Di Madinah, pada masa Rasulullah SAW, hiduplah seorang pemuda yang saleh yang bernama Khubaib bin Adi. Khubaib merupakan sosok yang sangat menyenangkan. Selain dia selalu sholat berjamaah dengan Rasulullah SAW, tetapi dia orang yang sangat tegas dalam bertindak, bersih hatinya, dan selalu ceria. Jadi tidak heran jika para sahabat begitu senang bergaul dengannya.

Ketika terjadi perang Badar, Khubaib termasuk ke dalam golongan kaum muslim yang ikut berperang. Dia begitu tangkas dalam memainkan pedang. Begitu banyak korban yang tewas akibat sabetan pedang Khubaib, salah satunya adalah pemimpin Quraisy Harits bin Amir.

Ketika mengetahui pemimpinnya tewas di tangan Khubaib, maka orang-orang Quraisy mengancam akan membunuh Khubaib. Mereka pun semakin dendam dengan kaum muslim. Ketika perang Badar telah usai, kaum muslim kembali ke Madinah, dan kaum Quraisy kembali ke Makkah. Orang-orang kafir Quraisy segera memberitahu anak-anak Harits, tentang kematian ayah mereka.
"Khubaib telah membunuh Harits, balaslah kematian ayah kalian, "kata salah seorang pemimpin kafir Quraisy.

Sejak saat itu, nama Khubaib selalu diingat oleh keluarga Harits dan orang-orang kafir Quraisy lainnya. Kaum kafir Quraisy tak henti-hentinya membuat rencana jahat terhadap kaum muslim. Karena itulah Rasulullah SAW mengirimkan 10 orang sahabat untuk menjadi mata-mata. Kelompok ini dipimpin oleh 'Ashim bin Tsabit. Khubaib ikut dalam kelompok tersebut.

Maka berangkatlah 10 orang sahabat ke Mekkah. Mereka tiba di desa Osfan yang terletak tidak jauh dari Mekkah, Di desa tersebut mereka beristirahat sejenak. Tapi sayangnya, keberadaan para sahabat diketahui oleh kaum kafir Quraisy. Orang kafir Quraisy segera mengirimkan pasukan pemanah dari Bani Haiyan. Pasukan pemanah itu mengepung tempat istirahat para sahabat. Komandan pasukan itu memerintahkan anak buahnya untuk menangkap orang-orang yang dicurigai. Salah seorang dari sahabat yaitu Zaid bin Ditsinah, memergoki salah seorang anggota pasukan Bani Haiyan. Ia segera melapor ke 'Ashim. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di bukit. Pasukan Bani Haiyan kehilangan jejak. Komandan pasukan itu segera menyebar anak buahnya ke segala penjuru.

Tiba-tiba salah seorang anggota pasukan Bani Haiyan menghadap kepada komandannya.
"Tuan, saya menemukan biji-biji kurma ini berceceran di ujung sana. Kalau kita teliti, biji kurma ini berasal dari kurma yang hanya ada di Madinah, barangkali ini bisa kita jadikan petunjuk," kata anggota itu.
"Ya, mari kita berjalan mengikuti arah biji-biji kurma itu!" ujar komandan Bani Haiyan.
Mereka terus berjalan mengikuti arah biji kurma itu. Dan biji kurma itu mengarah ke atas bukit persembunyian para sahabat. AKhirnya pasukan Bani Haiyan diperintahkan untuk mengepung bukit itu. Seluruh pasukan pemanah menyebar mengelilingi bukit Osfan seperti perintah sang komandan.
"Hai orang-orang Madinah, menyerahlah. Kalian sudah dikepung. Tidak ada gunanya kalian melawan!" seru komandan Bani Haiyan.
"Kami tidak akan menyerah kepada kaum kafir. Ya Allah, sampaikan keadaan ini kepada Nabi-MU!" teriak 'Ashim.
"Serbu......!"teriak komandan Bani Haiyan.

Pasukan pemanah segera melepaskan anak panahnya kepada kelompok kaum muslim. Satu demi satu anggota mata-mata kaum muslim tertusuk panah beracun milik pasukan Bani Haiyan. Mereka syahid seketika. Tinggallah tiga orang yang masih hidup. Mereka adalah Khubaib, Zaid dan datu lagi temannya.
"Hai, kalian bertiga, jika kalian mau turun, kami akan melindungimu!" kata komandan Bani Haiyan. Ketiga orang itu turun. Mereka pura-pura menyerah. Mereka telah berjanji tidak akan membocorkan rahasia kaum muslim kepada kaum Quraisy. Ketika ketiganya turun, mereka melihat tentara Bani Haiyan mengeluarkan tali. Dan pada saat itu juga sebuah anak panah melesat ke dada teman Khubaib, syahidlah ia seketika. Melihat temannya ambruk akibat panah tentara Bani Haiyan, Khubaib dan Zaidn hendak menyambar pedang yang terselip di pinggangnya. Tapi tidak terburu, karena pasukan Bani Haiyan sudah lebih dulu mengikat kedua tangan mereka.

Akhirnya Zaid dan Khubaib dibawa ke Mekkah. Sesampai di Mekkah, komandan Bani Haiyan mengarak mereka di sepanjang jalan. Tiba-tiba seorang pemuda menghadang arak-arakan itu.
"Tuan, apakah orang itu Khubaib?" tanya pemuda itu.
"Siapa kau anak muda?"
"Saya anak Harits bin Amir."
"Benar, dia adalah pembunuh ayahmu."
"Kalau begitu saya akan membelinya," kata anak muda itu sambil menyerahkan sekantong uang kepada komandan.
Sejak saat itu, Khubaib menjadi budah di keluarga Harits. Sementara Zaid dibawa ke tempat penyiksaan oleh pasukan bani Haiyan. Zaid disiksa dengan keji, sampai akhirnya Zaid mati syahid. Kaum Kafir Qurraisy meninggalkan mayat Zaid di tengah padang pasir yang panas.
"Biar mayatnya jadi santapan burung," demikian kata komandan.
"Tuan apa tidak sebaiknya, kematian orang ini dikabarkan ke Khubain. Barangkali setelah mengetahui temannya mati, Khubaib mau menyerah," usul seorang anggota pasukan.

Usul itu pun disetujui komandan Bani Haiyan. Di rumah Harits, Khubaib diikat di tiang salib di sebuah kamar gelap. Setiap hari Khubaib dicambuki oleh anak-anak Harits. Khubaib tidak diberi makan atau minum. Pada suatu hari putri Harits melihat Khubaib di ruang tahanannya. Putri Harits kaget mendapati buah anggur di tangan Khubaib.
"Dari mana kau mendapatkan anggur ini? BUkankah sekarang bukan musim anggur? tanya putri Harits.
"Inilah rizki dari Allah Tuhan Yang Maha Pemurah,"kata Khubaib. Putri Haritsbergegas meninggalkan Khubaib. Dia memberitahukan kejadian itu kepada punduduk Mekkah.
"Lihatlah ke sana. Sungguh Khubaib telah mendapat makanan dari Tuhannya," teriak putri Harits.
Para penduduk Mekkah beramai-ramai mendatangi tempat Khubaib ditahan, mereka takjub melihat Khubaib makan anggur dengan nikmat.
"Hai Khubaib, darimana kau mendapatkan anggur?" tanya anak Harits, lalu Khubaib membaca surat Ali Imramn ayat 37 yang artinya: ... setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di Mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: "Hai Maryam dari mana kau peroleh makanan ini?" Maryam menjawab,"Makanan ini datang dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

"Jelaskah sekarang tuan. Allah Tuhan kami, tidak akan membiarkan hamba-Nya yang beriman. DIa akan selalu menolongnya,"kata Khubaib. Anak-anak Harits marah besar. Mereka beramai-ramai menyeret tubuh Khubaib ke luar ruang tahanan. Tubuh Khubaib dibawa ke padang Tan'in. Lalu mereka beramai-ramai mencabuki tubuh Khubaib. Walau tubuh Khubaib telah terluka parah akibat siksaan keluarga Harits dan kaum kafir Quraisy, tetapi Khubaib tetap tidak mau menyerah dan tetap menyintai Allah dan Rasul-Nya melebihi tubuhnya sendiri.Akhirnya keluarga Harits dan kaum kafirĀ  Quraisy putus asa. Mereka semua heran, mengapa Khubaib masih hidup, padahal tubuhnya telah hancur. Akhirnya mereka memutuskan untuk segera membunuh Khubaib.
"Khubaib, kami akan segera membunuhmu, adakah pesan yang hendak kau sampaikan kepada keluargamu?" tanya anak Harits.
"Beri aku waktu sholat,"pinta Khubaib. Mereka pun mengijinkan. Lalu, Khubaib pun sholat dua rakaat. Dia berdoa kepada Allah. Dalam doanya, Khubaib meminta agar Allah menyusutkan jumlah orang-orang itu.
Setelah itu, lebih dari sepulu orang melesatkan anak panahnya ke arah Khubaib. Dalam waktu sekejap tubuh Khubaib penuh dengan anak panah. Sebelum meninggal, Khubaib masih sempat berdoa kepada Allah. "Ya Allah, kami telah melaksanakan tugas dari Rasul-Mu. Sampaikanlah kepada Rasul-Mu bahwa kami telah melaksanakan tugas, doa Khubaib.
Allah mengabulkan doa Khubaib. Keesokan harinya, di Madinah Rasulullah SAW merasakan telah terjadi peristiwa besar.
"Saya merasa, Khubaib dan teman-temannya dalam bahaya. Zubair dan kau Miqdad, berangkatlah ke Mekkah. Carilah kabar sahabat-sahabat kita!" perintah Rasulullah. "Baik Rasulullah," jawab kedua sahabat itu.
Kedua sahabat itu segera melarikan kudanya sekencang-kencangnya. Atas petunjuk Allah, kedua sahabat itu, sampai di tempat mayat Khubaib. Kedua sahabat itu segera menguburkan mayat Khubaib. Bumi yang suci telah menanti hadirnya jasad pahlawan yang mulia. Allah telah memilihnya menjadi teladan bagi umat manusia.