lagi.

Kekuatan muslim jauh lebih kecil dari kekuatan musuh. Mereka hanya berjumlah 313 orang karena dari semula memang ditujukan untuk merampas kafilah dagang Quraisy. Sementara kekuatan musuh berjumlah 1300 orang dan kemudian susut menjadi 1000 orang. Penyusutan ini terjadi karena sebagian pemimpin Quraisy merasa bahwa peperangan tidak diperlukan lagi karena ternyata kafilah dagang mereka masih selamat. Tujuan mereka ke luar Makkah adalah untuk melindungi kafilah dagang mereka, jadi berperang sudah tidak relevan lagi. Tetapi Abu Jahal bersikeras untuk menghukum kaum muslim karena telah berani menantang dan mengganggu kepentingan dagang kaum Quraisy yang sangat dihormati di Jazirah Arab.

Akhirnya, kedua pasukan bertemu di Badar dan perang pun tidak dapat dielakkan lagi. Sebelum perang dimulai, pasukan muslim membuat sebuah sumur air dan menutup sumur-sumur lainnya yang akan digunakan musuh. Dengan demikian mereka memiliki cadangan air minum yang cukup sementara kaum Quraisy tidak. Peperangan dimulai dengan perang tanding. Setelah itu perang pun pecah. Jumlah yang syahid di pihak musuh 14 orang, 6 Muhajirin dan 8 Anshar. Sedangkan pihak musyrikin kehilangan 70 orang yang tewas dan 70 lainnya ditawan. Kaum Quraisy kehilangan banyak pemimpin mereka termasuk Abu Jahal dan Abu Lahab.