Cerita Sahabat

Sebuah KIsah Keistimewaan Yang Tak Nyaman

Seringkali kita melihat seseorang itu diistimewakan atau ingin diperlakukan istimewa hanya karena orang itu mempunyai kedudukan, jabatan atau status sosial yang "lebih tinggi" dibandingkan yang lainnya. Hal ini menyebabkan orang-orang yang "lebih rendah" kedudukannya seperti tidak memiliki hak apa-apa dan seperti diperlakukan tidak adil dalam hidupnya. Hal seperti ini tidak hanya terjadi sekarang saja, tetapi sejak dari dulu pun keistimewaan seperti ini sudah terjadi.

Pada masa itu, perlindungan merupakan salah satu adat di antara tradisi-tradisi Arab yang paling dihormati. Sekiranya ada seorang lemah yang berada dalam perlindungan seorang pemuka Quraisy, maka dia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Darahnya tak boleh ditumpahkan dan keamanan dirinya tak perlu dikhawatirkan.

Tentu saja tak banyak orang yang bisa beroleh keistimewaan semacam ini. ‘Utsman ibn Mazh’un termasuk di antara yang sedikit itu. Dia berada di dalam kota Makkah dalam keadaan sentausa, menyeberangi jalan-jalannya, menyusuri lorong-lorongnya tanpa khawatir akan kezhaliman dan marabahaya.

Tetapi ‘Utsman ibn Mazh’un adalah lelaki yang hidup dalam bimbingan wahyu dan tempaan tarbiyah Sang Nabi. Dia senantiasa memperhatikan sekelilingnya. Ada kerisauan yang mencucuk-cucuk di hati tatkala menyaksikan saudaranya sesama muslim terutama dari golongan miskin lagi lemah dianiaya. Mereka tak mendapatkan pembelaan dan tak satupun tokoh yang bersedia menjadi pelindung mereka.

Kekhususan yang dimilikinya, jadi terasa menyiksa.

Melihat saudara-saudaranya diterkam bahaya dari segala jurusan, diserang aniaya di semua jalan, dan disakiti setiap hari, hati ‘Utsman bergolak. Dia menjadi tak ridha atas ketenteraman yang dinikmatinya. Maka satu hari dia keluar dari rumahnya menuju ke Ka’bah dengan niat bulat untuk melepaskan segala perlindungan yang menaunginya dan menyerahkan diri hanya pada kuasa Allah ‘Azza wa Jalla.

Read more: Sebuah KIsah...

Kisah Hikmah Mengurus Janda Dan Anak Yatim

Seorang janda miskin membawa tiga anak kandungnya, berjalan tertatih-tatih di kota Bashrah. Dia sedang mencari pekerjaan halal untuk kehidupan sehari-harinya. Namun, semua pintu rumah orang-orang kaya di kota itu tertutup rapat, termasuk rumah gubernur yang banyak dikunjungi tamu-tamu kaya.

Gubernur sendiri datang ke gerbang untuk mengusir janda miskin beserta ketiga anaknya yang yatim. Orang-orang yang menyaksikan tindakan gubernur tertawa bahagia. Mereka seolah sepakat, orang miskin tak boleh tampak di depan mata mereka.

Sambil menangis penuh kepedihan, janda miskin itu segera menjauh, ia tiba-tiba teringat firman Allah SWT, surat Al Ma'un ayat 1-3 yang sering dibaca bersama almarhum suaminya, baik pada waktu sholat dan tadarus. "Tahukah kamu (orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."

Ketika melepas lelah di bawah pohon, tiba-tiba seorang wanita cantik datang menyapa mereka dengan ramah. Terjadilah obrolan singkat. janda miskin itu pun mengutarakan nasibnya tanpa tedeng aling-aling.
"Sudahlah, ibu dan ketiga anak ibu tinggal di rumah saya. Bantu-bantu pekerjaan dapur seadanya. Insya allah, suami saya juga akan merasa senang,"kata wanita cantik itu.

Ternyata suami wanita itu tak kalah ramah. Meskipun kaya raya, keduanya suka sekali memuliakan orang miskin dan anak yatim. Janda beserta ketiga anaknya merasa betah. Mereka terlindungi, cukup makanan dan pakaian. Bahkan ketiga anak yatim tersebut dimasukkan ke madrasah agar mendapat pendidikan yang baik.

Read more: Kisah Hikmah...

Umar Bin Abdul Aziz, Khalifah Di Balik Reformasi Ekonomi Umat

Umar Bin Abdul Azis muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah, yang pada saat itu dikenal dengan gaya hidup yang mewah, boros dan korupsi.

Khalifah sebelumnya, Abdul Malik Bin Marwan telah mangkat. Kebingungan menyelimuti benak Umar bin Abdul Azis. ia tidak cukup punya keberanian diagkat menjadi khalifah. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri bagian dari persoalan dinasti tersebut.

Ketika Umar dilantik menjadi khalifah, ia berkata kepada Ulama Al Zuhri yang duduk disampingnya,"Aku benar-benar takut pada neraka."Umar sadar ia tidak mungkin melakukan perbaikan dalam tataran negara kecuali ia berani memulainya dari diri sendiri dan keluarga. Dengn tekad besar itulah Umar memulai reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Begitu selesai dilantik, Umar memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara. Tak terkecuali pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badannya yang semula kekar berisi menjadi kurus.

Selesai dengan dirinya, berikutnya keluarga. Ia berikan dua pilihan kepada sang istri,"Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita bercerai." Fatimah binti Abdul Malik, sang istri memilih mematuhi suaminya.

Langkah itu juga berlaku untuk anak-anaknya. Suatu saat putra-putrinya protes. Sejak Umar menjadi Khalifah, mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat seperti sebelumnya. Umar justru menangis tersedu-sedu, lalu memberikan dua pilihan ke[ada anak-anak,"Saya beri kalian makanan enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan ayahmu ini ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama-sama.

Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan pejabat-pejabatnya yang menjadi bawahannya. Ia perintahkan untuk menjual semua aset-aset mewah di istana, dan mengembalikan ke kas negara. Lalu ia mencabut semua fasilitas mewah yang selama ini diberikan kepada pejabat istana dan keluarga satu persatu. Tak ayal, keluarga istana pun melakukan protes keras.

Read more: Umar Bin Abdul...

Mu'adz bin Jabal, Cendekiawan Muslim Yang Ahli Fiqih

Saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengambil bai'at dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua terdapat para utusan yang terdari atas 70 orang itu. Diantara mereka terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangan menarik serta sikapnya yang tenang. Itulah Mu'adz bin Jabal ra.

Ia termasuk tokoh dari kalangan Anshar yang ikut bai'at pada perjanjian Aqabah kedua hingga ia termasuk Assabiqunal Awwalun (golongan yang pertama masuk Islam). Selain itu, kelebihan yang paling menonjol dan keistimewaannya yang utama adalah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya tersebut mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah dengan sabdanya,"Umatku yang paling tahu akan yang halal dan haram yaitu Mu'adz bin Jabal."

Sehubungan dengan kecerdasan otak dan keberaniannya dalam mengemukakan pendapat, hampir sama dengan Umar bin Khattab. Ketika Rasulullah hendak mengirimnya ke Yaman, terlebih dahulu Rasulullah menanyainya," Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu ya Mu'adz?"

Read more: Mu'adz bin Jabal,...