Ummu Abdi memandangi putranya dengan haru. Sekilas senyuman membayang di bibirnya. Di hadapannya, sang putra yang memasuki usia remaja, Abdullah bin Mas'ud, memperlihatkan memar di wajahnya dengan penuh kebanggaan. Betapa tidak, tadi dengan berani dia membacakan beberapa ayat dari surat Ar Rahman di hadapan Abu Jahal, Uqbah bin Abu Mu'aith, an-Naddhr bin al-Harits, dan Ubay bin Khalaf, para pembesar Quraysy yang sangat membenci ajaran Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Tak pelak, tindakan itu membuat mereka geram. Spontan mereka menampari Abdullah hingga pipinya memar dan berdarah. Peristiwa itu sempat menggegerkan Mekkah.

Kebanggaan Ummu Abdi pada anak sulungnya memang tiada pernah surut. Ada saja kejutan yang diberikan Abdullah untuknya. Hingga satu kejutan yang mengubah jalan hidup mereka.

Sebelumnya, Ummu Abdi sempat bingung memikirkan nasib keluarganya. Suaminya, Mas'ud bin Ghofil, telah lama meninggal dunia dan tak mewariskan harta sedikitpun. Ia berjuang sendirian untuk menghidupi kedua anaknya, Abdullah dan Utbah. Dan hari itu Ummu Abdibenar-benar kehabisan akal memikirkan cara mendapatkan sedikit uang untuk keperluan hidup mereka. Merasakan kesulitan sang ibu, Abdullah tak tinggal diam. "Ummi, aku bisa bekerja sebagai penggembala kambing di kota Mekkah."ujarnya. Ah, mungkin memang itu jalan keluarnya. Ummi Abdi pun memberi izin pada Abdullah menjadi penggembala kambing Uqbah bin Mu'aith, seorang tokoh Quraisy. Ia mendapat gaji sebesar 2 dirham, yang amat besar nilainya bagi keluarga itu.

 

Setelah beberapa waktu bekerja, Abdullah pulang guna menyampaikan sebuah berita pada ibunya. "Aku telah memeluk Islam, Ummi," kata Abdullah mantap.

Bagai petir di siang bolong, berita itu sungguh mengejutkan Ummi Abdi. Bagaimana mungkin anaknya telah jadi pengikut Muhammad, mengikuti ajaran yang paling dibenci penduduk Mekkah saat itu?

"Apakah yang diserukan Muhammad? Kepada apa ia mengajak manusia?" Pertanyaan beruntun ia lontarkan pada putranya.
"Beliau mengajak kepada kebaikandunia dan akhirta. Ia mengajak kepada kemuliaan akhlak, menyeru yang ma'ruf dan mencegah yang munkar dan mengajak manusia untuk menyembah Tuhan Yang Esa."
"Lalu bagaimana dengan tuhan kita selama ini?" Ummi Abdi masih tak yakin anaknya telah masuk Islam.
"Itu hanyalah batu yang tidak dapat membahayakan dan tidak pula memberi manfaat,"jelas Abdullah.

Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya dijawab dengan sangat memuaskan. Mendengar semua itu, naluri kebenaran muncul pada diri Ummu Abdi. Apa yang dikatakan anaknya memang benar adanya. Pemikirannya yang mulai terbuka mendorongnya menanyakan satu pertanyaan lagi.
"Apa yang mesti aku lakukan untuk menjadi pengikut Muhammad?"
"Ucapkanlah, aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusannya." Abdullah membimbing ibunya dengan haru. Akhirnya mereka bisa bersama dalam iman.

Sungguh, Ummu Abdi tak pernah berhenti bersyukur kepada Allah yang telah mengarunianya seorang putra seperti Abdullah bin Mas'ud. Anak yang telah membelanya di kehidupannya kelak di akhirat. Di kemudian hari Abdullah bin Mas'ud menjadi salah seorang tokoh pembela Islam dan ahli tafsir kenamaan.