Cerita Sahabat

Kisah Ka'ab Bin Malik

Salah satu ulama mengatakan "Jangan tambah kesibukan dirimu, sehingga kamu lalai perkara agama dan dakwah. Jika sudah cukup, sudahlah"

Biarlah hidup di dunia ini berjalan dengan kehendak Allah Subhanahu Wa Ta'aala. Biarlah .... tak jadi Kaya di dunia tak mengapa, yang penting Allah jadikan Indah surga itu nanti.

Hal seperti ini pernah terjadi pada sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam yang bernama Ka'ab bin Malik. Dari sahabat Rasul inilah kita dapat belajar tentang pentingnya mendahulukan kepentingan akhirat ketimbang masalah duniawi. Semoga kisah Ka'ab bin Malik ini bisa memberikan pembelajaran bagi kita semua..

Dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik –dialah yang menuntun Ka’ab ketika telah buta dari sekian banyak anaknya- dia berkata, “Saya mendengar Ka’ab bin Malik (yakni ayahnya) bercerita mengenai kisahnya ketika tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perang Tabuk. Ka’ab berkata:

“Saya tidak pernah tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu peperangan pun kecuali perang Tabuk. Walaupun saya juga tertinggal dari perang Badr, tetapi ketahuilah sesungguhnya tidak ada seorang pun yang tertinggal dari peperangan tersebut yang dicela. Hal ini karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin keluar pada perang Badr hanya untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan antara kaum muslimin dan musuh mereka dengan tanpa perjanjian. Saya juga telah menyaksikan malam Aqabah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kami berbai’at di atas Islam. Hal itu lebih saya senangi daripada saya ikut perang Badr walaupun perang Badr itu lebih banyak disebut-sebut orang.

Dulu, berita yang tersebar mengenai diri saya ketika tertinggal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada perang Tabuk bahwa saya tidaklah lebih kuat dan lebih lapang untuk berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat itu. Padahal demi Allah, saya belum pernah memiliki dua unta dan saya memilikinya pada perang tersebut. Tidaklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika hendak berperang kecuali selalu beliau samarkan dengan yang lain. Dalam perang ini beliau berperang pada musim panas dan menempuh perjalanan jauh melewati gurun yang gersang untuk menghadapi pasukan yang besar. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada kaum muslimin tentang perkara ini agar mereka menyiapkan persiapan perang. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan kepada manusia maksud beliau. Kaum muslimin yang mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat banyak sehingga tidak seorangpun yang sanggup mencatatnya.

Maka orang-orang yang absen darinya sangatlah sedikit. Mereka yang absen menyangka bahwa keadaan mereka yang sebenarnya tidak akan diketahui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama tidak turun wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menerangkan hal tersebut.” Kata Ka’ab.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan perang tersebut ketika musim kurma telah siap panen di mana ketika itu saya cenderung kepadanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum muslimin telah bersiap-siap sedangkan saya merencanakan besok saja. Saya pulang dan masih belum menyiapkan persiapan perang sama sekali. “Saya mampu untuk berperang kapanpun saya berkehendak,” kataku di dalam hati.

Akan tetapi keadaan seperti itu terus berlarut hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin berangkat. Adapun saya, masih tetap belum menyiapkan sesuatu pun. Saya kembali pulang dan belum juga bersiap-siap. Keadaan tersebut terus berlarut sampai saya benar-benar tertinggal dari pasukan. Saya lalu bertekad untuk berangkat dan menyusul. Coba kalau dulu saya melakukannya?! Hingga akhirnya saya tetap tidak bisa mengikuti peperangan itu.

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat saya sangat bersedih sekali di mana ketika itu saya keluar, saya tidak mendapatkan seorangpun dari kaum muslimin, kecuali beberapa orang yang terkenal dengan tuduhan kemunafikan atau orang-orang lemah yang diberi maaf oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tidak ikut berperang.

Ketika itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak menyebut-nyebut nama saya sehingga beliau sampai di Tabuk. Sesampainya beliau di Tabuk ketika sedang duduk-duduk bersama kaum muslimin, baru Beliau bertanya, “Apa yang diperbuat Ka’ab bin Malik?”

“Yaa Rasulullah, dia terhalang oleh kain mantelnya dan hanya melihat-lihat mantel itu,” kata seorang dari Bani Salamah.

“Jelek benar apa yang kamu katakan, demi Allah wahai Rasulullah, kami tidak mengenal dirinya kecuali kebaikan,” balas Mu’adz bin Jabal kepada orang tersebut.

Rasulullah terdiam, dalam keadaan seperti itu tiba-tiba Beliau melihat seorang laki-laki yang tidak begitu jelas karena terpengaruh adanya fatamorgana.

“Itu adalah Abu Khaitsamah.” Kata Rasulullah.

Ternyata benar, dia Abu Khaitsamah Al Anshory yang pernah bershodaqoh dengan satu sho’ kurma (kurang lebih 2,5 kg) di mana ketika itu orang-orang munafik mencelanya.

Ka’ab bin Malik kemudian melanjutkan ceritanya.

Ketika sampai kabar pada saya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah pulang dari Tabuk maka datanglah kesedihanku dan hampir saja saya hendak berdusta kepada beliau untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya agar terlepas dari kemarahan beliau. Saya pun sudah berusaha untuk meminta pendapat seluruh keluarga saya dalam mencari alasan. Setelah ada berita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar telah datang, hilanglah segala keinginanku untuk berdusta karena saya yakin bahwasanya saya tidak akan selamat selama-lamanya. Maka saya bertekad untuk berkata dengan sejujurnya.

Keesokan harinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang. Sudah menjadi kebiasaan beliau bila datang dari safar selalu shalat dua rakaat di masjid kemudian duduk berbincang-bincang dengan para sahabat. Pada saat itu datanglah orang-orang yang tidak ikut berperang untuk mengajukan alasan-alasan mereka disertai dengan sumpah kepada beliau yang jumlahnya sekitar 80 orang lebih. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima alasan mereka sesuai dengan apa yang mereka nampakkan. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membai’at dan memintakan ampun untuk mereka serta menyerahkan apa yang ada di batin mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika saya menghadap dan mengucapkan salam kepada beliau, beliau tersenyum sinis kepada saya dan bersabda, “Kemari!!”

Saya pun datang mendekat dan duduk di hadapan beliau.

“Apa yang menyebabkan kamu tidak ikut perang ini, bukankah kamu telah menyiapkan kendaraan?” tanya beliau.

“Yaa Rasulullah, demi Allah seandainya saya duduk di hadapan penduduk bumi ini selain engkau pasti saya akan beralasan agar selamat dari kemarahannya karena saya orang yang pandai berdebat. Tetapi demi Allah, seandainya saya berdusta pada hari ini sehingga engkau ridha, pasti Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuat engkau marah kepada saya. Namun seandainya saya jujur niscaya engkau akan marah pada saya, tetapi saya tetap mengharapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk memberikan akibat yang baik. Demi Allah, saya tidak mempunyai udzur. Demi Allah tidaklah sebelumnya saya lebih kuat dan mampu dari pada ketika saya tidak ikut berperang bersama engkau,” jujur Ka’ab.

“Adapun yang ini telah berkata jujur, pergilah sampai Allah yang memutuskan tentang dirimu,” kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka akupun pergi. Sewaktu saya pergi, beberapa orang Bani Salamah mengikuti saya. Mereka berkata kepada saya, “Demi Allah, kami belum pernah mengetahui kami berbuat kesalahan sebelumnya, kenapa kamu tidak minta maaf saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana orang-orang yang tidak ikut berperang?! Sesungguhnya permintaan ampun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Allah untuk kamu akan menghapuskan dosamu?!”

Ka’ab bin Malik berkata, “Demi Allah mereka selalu mencela sikapku sehingga bermaksud untuk kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan mendustakan diriku sendiri.”

“Apakah ada seorang yang menerima keputusan seperti saya ini?” tanyaku kepada orang-orang Bani Salamah tersebut.

“Ya, ada dua orang yang mengatakan seperti apa yang kamu katakan dan keduanya itu mendapatkan keputusan seperti keputusan yang diberikan kepadamu,” Jawab mereka.

“Siapakah kedua orang itu?” tegasnya.

“Murarah bin Rabiah Al ‘Amiry dan Hilal bin Umayah Al Waqify.”

Ka’ab bin Malik berkata, ”Setelah mereka menyebutkan kepada saya dua orang yang shalih ini di mana keduanya itu juga ikut perang Badr dan mempunyai keutamaan maka ketika itu saya merasa agak tenang.”

Read more: Kisah Ka'ab Bin...

Balasan Karena Meninggalkan Shalat

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam sedang duduk bersama para sahabat, kemudian  datang seorang pemuda yang masuk ke dalam masjid sambil menangis.

Tanpa sengaja, Rasulullah melihat pemuda itu menangis, kemudian Rasulullah bertanya kepadanya,"Mengapa engkau menangis wahai anak muda?"

"Ya Rasulullah, ayah saya telah meninggal dunia. Tetapi tidak ada kain kafan yang cukup untuk jenazahnya, dan tidak ada pula orang yang mau memandikannya," demikian jawab anak muda sambi terus menangis.

Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan kepada Abu Bakar ra dan Umar ra ikut pemuda itu untuk melihat masalahnya.
Setelah sampai di rumah sang pemuda itu, barulah Abu Bakar ra dan Umar ra tahu bahwa ayah sang pemuda itu telah bertukar rupa menjadi babi hutan yang hitam.

Kemudian, Abu Bakar dan Umar pun kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan semua yang dilihatnya, bahwa mayat ayah sang pemuda telah bertukar rupa menjadi seekor babi hutan yang hitam.  

Setelah mendengar cerita dari Abu Bakar dan Umar, Rasulullah beserta para sahabat pergi ke rumah pemuda tadi. Kemudian Rasulullah bedoa kepada Allah agar mayat itu kembali berubah menjadi bentuk manusia seperti semula. Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan para sahabat mensholati mayat tersebut.

Read more: Balasan Karena...

Peran Abu Bakar Ketika Menemani Rasulullah Hijrah Ke Madinah

Suatu saat Abu Ishaq mendengar al Barra bin Azib berkata: Sayyidina Abu  Bakar radliyallahu anhu datang menemui ayahku dirumah. Beliau membeli  pelana unta dari ayah. Lalu beliau berkata kepada ayah: " utus anakmu  untuk membawa pelana itu bersamaku”. Lantas aku bawa pelana itu bersama  beliau. Ayah keluar meminta uang pembayaran.

Kemudian ayah berkata kepada  beliau: "Ceritakan kepadaku bagaimana cerita anda dan Rasul shallallahu  alaihi wasallam dikala anda bersama beliau berjalan dimalam hari ketika  keluar dari gua tsur menuju madinah untuk hijrah?"

"Iya, kami berjalan pada malam itu sampai besoknya, sampai waktu siang yang begitu panas. Jalanan sepi, tiada satupun orang yang lewat disana. Nampaklah batu besar panjang yang disana terdapat naungan yang terlindung dari sorot matahari. Maka akhirnya kami istirahat disana. Aku ratakan  satu tempat memakai tanganku untuk digunakan Rasulullah shallallahu  alaihi wasallam tidur. Aku gelar alas ditempat itu. Lalu aku berkata: "Silahkan tidur, ya Rasulallah, aku yang nanti membersihkan debu-debu  yang ada disekeliling Anda". Rasulullah tidur, aku keluar membersihkan debu-debu yang ada disekelilingnya.

Tiba-tiba ada seorang penggembala yang mengarahkan kambingnya ke arah batu besar itu yang juga hendak istirahat. Penggembala itu bertanya: " siapa kamu?"Aku jawab: "Aku  orang Madinah". "Apakah kambingmu punya susu?", "Iya, punya", "Tidak anda perah?", "Oh, iya". Maka ia ambil kambing itu. " Tolong Bersihkan  putingnya dulu dari debu, rambut, dan kotoran lainnya" pintaku. Ia lantas mewadahi susu yang sedikit itu di sebuah wadah dari kayu. Dan aku juga  membawa sebuah wadah untuk dipakai Nabi minum dan wudlu.

Read more: Peran Abu Bakar...

Kisah Sahabat Rasulullah Sa'id Bin Zaid RA

Sa'id bin Zaid al Adawy RA adalah salah satu sahabat Rasulullah yang memeluk Islam dimasa-masa awal. Ia memeluk Islam bersama istrinya, Fathimah binti Khattab, adik dari Umar bin Khattab. Sejak masa remajanya di masa jahiliyah, ia tidak pernah mengikuti perbuatan-perbuatan yang umumnya dilakukan oleh kaum Quraisy, seperti menyembah berhala, bermain judi, minum minuman keras, main wanita dan perbuatan nista lainnya. Sikap dan pandangan hidupnyaini ternyata diwarisi dari ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal.

Sejak lama Zaid bin Amru telah meyakini kebenaran agama Ibrahim, tetapi tidak mengikuti Agama Yahudi dan Nasrani yang menurutnya telah jauh menyimpang dari agama Ibrahim. Ia tidak segan mencela cara-cara peribadatan dan perbuatan jahiliyah dari kaum Quraisy tanpa rasa takut sedikitpun. Ia pernah bersandar di dinding Ka'bah ketika kaum Quraisy sedang melakukan ritual-ritual penyembahannya sambil berkata,"Wahai kaum Quraisy, apakah tidak ada di antara kalian yang menganut agama Ibrahim selain aku?".

Zaid bin Amru juga sangat aktif menentang kebiasaan kaum Quraisy mengubur hidup-hidup anak-anak perempuannya,karena dianggap sebagai aib, seperti yang dilakukan Umar bin Khattab di masa jahiliyahnya. Ia selalu menawarkan diri untuk mengasuh anak-anak perempuan itu. Ia juga selalu menolah memakan daging yang disembelih tidak disebutkan nama Allah saat penyembelihannya.

Seakan-akan ia memperoleh ilham, Ia pernah berkata kepada sahabat dan kerabatnya,"Aku sedang menunggu seorang Nabi dari keturunan Ismail, hanya saja rasanya aku tidak akan sempat melihatnya, tetapi aku beriman kepadanya dan meyakini keberadaannya!!"

Zaid bin Amru sempat bertemu dan bergaul dengan Nabi Muhammad SAW sebelum beliau dikukuhkan sebagai Nabi dan Rasul, sosok pemuda ini (yakni, Nabi Muhammad SAW)sangat mengagumkan bagi dirinya, di samping akhlaknya yang mulia, pemuda ini juga mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang kebiasaan dan ritual jahiliyah kaum Quraisy. tetapi Zaid meninggal ketika Kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka'bah, yakni ketika Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam berusia 35 tahun.

Read more: Kisah Sahabat...