Cerita Sahabat

Kisah Said Bin Amir al-Jumahi

Pada saat itu, hukuman mati atas Khubaib bin Adi, sahabat Rasulullah yang tertangkap oleh kaum kafir Quraisy akan dilaksanakan. Semua orang datang ke padang Tan’im untuk menyaksikan  hukuman tersebut. Dan salah satunya adalah seorang pemuda yang bernama Said bin Amir al-Jumahi. Tidak sulit bagi Said untuk berebut tempat di depan. Dengan begitu dia dapat duduk sejajar di antara para pemuka Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah, dan lain-lainya yang menyelenggarakan acara tersebut.

Manakala rombongan besar dengan seorang tawanan tersebut telah tiba di tempat yang sudah disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said bin Amir al-Jumahi berdiri tegak memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib. Said mendengar suara Khubaib di antara teriakan kaum wanita dan anak-anak, dia mendengarnya berkata, “Bila kalian berkenan membiarkanku shalat dua rakaat sebelum aku kalian bunuh?”

Said melihat Khubaib menghadap kiblat, shalat dua rakaat, dua rakaat yang sangat baik dan sangat sempurna.

Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata, “Demi Allah, kalau aku tidak khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama shalat karena takut mati, niscaya aku akan memperlama shalatku.”

Kemudia Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang jasad Khubaib sepotong demi sepotong padahal Khubaib masih hidup, sambil berkata, “Apakah kamu ingin Muhammad ada di tempatmu ini sedangkan kamu selamat?

Khubaib menjawab sementara darah menetes dari jasadnya, “Demi Allah, aku tidak ingin berada di antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang sementara Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.”

Maka orang banyak pun mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara, teriakan mereka gegap gempita menggema di langit.

Di saat itu Said bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang salib dan berkata, “Ya Allah, balaslah mereka satu persatu, bunuhlah mereka sampai habis, dan jangan biarkan seorang pun dari mereka hidup dengan aman.”

Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir. Orang-orang Quraisy kembali ke Mekah, mereka melupakan Khubaib dan kematiannya bersama dengan datangya peristiwa demi peristiwa besar yang mereka hadapi.

Read more: Kisah Said Bin...

Kisah Umar bin Al-Khattab

Beliau bernama adalah Umar bin Khattab bin Nufail bin Abdul Izzy bin Rabah bin Qirath bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luay al-Quraisy al-‘Adawy. Dilahirkan di kota Mekkah dari suku Bani Adi. Ayahnya bernama Khattab bin Nufail Al Shimh Al Quraisyi dan ibunya Hantamah binti Hasyim, dari marga Bani Makhzum. Rasulullah memberikan julukan Umar bin Khattab, Al-Faruq yang berarti orang yang bisa memisahkan antara kebenaran dan kebatilan. Keluarga Umar dapat dikatakan keluarga yang cukup disegani dan dihormati karena termasuk dalam golongan keluarga kelas menengah. Selain itu Umar termasuk orang yang cakap, terbukti pada masa itu Umar juga sudah bisa membaca dan menulis.

Read more: Kisah Umar bin...

Kisah Rasulullah Dan Ukasyah RA

Kisah ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. yang terjadi pada Rasulullah disaat sudah dekat dengan waktu meninggalnya Beliau. Ketika itu Rasulullah menyuruh Bilal adzan untuk mengerjakan solat, lalu berkumpul para sahabat di masjid. Semuanya merasa rindu setelah lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Rasulullah saw menunaikan solat dua raka’at bersama semua yang hadir. Setelah  usai sholat, Rasulullah naik ke atas mimbar dan duduk dengan lemah. Wajahnya terlihat begitu pucat, seakan menahan sakit yang tengah dideritanya.  

Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Wahai sahabat-sahabatku. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah subhanaahu wa ta ala itu adalah satu-satunya Rabb yang layak di sembah?” Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, ” Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah subhaanahu wa ta ‘ala adalah satu-satunya Rabb yang layak disembah.”

Read more: Kisah Rasulullah...

Sahabat Rasulullah Abu Bakar Ash-Shiddiiq

Abdullah bin Utsman bin Amir bin Amru bin Ka`ab bin Sa`ad bin Taim bin Murrah bin Ka`ab bin Lu`ai bin Ghalib bin Fihr al-Qurasy at-Taimi, radhiyallahu`anhu merupakan nama lengkap dari Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau bisa dikatakan sebagai sahabat Rasulullah yang paling awal masuk Islam. Beliau juga telah menemani sejak awal Rasulullah diutus sebagai Rasul. Abu Bakar mendapat julukan Ash-Shiddiq  yang berarti 'yang berkata benar', setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi'raj yang diceritakan oleh Rasulullah kepada para pengikutnya sedang kebanyakan orang pada saat itu mendustakan kejadian tersebut. Selain itu, Abu Bakar mendapat julukan 'Atiq. Sebagian ulama berpendapat mengapa beliau dijuluki ‘Atiq karena beliau tampan. Sebagian mengatakan karena beliau berwajah cerah. Pendapat lain mengatakan karena beliau selalu terdepan dalam kebaikan. 

Pada saat Nabi Muhammad menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Nabi Muhammad hidup bertetangga dengan Abu Bakar. Sejak saat itu mereka hidup bersama. Nabi Muhammad dan Abu Bakar memiliki usia hampir sama, keduanya memiliki keahlian berdagang. Pada saat Abu Bakar masuk Islam, istrinya yang bernama Qutaylah binti Abdul Uzza tidak menerima Islam sebagai agamanya sehingga Abu Bakar menceraikannya. Sedangkan Istrinya yang lain, Ummu Ruman, bersedia meneriman ajakan Abu Bakar untuk menjadi Muslimah. Juga semua anaknya kecuali 'Abd Rahman bin Abu Bakar, sehingga ia dan 'Abd Rahman berpisah.

Read more: Sahabat Rasulullah...