Seringkali kita melihat seseorang itu diistimewakan atau ingin diperlakukan istimewa hanya karena orang itu mempunyai kedudukan, jabatan atau status sosial yang "lebih tinggi" dibandingkan yang lainnya. Hal ini menyebabkan orang-orang yang "lebih rendah" kedudukannya seperti tidak memiliki hak apa-apa dan seperti diperlakukan tidak adil dalam hidupnya. Hal seperti ini tidak hanya terjadi sekarang saja, tetapi sejak dari dulu pun keistimewaan seperti ini sudah terjadi.

Pada masa itu, perlindungan merupakan salah satu adat di antara tradisi-tradisi Arab yang paling dihormati. Sekiranya ada seorang lemah yang berada dalam perlindungan seorang pemuka Quraisy, maka dia akan berada dalam suatu pertahanan yang kokoh. Darahnya tak boleh ditumpahkan dan keamanan dirinya tak perlu dikhawatirkan.

Tentu saja tak banyak orang yang bisa beroleh keistimewaan semacam ini. ‘Utsman ibn Mazh’un termasuk di antara yang sedikit itu. Dia berada di dalam kota Makkah dalam keadaan sentausa, menyeberangi jalan-jalannya, menyusuri lorong-lorongnya tanpa khawatir akan kezhaliman dan marabahaya.

Tetapi ‘Utsman ibn Mazh’un adalah lelaki yang hidup dalam bimbingan wahyu dan tempaan tarbiyah Sang Nabi. Dia senantiasa memperhatikan sekelilingnya. Ada kerisauan yang mencucuk-cucuk di hati tatkala menyaksikan saudaranya sesama muslim terutama dari golongan miskin lagi lemah dianiaya. Mereka tak mendapatkan pembelaan dan tak satupun tokoh yang bersedia menjadi pelindung mereka.

Kekhususan yang dimilikinya, jadi terasa menyiksa.

Melihat saudara-saudaranya diterkam bahaya dari segala jurusan, diserang aniaya di semua jalan, dan disakiti setiap hari, hati ‘Utsman bergolak. Dia menjadi tak ridha atas ketenteraman yang dinikmatinya. Maka satu hari dia keluar dari rumahnya menuju ke Ka’bah dengan niat bulat untuk melepaskan segala perlindungan yang menaunginya dan menyerahkan diri hanya pada kuasa Allah ‘Azza wa Jalla.

Ditemuinya sang paman, Al Walid ibn Al Mughirah. “Wahai Abul Walid”, katanya, “Cukuplah sudah perlindungan yang telah kauberikan. Mulai saat ini kulepaskan segala jaminan keamananmu.” Sebakdanya, berlalulah ‘Utsman ibn Mazh’un hingga dia melintas di majelis orang-orang Quraisy yang sedang menikmati syair-syair Lubaid ibn Rabi’ah.

“Ingatlah bahwa segala di kolong langit selain Allah adalah fana!”, kata Lubaid.

“Engkau benar!”, cetus ‘Utsman.

“Dan segala kenikmatan pastilah sirna!”

“Engkau dusta”, potong ‘Utsman, “Nikmat surga itu kekal.”

Lubaid murka direcoki penampilannya. “Hai orang-orang Quraisy! Tak pernah aku sebagai teman duduk kalian disakiti oleh orang dungu semacam ini! Hai Qurasiy, bagaimana sikap kalian jika hal ini sampai terjadi?”

Tak ayal berdirilah beberapa orang kuat dari majelis itu dan menghantamkan tinjunya tepat di mata ‘Utsman hingga dia terjungkal. Kelopaknya pecah. Mata itu bonyok berdarah.

“Wahai putra saudaraku”, seru Al Walid ibn Mughirah, “Andai kau masih dalam lindunganku, takkan berani mereka menyentuh kulitmu!”

“Tak apa wahai Paman, ini bukanlah kemalangan.”

“Aduhai andai kulindungi, mata itu takkan terluka!”

“Bahkan mata yang satu lagi ini iri untuk mendapatkan luka yang sama di jalan Allah wahai Paman!”

Dalam jalan iman dan persaudaraan, seringkali ada keistimewaan yang justru indah jika kita tinggalkan. Saya teringat salah seorang gurunda bersahaja di Yogyakarta, Ustadz KH Ma'ruf Amary. Suatu kali, seusai sebuah acara, kami anak-anak muda bersama beliau berjalan kaki bersama dan hujanpun turun dengan deras.

Salah satu anak muda itu mengangsurkan payungnya untuk menaungi beliau dari terpaan hujan. "Tidak usah Akhi", ujar beliau. "Payung antum terlalu kecil. Pakailah sendiri." Senyumnya terkembang dalam wajah yang basah.

"Cukup kok Ustadz untuk berdua", sahut si anak muda.

"Ya", sahut beliau, "Tapi kurang lebar untuk kita semua. Payung itu hak Antum. Tapi biar saya bersama yang lain saja menikmati hujan ini. Allahumma shayyiban nafi'a."

Ah, kita teringat pula cerita 'Abdullah ibn Mas'ud. "Adalah kami bersama Rasulullah ? dalam suatu perjalanan", ujar beliau. "Ketika kami berhenti untuk beristirahat, kamipun berbagi tugas. Salah seorang di antara kami berkata, 'Aku akan menyembelih kambingnya'. Yang lain berkata, 'Aku yang akan mengulitinya'. Ada lagi yang berkata, 'Aku yang akan menyalakan apinya'. Dan ada pula yang berkata, 'Aku yang akan memasaknya'. Tiba-tiba Rasulullah ? bersabda, 'Aku yang akan mencari kayu bakarnya'.

Kami segera menyahut, "Biarkan kami yang mengerjakannya Ya Rasulallah."

Beliau ? tersenyum dan berkata, "Allah tidak suka melihat seorang hamba yang suka diistimewakan di antara kawan-kawannya."

Oleh : Salim A Fillah