Alkisah, seorang pejuang yang bernama Umair bin Saad ditunjuk oleh khalifah Umar bin Khattab untuk menjadi gubernur Hims. Sejak menjabat sebagai gubernur, dan berjalan hingga  satu tahun, Umair bin Saad belum pernah sekalipun memberi kabar apapun kepada Khalifah Umar di Madinah.

Bahkan, menurut informasi yang di terima oleh khalifah Umar, Gubernur Umair bin Saad belum pernah menyetorkan pajak satu dinar atau satu dirham pun ke Baitul Mal di Madinah selama dia menjabat. Hal inilah yang membuat banyak orang terheran-heran tidak terkecuali Khalifah Umar juga menaruh curiga pada Umair bin Saad. Adatanda tanya besar dalam hati Khalifah Umar bin khattab dan khawatir bila ada masalah dengan pemerintahan Umair.

Lalu, ia memerintahkan sekretaris negara untuk menulis surat kepada Gubernur Umair. ''Katakan kepadanya, bila surat ini sampai di tangan Anda, tinggalkanlah Hims dan segeralah menghadap Amirul Mukminin.Jangan lupa membawa sekalian pajak yang Anda pungut dari kaum muslimin.''

Selesai surat tersebut dibaca oleh Gubernur Umair, maka diambilnya kantong perbekalan dan diisinya tempat air untuk persediaan air wudhu dalam perjalanan. Lalu, dia berangkat meninggalkan Hims. Dia pergi mengayun langkah menuju Madinah dengan berjalan kaki.

Ketika hampir tiba di Madinah, keadaannya pucat (karena kurang makan dalam perjalanan), tubuhnya kurus kering dan lemah, rambut dan jenggotnya sudah panjang, dan dia tampak sangat letih karena perjalanan yang begitu jauh.

Khalifah Umar yang terkejut melihat keadaan Umair dan mempertanyakan keadaannya. Jawab Umair, ''Tidak kurang suatu apa pun. Saya sehat, alhamdulillah, saya membawa dunia seluruhnya, saya tarik di kedua tanduknya.'' Khalifah Umar melanjutkan pertanyaannya, ''Dunia manakah yang Anda bawa?'' Umair menjawab, ''Saya membawa kantong perbekalan dan tempat air untuk bekal di perjalanan, beberapa lembar pakaian, air untuk wudhu, untuk membasahi kepala, dan untuk minum. Itulah seluruh dunia yang saya bawa. Yang lain tidak saya perlukan.''

Khalifah Umar tak menghentikan pertanyaannya. Gubernur Umair pun selalu memberi jawaban.

''Apakah Anda datang berjalan kaki?''

''Betul, ya Amirul Mukminin''

''Apakah Anda tidak diberi hewan kendaraan oleh pemerintah?''

''Tidak, mereka tidak memberi saya dan saya tidak pula memintanya dari mereka.''

''Mana setoran pajak yang Anda bawa untuk Baitul Mal?''

''Saya tidak membawa apa-apa untuk Baitul Mal''

''Mengapa?''

''Setibanya di Hims, saya kumpulkan penduduk yang baik-baik, lalu saya perintahkan mereka memungut dan mengumpulkan pajak.

"Setiap kali mereka berhasil mengumpulkannya, saya bermusyawarah dengan mereka, untuk apa harta itu harus digunakan dan bagaimana cara membagi-bagikannya kepada yang berhak.''

Mendengar penjelasan demikian, Khalifah Umar lantas memerintahkan untuk memperpanjang masa jabatan Umair sebagai Gubernur Hims.

Namun, Umair menolaknya. ''Maaf Khalifah, saya tidak menghendaki jabatan itu lagi. Mulai saat ini saya tidak hendak bekerja lagi untuk Anda atau untuk orang lain sesudah Anda, wahai Amirul Mukminin.'' Umair pun minta izin untuk pergi ke sebuah dusun di pinggiran kota Madinah dan akan menetap di sana bersama keluarganya.

Di sana ia hidup sangat sederhana dan bahagia hingga ajal menjemputnya. Ketika Khalifah Umar mendengar kematian Umair, ia berduka sangat dalam. Ia berkata, ''Saya membutuhkan orang-orang seperti Umair bin Saad untuk membantu saya mengelola masyarakat kaum muslimin.''