Di tahun keseratus hijriyah, ada seorang ahli ibadah yang begitu wara' dan zuhud. Beliau adalah Fudhail bin Iyadh. Ia ingin menebus kekhilafannya di masa lalu dengan tinggal di Baitul Haram. 

"Ya Allah, sungguh aku telah bertaubat kepada-Mu, dan aku jadikan taubatku dengan tinggal di Baitul Haram," begitu tekad Fudhail yang begitu kuat. 

Sejak saat itu, Fudhail menyibukkan diri dengan ibadah di Masjidil Haram. Ia kerap menangis menyesali dosa-dosa yang pernah dibuat. Sedemikian seringnya menangis, hingga kedua pipinya terbentuk celah bekas aliran air mata. 

Pernah suatu hari, Fudhail menghadang orang-orang di daerah antara Abu warda dan Sirjis. Awal mulanya dia pernah terpikat pada seorang wanita. Suatu malam ia menyelinap ke rumah wanita tersebut, ketika dia memanjat tembok, tiba-tiba saja ia mendengar seseorang membaca ayat:

“Belum datangkah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka guna meningat Alah serta tunduk kepada kebenaran yang tleh turun kepada mereka dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah turun Al Kitab kepadanya, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras, dan mayoritas mereka adalah orang-orang yang fasiq (QS Al Hadid 16)

 

Tatkala mendengarnya Fudhail gemetar dan berkata, “ Tentu saja wahai rabb ku. Sungguh telah tiba saatku (untuk bertaubat). Beliau pun turun ke reruntuhan bangunan, tempat beliau tinggal. Tiba-tiba saja sekelompok orang yang lewat. Sebagian mereka berkata, “Kita jalan terus!” dan sebagian yang lain berkata,” Kita jalan terus sampai pagi, karena biasanya Fudhail menghadang kita di jalan ini,” fudhail menceritakan ,”Kemudian aku merenung dan bergumam.” aku menjalani kemaksiatan-kemaksiatan di malam hari dan sebagian dari kaum muslimin ketakutan kepadaku, dan tidaklah Allah menggiringku kepada mereka ini melainkan agar aku bertaubat kepadaMu dan aku jadikan taubat itu denga tinggal di Baitul Haram.

Ayat itulah yang menyadarkan seorang Fudhail bin Iyadh dari kelalaian yang panjang. Hingga akhirya beliau menjadi ulama senior di kalangan tabi’in, sekaligus dikenal sebagi ahli ibadah yang zuhud. Ia pun menjaga keluarganya dari makanan yang subhat. Ia menolak semua hadiah dari bangsawan dan raja-raja yang kebetulan berkunjung ke Baitul Haram. Fudhail lebih senang menghidupi keluarganya dengan mengurus air di Makkah. 

Namun ia tidak menyangka kalau semua itu belum apa-apa. Kesalehan yang selama ini ia jaga ternyata masih jauh dari yang semestinya. Itulah sebuah pelajaran yang didapat Fudhail. Setelah bertemu dengan ulama hadits besar, Abdullah Ibnu Mubarak.

Sebuah untaian kalimat ditulis Abdullah Ibnu Mubarak khusus buat sahabatnya tercinta, Fudhail bin Iyadh:

"Wahai 'abid Al-Haramain, seandainya engkau memperhatikan kami, engkau pasti tahu bahwa selama ini engkau hanya main-main dalam beribadah. Kalau pipi-pipi kalian basah dengan air mata, maka leher-leher kami basah bersimbah darah. Kalau kuda-kuda kalian letih dalam hal yang sia-sia, maka kuda-kuda kami letih di medan laga. Semerbak wanginya parfum, itu untuk kalian, sedangkan wewangian kami pasir dan debu-debu. Telah datang Al Quran kepada kita menjelaskan, para syuhada tidak akan pernah mati, dan itu pasti."

Usai membaca surat itu, Fudhail meneteskan air matanya. Ia pun mengatakan,"Engkau benar, Ibnu Al Mubarak. Demi Allah, engkau benar!" Dan kini obsesi Fudhail untuk kehidupan akhirat semakin tinggi.