Dikisahkan seorang sahabat Rasulullah saw yang bernama Julaibib ra memiliki perawakan kurang bagus, dan tidak memiliki banyak harta. Meskipun demikian, Julaibib sangat dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ketakwaan yang ada pada dirinya. Pada suatu hari  Rasulullah berkeinginan untuk menikahkan Julaibib  dengan putri salah seorang sahabat Anshar. Oleh karenanya Rasulullah saw mendatangi rumah sahabat Anshar itu dan meminta putrinya untuk menikah dengan beliau.

Tanpa berpikir panjang sahabat Anshar segera menerima tawaran Rasulullah. Sahabat Anshar berpikir bahwa hal ini merupakan kesempatan yang sangat berharga, dan suatu kebanggaan tersendiri baginya dan keluarganya ketika terjalin hubungan dengan Rasulullah saw. Akan tetapi, Rasulullah menjelaskan, bahwa pinangan ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk Julaibib ra.  Sontak saja, sahabat Anshar kaget mendengarnya. Dengan rasa kebingungan sahabat Anshar menjawab untuk mendiskusikan terlebih dahulu dengan istrinya.

Pergilah sahabat ini menemui istrinya. Terlintas di benaknya, apa kata orang jika putriku menikah dengan Julaibib ra ?! Bagaimana martabat keluarganya?!

 

Setelah bertemu dengan istrinya, iapun menceritakan pinangan Rasulullah. Tetapi pinangan itu bukan untuk Rasulullah melainkan untuk Julaibib ra. Mendengar perkataan suaminya, sang istri segera menolak pinangan itu. Mereka enggan memiliki seorang menantu seperti Julaibib ra yang tidak memiliki apa-apa.

Percakapan itu ternyata terdengar oleh putri sang sahabat Anshar. Ketika ayahnya hendak beranjak pergi untuk menolak pinangan Rasulullah saw, sang putri malah mencegah ayahnya untuk melakukan hal itu.  Dengan tegas putrinya menjawab, "Apakah kalian menolak perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Tidakah kalian mendengar firman Allah Al-Ahzab ayat 36 ,” Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” Terimalah pinangan itu, karena ia tidak akan menyia-nyiakanku. Ketahuilah, aku tidak akan menikah kecuali dengan Julaibib ra !"

Mendengar penuturan putrinya, maka pergilah sahabat itu menghadap Rasulullah saw. Sesampai di hadapan Rasulullah, iapun berkata: "Wahai, Rasulullah! Aku menerima pinanganmu. Nikahkanlah putriku dengan Julaibib ra ".

Mendengar bahwa pinangan tersebut telah diterima, membuat Julaibib begitu bahagia. Namun, kiranya angan-angan itu serasa hilang, ketika panggilan jihad megetuk hatinya. Karena pada saat yang bersamaan, Rasulullah saw memerintahkan kepada kaum muslimin agar berjihad di jalan Allah. Julaibib ra dalam kebimbangan. Ia bingung manakala harus memilih antara istri shalihah, kebahagiaan, atau mati shahid yang selama ini dicita-citakannya?! Akhirnya, ternyata kerinduan terhadap mati syahid di medan perang menjadi pilihannya.

Maka berangkatlah Julaibib ra menuju medan perang. Dia tinggalkan calon istrinya yang shalihah dan kebahagiaan yang akan segera ia peroleh, demi menyambut panggilan Rabbnya, yaitu berjihad di jalan-Nya.

Sudah menjadi kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sangat memberi perhatian kepada para sahabatnya usai peperangan. Biasanya beliau saw menanyakan siapa saja yang syahid dalam peperangan itu.

Rasulullah saw bertanya kepada para sahabatnya: "Siapa saja yang gugur di jalan Allah?"

Mereka menjawab: " Fulan dan fulan, wahai Rasulullah".

Mereka tidak menyebutkan nama yang dicari oleh Rasululluh saw, yakni Julaibib ra. Maka Rasulullah saw kembali menanyakan kepada para sahabat, dan jawaban mereka sama.

Kemudian beliau saw berseru: "Sesunguhnya aku telah kehilangan salah seorang sahabatku, Jualaibib. Carilah ia!"

Para sahabat segera mencari jasad Julaibib ra. Dan mereka mendapatkan jasadnya tersungkur. Di sekelilingnya terdapat tujuh jasad orang kafir. Segeralah para sahabat memberitahukan kepada Rasulullah tentang Julaibib ra, maka Rasulullah saw segera menghampiri jasadnya. Rasulullah berdiri di sampingnya dan bersabda: " Dia telah membunuh tujuh orang ini, kemudian mereka membunuhnya. Sesungguhnya, ia adalah aku, dan aku adalah dia". Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali. Kemudian, dengan penuh lemah lembut dan kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jasadnya dan menyandarkan di lengannya.

Para sahabat mempersiapkan liang lahat untuknya, dan Rasulullah terus menyandarkan jasad Julaibib Radhiyallahu anhu di lengannya, sampai akhirnya ia di kuburkan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya.

Disadur dari majalah As-Sunnah Edisi 06/Tahun XII/1429H/2008M.