Seorang janda miskin membawa tiga anak kandungnya, berjalan tertatih-tatih di kota Bashrah. Dia sedang mencari pekerjaan halal untuk kehidupan sehari-harinya. Namun, semua pintu rumah orang-orang kaya di kota itu tertutup rapat, termasuk rumah gubernur yang banyak dikunjungi tamu-tamu kaya.

Gubernur sendiri datang ke gerbang untuk mengusir janda miskin beserta ketiga anaknya yang yatim. Orang-orang yang menyaksikan tindakan gubernur tertawa bahagia. Mereka seolah sepakat, orang miskin tak boleh tampak di depan mata mereka.

Sambil menangis penuh kepedihan, janda miskin itu segera menjauh, ia tiba-tiba teringat firman Allah SWT, surat Al Ma'un ayat 1-3 yang sering dibaca bersama almarhum suaminya, baik pada waktu sholat dan tadarus. "Tahukah kamu (orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."

Ketika melepas lelah di bawah pohon, tiba-tiba seorang wanita cantik datang menyapa mereka dengan ramah. Terjadilah obrolan singkat. janda miskin itu pun mengutarakan nasibnya tanpa tedeng aling-aling.
"Sudahlah, ibu dan ketiga anak ibu tinggal di rumah saya. Bantu-bantu pekerjaan dapur seadanya. Insya allah, suami saya juga akan merasa senang,"kata wanita cantik itu.

Ternyata suami wanita itu tak kalah ramah. Meskipun kaya raya, keduanya suka sekali memuliakan orang miskin dan anak yatim. Janda beserta ketiga anaknya merasa betah. Mereka terlindungi, cukup makanan dan pakaian. Bahkan ketiga anak yatim tersebut dimasukkan ke madrasah agar mendapat pendidikan yang baik.

Beberapa waktu kemudian, suatu malam Gubernur Bashrah mendapat mimpi aneh. Ia merasa berada di suatu tempat di alam akhirat. Dilihatnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam berdiri di depan istana megah. Memegang panji bertuliskan "Al Hamid" satu nama "Asmaul Husna" milik Allah SWT, yang berarti terpuji.

"Milik Andakah wahai Ya Rasulullah, istana megah ini?"tanyaa Gubernur Bashrah. "Bukan, istana ini milik suami istri yang telah mengasihi seorang janda miskin beserta tiga anaknya yang yatim. Engkau juga seharunya dapat memiliki istana semegah ini, tetapi engkau telah menampiknya dengan mengusir seorang janda miskin dan ketiga anaknya yang yatim,"jawab Rasulullah.

Tiba-tiba Gubernur Bashrah teringat kepada tindakannya mengusir janda miskin dan tiga anaknya dari gerbang rumahnya. Saat itu pula ia terbangun dan segera keluar mencari informasi tentang seorang janda miskin dan ketiga anaknya, ia ingin mengurusnya, agar dapat memperoleh istana megah.

Akhirnya, ia berhasil menemukan tempat tinggal janda dan ketiga anaknya kepada pemilik rumah, gubernur berterus terang menyatakan keinginan mengurus janda dan ketiga anaknya. Bahkan bersedia memberi ganti rugi sebesar apapun juga.

"Oh, tidak!" demikian kata pemilik rumah.
"Aku sudah merasakan manfaat dan kebahagiaan mengurus janda miskin dan tiga anak yatim itu. Berkah Allah SWT melimpah kepada kami sekeluarga berupa kesehatan, kesejahteraan, ketenangan dan berbagi keuntungan serta kenikmatan lainnya. Kepadaku Allah SWT berkenan memperlihatkan gambaran istana megah di akhirat kelak, di bawah naungan panji "Al Hamid" yang dikibarkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, yang harganya tak ternilai leh apapun juga. Termasuk oleh harta ganti rugi dari seorang gubernur,"lanjut pemilik rumah.

Sumber: Kitab Irsyadul Ibad Ila Sabili Rasyad Karya Syekh Zainudin al Malibari