Cerita Sahabat

Kisah Umair Bin Sa'ad

Alkisah, seorang pejuang yang bernama Umair bin Saad ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi gubernur Hims. Sejak menjabat sebagai gubernur, dan berjalan hingga  satu tahun, Umair bin Saad belum pernah sekalipun memberi kabar apapun kepada Khalifah Umar di Madinah.

Bahkan, menurut informasi yang di terima oleh khalifah Umar, Gubernur Umair bin Saad belum pernah menyetorkan pajak satu dinar atau satu dirham pun ke Baitul Mal di Madinah selama dia menjabat. Hal inilah yang membuat banyak orang terheran-heran tidak terkecuali Khalifah Umar juga menaruh curiga pada Umair bin Saad. Adatanda tanya besar dalam hati Khalifah Umar bin khattab dan khawatir bila ada masalah dengan pemerintahan Umair.

Read more: Kisah Umair Bin...

Kisah Kesatria Yang Memenuhi Janji

Suatu hari Umar kedatangan kakak beradik yang melaporkan seorang pemuda karena telah membunuh ayah mereka. Mereka meminta qishash sebagai bentuk keadilan atas perbuatan pemuda tersebut. Pemuda itu hanya tertunduk penuh sesal mengakui perbuatannya di depan Sang Khalifah. Akan tetapi kedua kakak beradik tersebut bersikeras untuk tetap melanjutkan qishash.

“Maaf wahai Amirul Mukminin, kami sangat menyayangi ayah kami.” Potong kedua pemuda itu dengan mata merah antara sedih dan marah.

Umar yang tumbuh simpati pada terdakwa yang dinilainya amanah, jujur dan bertanggung jawab kehabisan akal meyakinkan penggugat.

“Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakan qishash atasku. Aku ridha pada ketentuan Allah, hanya saja izinkan aku menunaikan semua amanah yang tertanggung dulu.”

Read more: Kisah Kesatria...

Akibat Durhaka Kepada Ibu

Al Qomah adalah seorang lelaki yang tekun dan saleh. Ia suka menolong dan membantu di antara sahabat-sahabatnya. Dan ia telah berkeluarga, namun belum dikaruniai anak. Al Qomah hidup berdua dengan istrinya, menempati sebuah rumah yang terpisah agak jauh dengan orangtuanya.

Suatu hari, dengan tergopoh-gopoh istri Al Qomah datang menemui Rasulullah dan mengabarkan bahwa suaminya sedang sakit keras. 

"Ya Rasulullah, beberapa kali Al Qomah mengalami naza' tapi juga tak sembuh-sembuh. Aku sangat kasihan kepadanya,"ratap istrinya itu.

Mendengar kata-kata istri Al Qomah, Rasulullah merasa iba dan kasihan. Beliau lalu mengutus sahabat Bilal, Shuhaib dan Ammar untuk menjenguk Al Qomah. 

Sesampai di rumah Al Qomah, para sahabat melihat lelaki itu memang sedang dalam keadaan koma. Bilal lalu menuntunnya membaca talqin dengan cara membisikkan di telinga Al Qomah, tapi anehnya mulutnya seakan-akan terkunci tak mau membuka sedikitpun. Berungkali dicoba tetap saja mulut Al Qomah tertutup dengan rapat.

Tiga sahabat itu lalu bergegas pulang dan melaporkan tentang hal tersebut kepada Rasulullah.

"Sudah kau coba untuk menalqin ditelinganya?" tanya Rasulullah.

"Sudah, Ya Rasulullah. Tapi mulutnya selalu terbungkam," jawab Bilal.

"Biar aku sendiri yang akan kesana,"jawab Rasulullah.

Begitu Rasulullah melihat keadaan AlQomah yang memilukan itu, beliau langsung bertanya kepada istrinya. 

"Masih hidupkah orangtuanya Al Qomah?" tanya beliau.

"Masih ya Rasulullah, tetapi hanya tinggal ibunya saja yang sudah tua renta,"jawab istrinya. 

"Dimana dia sekarang?" Rasulullah balik bertanya.

"Di rumahnya, tetapi tempatnya jauh dari sini,"jawab istrinya kemudian.

Tanpa banyak berbicara lagi Rasulullah mengajak ketiga sahabatnya untuk menemui ibu Al Qomah untuk mengabarkan keadaan anaknya. 

Tetapi jawaban ibu Al Qomah sangat mengejutkan Rasulullah dan para sahabat, setelah beliau mengabarkan bahwa anaknya tengah sakit keras. "Biarlah dia rasakan sendiri," jawab sang ibu dengan acuh tak acuh.

"Tetapi di dalam keadaan sekarat, Bu? apakah ibu tidak merasa kasihan kepada anak ibu?" tanya Rasulullah.

"Dia telah berbuat dosa kepadaku," jawabnya singkat.

"Ya, tapi maafkanlah dia. Sudah sewajarnya ibu memaafkan anak ibu yang tengah sekarat saat ini," bujuk Rasulullah.

"Bagaimana aku bisa memaafkannya ya Rasulullah, jika Al Qomah selalu saja menyakiti hatiku sejak dia mempunyai seorang istri," kata ibu Al Qomah.

Mendengar ucapan ibu Al Qomah, asulullah menjadi mengerti apa yang menyebabkan lelaki itu mengalami naza' yang cukup lama, itu karena telah durhaka terhadap orangtuanya. 

"Baiklah jika ibu tidak mau memaafkan Al Qomah, maka dia tidak akan bisa mengucapkan syahadat, dan dia akan mati dalam keadaan kafir," kata Rasulullah.

"Biarlah dia masuk neraka," kata sang ibu.

Merasa bujukannya tidak berhasil meluluhkan hati orangtua itu, maka Rasulullah mencari akal.

"Hai sahabat Bilal, kumpulkan kayu bakar sebanyak-banyakya!" perintah Rasulullah kepada Bilal. "Untuk apa kayu bakar itu, ya Rasulullah?" tanya Bilal kembali. 

"Akan aku gunakan untuk membakar Al Qomah, daripada dia hidup tapi terus tersiksa seperti ini. Lebih baik kita bakar saja agar lebih cepat dia mati. Dan itu lebih baik daripada dia menanggung sakit lebih lama lagi," jawab Rasulullah.

Mendengar perkataan Rasulullah, Ibu Al Qomah tersentak. Hatinya luluh membayangkan apa jadinya jika anaknya dibakar hidup-hidup. Lalu iapun menghadap Rasulullah sambil terisak. 

"Wahai Rasulullah, jangan kau bakar anakku. Kasihanilah dia. Aku telah memaafkan apa yang telah diperbuatnya terhadapku," ratapnya memelas.

Mendengar hal itu, legalah hati Rasulullah karena telah berhasil meluluhkan hati seorang ibu yang telah menaruh dendam kepada anak lelakinya. Beliau lalu mendatangi Al Qomah dan membisikkan kalimat syahadat dan dzikir seperti yang dituntunkan Rasulullah. 

Al Qomah kemudian menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah fasih mengucapkan kalimah syahadat. Ia meninggal dengan khusnul khotimah. Jiwanya telah menjadi tenang, karena telah diampuni dosanya oleh ibu kandungnya. Memang benar surga itu berada di telapak kaki ibu.

 

Sahabat Utsman Bin Affan RA Sang Ahli Surga

Nama lengkapnya adalah ‘Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al Umawy al Qurasy, pada masa Jahiliyah ia dipanggil dengan Abu ‘Amr dan pada masa Islam nama julukannya adalah Abu ‘Abdillah. Dan juga ia digelari dengan sebutan “Dzunnuraini”, dikarenakan beliau menikahi dua puteri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Ibunya bernama Arwa’ bin Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin ‘Abdi Syams yang kemudian menganut Islam yang baik dan teguh. Wajah beliau sangat tampan, berperawakan sedang, berdada lebar dan warna kulit sawo matang. Memiliki jenggot dan rambut yg lebat. Beliau adalah seorang saudagar yang kaya lagi dermawan, banyak berbuat kebaikan, lembut perangainya, penyabar, penyayang, suka menyambung kekerabatan, memiliki sifat pemalu dan rajin melaksanakan puasa serta shalat malam. Beliau termasuk jajaran sahabat yang terdahulu masuk Islam.

Ketika itu para sahabat yang masuk Islam baru mencapai 38 orang. Tatkala diketahui masuk Islam, sang paman yang bernama al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah langsung mengikat tubuh beliau seraya mengatakan, Apakah engkau membenci agama nenek moyangmu dan lebih memilih agama yang baru? Demi Allah, aku tidak akan memenuhi kebutuhanmu sampai engkau meninggalkan agama tersebut! Beliau mengatakan, Demi Allah, aku tidak akan meninggalkannya selama-lamanya! Demi melihat teguhnya pendirian beliau, sang paman pun akhirnya meninggalkannya.

Imam Muslim telah meriwayatkan dari ‘Aisyah, seraya berkata, ”Pada suatu hari Rasulullah sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka), ketika Utsman meminta izin kepada beliau, amaka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka aku (Aisyah) bertanya, ”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya, tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka), sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakainanmu (dipakai untuk menutupinya)." Maka Rasulullah menjawab, ”Wahai Aisyah, Bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang malaikat saja merasa malu kepadanya”."

Jasa dan Prestasi sahabat Utsman bin Affan  dalam perkembangan Islam 

Menyiapkan bekal untuk pasukan Perang Tabuk

Utsman bin Affan radhiyallahu anhu menginfakkan harta untuk kebutuhan sepertiga pasukan sebanyak 900 unta dan 100 kuda serta uang sebesar 1000 dinar lebih. Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan, Utsman telah memberikan infak kepada pasukan perang Tabuk dengan infak yang sangat besar yang belum pernah ada seorang pun yang memberikan infak sebesar itu. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang mempersiapkan bekal untuk pasukan al-Usrah (perang Tabuk) maka baginya adalah al-Jannah (surga). (HR. al-Bukhari no. 2778)

Mewakafkan sumur Ruumah untuk kaum muslimin.

Ruumah adalah nama sebuah sumur yang cukup terkenal di lembah kota Madinah dan dimiliki oleh seorang Yahudi. Kaum muslimin biasa membeli air dari sumur Yahudi tersebut dengan harga 1 dirham setiap 1 kantong air. Kemudian beliau membelinya dengan harga 20.000 dirham, dan mewakafkannya untuk kaum muslimin. Dalam perjuangan untuk kepentingan agama Allah dan perjuangan Rasul-Nya, Utsman bin Affan r.a. tidak pernah menghitung-hitung untung rugi. Hampir semua kekayaannya, harta benda dan jiwanya diserahkan untuk kepentingan menegakkan agama Allah. Ia terkenal pula dengan amal perbuatannya, yang dengan uang dari kantong sendiri membeli sumber air jernih "Bir Romah" untuk kepentingan semua kaum muslimin.

Utsman bin Affan r.a. jugalah yang dengan uangnya sendiri membayar harga tanah sekitar masjid Rasulullah s.a.w., ketika masjid itu sudah terlampau sempit untuk menampung jemaah yang bertambah membeludak. Pada waktu kaum muslimin menghadapi paceklik hebat, pada saat mana Rasulullah s.a.w. telah mengambil keputusan untuk memberangkatkan pasukan guna menghantam perlawanan Romawi, Utsman bin Affan r.a. lah yang mengeluarkan uangnya sendiri untuk membeli senjata dan perlengkapan perang lainnya. Ia memang seorang hartawan yang dermawan dan semua hartanya dihabiskan untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Menyatukan Al-Qur`an dalam satu bacaan

Dalam rangka menyatukan bacaan Al-Qur`an, beliau membentuk panitia kerja yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit. Dan panitia kerja berhasil menyusun standar salinan Al-Qur`an yang dikenal dengan nama Mushaf Utsmani, untuk kemudian diperbanyak dan dikirim ke berbagai daerah serta memerintahkan untuk menarik semua mushaf yang tidak sesuai dengan Mushaf Utsmani dalam rangka penyatuan bacaan Al-Qur`an.

Menjadi Khalifah

Beliau dibaiat sebagai khalifah, 3 hari setelah pemakaman khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu anhu. Tepatnya pada hari Sabtu bulan Muharam tahun 24 Hijriyah (644 Masehi) dalam usia 70 tahun. Pada masa pemerintahan Utsman radhiyallahu anhu, kaum muslimin dengan pertolongan Allah subhanahu wa taala berhasil menaklukkan beberapa daerah. Daerah-daerah yang ditaklukkan meliputi daerah Ray (Teheran), Hamadzan, benteng-benteng Romawi, kota Sabur, beberapa daerah di benua Afrika sampai berhasil menembus negeri Andalusia (Spanyol), Asbahan, Khurasan, Sijistan, Naisabur, Thabaristan, Thus, Sarkhas, Maru dan Baihaq.

Selama masa jabatannya, Utsman banyak mengganti gubernur wilayah yang tidak cocok atau kurang cakap dan menggantikannya dengan orang-orang yang lebih kredibel. Namun hal ini banyak membuat sakit hati pejabat yang diturunkan sehingga mereka bersekongkol untuk membunuh khalifah.

Khalifah Utsman kemudian dikepung oleh pemberontak selama 40 hari dimulai dari bulan Ramadhan hingga Dzulhijah. Dia diberi 2 ulimatum oleh pemberontak (Ghafiki dan Sudan), yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Persis seperti apa yang disampaikan Rasullullah S.A.W perihal kematian Utsman yang syahid nantinya, peristiwa pembunuhan usman berawal dari pengepungan rumah Utsman oleh para pemberontak selama 40 hari. Utsman wafat pada hari Jumat 18 Dzulhijjah 35 H.[2] Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

Mendapat kabar gembira masuk surga

Dahulu ada seseorang minta izin untuk menemui Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan kepada Abu Musa al-Asyari radhiyallahu anhu:
Izinkan baginya dan berilah kabar gembira dengan surga atas musibah yang akan menimpanya. (HR. al-Bukhari no. 3695)
Tatkala pintu dibuka, ternyata orang tersebut adalah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu.

Diolah dari berbagai sumber